Illustrasi: Muhammad Fathoni

Sore ini, tepat di kawasan sekitar kampus II UIN SU, terlihat banyak timbunan bongkahan semen serta puing-puing kayu bekas tebangan pohon. Suasana di sekitar kampus pun mulai terasa panas diakibatkan pohon yang sudah semakin sedikit. Hal ini dikarenakan UIN SU yang sedang gencar melakukan pembangunan gedung yang akan dijadikan kelas, namun  hal ini mengorbankan banyak pohon untuk kemudian ditebang. Selain itu, kondisi tanah semakin kekurangan pasokan air dan oksigen bersih yang kini tidak natural lagi, itu artinya ada pengalihan fungsi lahan dalam hal ini.

Kampus UIN SU memiliki bangunan tinggi, namun kurang penghijauan  disebabkan kurangnya lahan untuk mereboisasi tumbuhan hijau. Amril Mutho’i Harahap, yang merupakan mahasiswa semester VII jurusan BKI menyampaikan pendapatnya. “Kampus UIN SU memiliki gedung yang rapat, namun tidak ada tempat untuk bersantai. Kantin juga minim, sehingga kampus kita tergolong lebih kurang fasilitasnya, apalagi pepohonan yang sudah semakin minim mengakibatkan polusi udara, efeknya adalah tidak ada kesejukan lagi,” ungkapnya.

Mengingat kondisi kampus yang semakin minim dalam penghijauan, Boy Ramdhan Gea, mahasiswa jurusan Ekonomi Islam semester akhir beranggapan mengenai hal ini, “Penghijauan itu sangat perlu, pembangunan itu bagus untuk membuat mahasiswa semakin nyaman di kampus, tapi  penambahan fasilitas dan perlunya penghijauan itu harus balance,” ungkapnya.

Pembangunan di UIN SU yang sedang gencar-gencarnya ini bersifat sangat wajar, akan tetapi semakin bertambahnya bangunan, mengakibatkan semakin sempit pula kampus UIN SU, sebab lahan-lahan yang kosong akan diisi dengan bangunan-bangunan baru yang akan dijadikan kelas.

Dengan adanya penambahan gedung-gedung ini, alangkah baiknya jika semua dikelola dengan baik, dikelola secara universal sesuai dengan jargon UIN SU.  Kampus UIN SU sangat memerlukan penghijauan, sebab penghijauan itu sama dengan membuat kualitas udara semakin baik.

Sofryadi, mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester V memberikan perumpamaan mengenai keberlangsungan pembangunan gedung di lingkungan kampus dua, “Dalam pembangunan ini, istilahnya ada yang dilahirkan dan ada pula yang dikorbankan, sebab kampus kita sekarang ini lebih banyak gedung dari pada pepohonan, “ tanggapnya.

Lanjutan pembangunan gedung kuliah UIN SU yang berada di belakang gedung kuliah ke tiga Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) menghasilkan banyak polusi, asap dan debu yang melebar, sehingga jalan di sepanjang trotoar menimbulkan dampak bagi civitas akademika UIN SU.

Jika dikaji, dampak yang diakibatkan oleh pembangunan ini lebih dominan kepada dampak negatif, namun berbeda halnya dengan Muhammad Ali Luqman Lubis,  mahasiswa jurusan Akhwal as Syaksiyah semester V menilai ini dengan positive thingking, “Setiap apa yang diciptakan tak ada yang sia-sia,” ungkapnya bersama rekannya.

Dengan berlanjutnya pembangunan di kampus II ini, diharapkan dapat mewujudkan kampus UIN SU yang “Juara” sesuai dengan jargonnya yaitu “Juara”. Kampus UIN SU sangat memerlukan penghijauan, sebab penghijauan itu sama dengan membuat kualitas udara semakin baik. “Mari kita gerakkan komunitas menanam, agar UIN SU lebih giat dan bisa memperhatikan penghijauan, sebab penghijauan itu perlu.” Saran dari Muhammad Ali Luqman kepada mahasiswa.

Reporter         : Aisyah dan Rahmanuddin

Editor             : Shofiatul Husna Lubis