Mengenal Lebih Jauh Kopi Lintong

Foto: Internet

Penulis : Mhd Fitrah Hidayat

Kopi sering disebut sebagai minuman sejuta umat karena hampir semua orang pernah meneguknya. Minuman ini dapat diminum oleh siapa pun, baik itu kalangan bawah, kalangan menengah, atau pun kalangan konglomerat. Pada saat sekarang, kopi dapat ditemukan di mana-mana, baik itu di warkop (warung kopi) atau pun di kafe.

Kopi adalah minuman hasil seduhan biji kopi yang diproses sangat panjang. Dimulai dari memanen biji kopi yang sudah matang, lalu menjemurnya di bawah matahari, setelah dijemur maka biji kopi akan disangrai dengan tingkat derajat yang bervariasi, dan setelah itu barulah biji kopi digiling atau dihaluskan menjadi bubuk kopi. Setelah menjadi bubuk, maka kopi dapat dinikmati.

Kopi merupakan salah satu komoditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dua jenis pohon kopi yang paling banyak ditanam di dunia, ialah kopi Robusta dan kopi arabika. Indonesia merupakan salah satu negara yang yang membudidayakan tanaman kopi, terbukti dari beberapa kopi Indonesia dikenal bahkan disukai oleh penikmat kopi di seluruh dunia. Salah satu kopi di antaranya adalah Kopi Lintong.

Kopi Lintong adalah kopi asli Sumatera Utara yang berasal dari dataran tinggi Lintong Ni Huta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Kopi Lintong bukanlah nama jenis kopi, seperti kopi Robusta dan arabika. Melainkan, Lintong adalah nama sebuah merek dagang yang dijual ke pasar domestik dan pasar internasional. Kopi ini ialah salah satu kopi yang mendunia dan sangat direkomendasikan untuk penikmat kopi.

Kepopuleran kopi ini hampir sama dengan kopi Lintong Berastagi, kopi Sumatera Mandailing, Sipirok, Gayo, dan kopi Sidikalang. Kopi Lintong adalah jenis kopi arabika lintong, atau bisa disebut dengan kopi Lintong. Kopi Lintong merupakan salah satu dari tiga merek kopi arabika yang terkenal di dunia, yang ditanam di Pulau Sumatera. Kopi Lintong memiliki aroma khas spicy, herba, rempah, serta kacang atau coklat.

Sejak tahun 1800-an, masyarakat di daerah Humbahas, Sumatra Utara diyakini sudah mengenal tanaman kopi. Bibitnya dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda dan ditanam dengan cara tanam paksa. Bibit yang dibawa oleh kolonial Belanda pada saat itu ialah jenis biji kopi arabika dan ditanam pada tahun 1800-an di Kecamatan Lintong Ni Huta, selain jenis kopi arabika, ternyata jenis kopi Robusta juga dibawa oleh kolonial Belanda pada saat itu, tetapi ditanam di kecamatan yang berbeda, yaitu Kecamatan Paraningan.

Bibit kopi arabika yang tumbuh dengan baik pada ketinggian diatas 1.000 meter di atas permukaan laut. Bukan hanya itu, bibit ini sangat baik karena pengaruh kondisi tanah yang subur akibat letusan Gunung Toba sekitar 73.000 tahun yang lalu. Akhirnya, bibit itu dikenal sebagai kopi Lintong. Kopi Lintong yang kualitasnya sudah tidak diragukan lagi oleh mancanegara, bahkan sekarang kopi Lintong dapat dibeli dari eiicommerce dunia.

Kopi Lintong awalnya hanyalah sebuah merek kopi yang dikhususkan untuk kopi yang berasal dari Kecamatan Lintong Ni Huta. Tetapi pada saat ini ada beberapa kopi yang menggunakan nama Lintong di kopinya, seperti Lintong Java dan Lintong Luwak. Padahal Lintong yang asli hanya berasal dari Kecamatan Lintong Ni Huta.

Masyarakat Pemerhati Kopi Arabika Sumatera Lintong (Maspekal) mengajukan atas upaya perlindungan indikasi geografis atas kopi Lintong kepada Direktorat Merek Ditjen Kekayaan Intelektual, dan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkuham). Di mana tujuan pengajuan ini ialah untuk memperoleh pengakuan asal-usul produk, sehingga terhindar dari pemalsuan dan nama Lintong terlindung sebagai merek kolektif masyarakat setempat. Pemberian sertifikasi ini untuk melindungi kopi Lintong, terkait rasa dan kualitas, serta petani, pengolah, dan pedagang kopi di masa depan.

Menurut Madre Coffe, kopi Lintong sudah menembus pasar Eropa dan menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan dari Sumatera Utara. Aroma dan rasa dari kopi lintong menjadi daya tarik berbagai negara di Asia seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan Hongkong. Begitu juga dengan negara yang ada di Eropa ,seperti Jerman, Belanda, dan Rusia.

Menurut Isner Manalu, Manajer Volkopi Indonesia, belum ada penolakan dari pasar dunia terhadap kopi Lintong, bahkan permintaannya diperkirakan meningkat. Kendati demikian pasar kopi tertinggi masih dipegang oleh kopi Gayo, namun kopi Lintong sudah memiliki tempat tersendiri di hati penikmatnya.

Editor: Maya Riski

 

 

 

Recent articles

Kuota Penerimaan Maba UM-Mandiri Direvisi

Medan, Dinamika Online – Untuk memenuhi 6.500 kuota mahasiswa baru (Maba) yang diterima tahun ini, pihak kampus merevisi total Maba yang diluluskan dari tes...

ASN UIN SU Ikut Berkurban di Hari Raya Iduladha

Medan, Dinamika Online - Sudah menjadi kewajiban umat muslim di seluruh dunia untuk memotong hewan kurban pada tanggal 10, 11, dan 12 Zulhijah dalam...

Kelompok KKN 65 Langsungkan Pawai Obor

Medan Dinamika Online - Memasuki 15 hari mengabdi pada masyarakat, Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 65 Kec. Medan Marelan, Kel. Tanah 600 melangsungkan Pawai...

Penerima Beasiswa UPZ Diwajibkan Hadir Serah Dana

Medan Dinamika Online – Mahasiswa yang telah dinyatakan menerima beasiswa Unit Pengumpul Zakat (UPZ) pada Kamis (8/8) lalu diwajibkan hadir pada 12 Agustus, tepatnya...

Pawai Obor, Kelompok KKN UIN SU Semarakkan Iduladha

Medan, Dinamika Online – Dalam menyambut Hari Raya Iduladha 1440 Hijriah, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN SU kelompok 82 di Desa Sei Rampah...

Kelompok KKN 105 UIN SU Gelar Gebyar Iduladha

  Medan, Dinamika Online - Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 105 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) menyemarakkan Iduladha 1440 Hijriah dengan menggelar Gebyar...

Tingggalkan Komentar Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.