Hati-hati Salah Tempat Beri Nasihat, Malah Jadi Toxic Positivity!

(Foto/Dok. Panitia)

Kesehatan mental menjadi isu yang belakangan begitu santer kita dengar. Apalagi selama masa pandemi yang menimbulkan dampak dari berbagai sisi kehidupan. Tak hanya mengancam kesehatan fisik, pandemi juga menimbulkan masalah kesehatan mental, seperti kecemasan berlebihan, emosi yang susah terkontrol, stress hingga berujung depresi. Sayangnya penanganan kita terhadap mereka yang sedang dirundung gangguan kesehatan mental sering kali kurang tepat.

Berangkat dari situ, Komunitas Penerima Beasiswa Bank Indonesia yang tergabung dalam Generasi Baru Indonesia (GenBi) Komisariat UIN SU menggelar sebuah gelar wicara yang mengangkat tema “Toxic Positivity” pada Senin (30/11). 

Kegiatan yang dimulai pada pukul 20.00 WIB tersebut dibuka dengan sambutan hangat dari Rizky Sulaiman Siregar selaku Ketua Umum GenBi Komisariat UIN SU. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi manfaat bagi para peserta gelar wicara. “Saat ini sangat penting bagi kita pemahaman akan kesehatan mental, yang mana salah satunya tentang toxic positivity, yang nanti akan kita bahas bersama. Harapannya semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat positif untuk kita semua dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari-hari nantinya,” tuturnya.

Kegiatan yang berlangsung melalui Google Meet dan menghadirkan Putri Khairunnisah S.Psi. yang juga merupakan Co-Founder dari @mowbisnis sebagai pemateri. Dihadapan 65 peserta yang ikut bergabung, ia menjelaskan tentang pentingnya melihat situasi ketika kita ingin menasehati mereka yang sedang ditimpa goncangan mental. “Hati-hati, kata-kata yang positif bakal menjadi racun ketika kita menempatkannya pada hal yang gak tepat.  Misal ketika teman kita sedang sedih, lalu kita berusaha mendorongnya untuk berfikir positif, tanpa menanyakan bagaimana perasaannya, dan terlalu cepat menyimpulkan sebelum benar-benar mendenger ceritanya,” ucap Putri. 

Lagi, menurut Putri, emosi yang keluar membawa pesan tersendiri dan emosi yang terus ditahan malah bisa menjadi pemberat masalah psikis. “Jika merasakan emosi negatif, itu enggak apa-apa berarti itu sinyal dari otak. Jangan ditahan, jangan merasa “ah ini ga bener”. Tinggal gimana kita mengelolanya menjadi energi positif,” jelasnya. 

Ia juga menyampaikan enam ciri-ciri mereka yang terpapar toxic positivity, yaitu sering menyembunyikan perasaan, merasa bersalah dengan emosi yang dirasakan (khususnya emosi negatif), ketika orang lain atau dirinya sendiri memiliki perasaan negatif maka cenderung memaksa untuk selalu positif, ketika ada orang lain yang memberikan tahu bagaimana perasaan mereka saat itu, kita langsung men-judge, shaming atau memberikan toxic positivity untuk diri kita atau orang lain berupa mindset “udalah, kita harus selalu positif” hingga mengukur keimanan seseorang, “kamu engga percaya lagi ya sama Tuhan, kan kamu punya Tuhan” dan sebagainya. 

Terakhir, Putri juga memaparkan pentingnya referensi yang tepat saat kita berhadapan dengan masalah mental. “Kita harus belajar, isi diri kita dengan ilmu-ilmu yang bisa jadi referensi kita untuk merespon situasi dan kondisi yang tepat. Dengan tidak langsung men-judge. Gimana kita bisa menempatkan positivity dengan baik untuk diri kita dan orang lain, karena setiap orang pasti berproses,” tambahnya.

Mega Andriani yang merupakan mahasiswi Prodi Sistem Informasi UIN SU merasa begitu senang mengikuti acara yang menurutnya sangat bermanfaat itu. “Saya senang sekali bisa ikut bergabung, acaranya sangat-sangat berguna untuk menambah pengetahuan kita tentang kesehatan mental. Apalagi sekarang masa pandemi, enggak boleh kemana-mana, membuat kita sering mengalami gangguan mental. Ya dengan adanya gelar wicara tadi bisa tahulah cara mengatasi masalah-masalah yang selama ini diresahkan,” katanya. 

Reporter : Dhitanty Chicha Novri dan Anisa Rizwani

Editor       : Khairatun Hisan