Ilustrasi: Raihana Tuzzikriah

Penulis: Shofiatul Husna Lubis

Sore ini, terik mentari dan debu jalanan mengiringi langkahku menuruni angkutan umum yang telah sampai tepat di depan gerbang rumah sakit H. Adam Malik. Kucoba menekan satu tombol yang berada di kontak handphone-ku, tiba-tiba seorang wanita melambaikan tangan seraya tersenyum sambil berjalan mendekatiku. Aku pun berjalan mwndekatinya dan benar wanita itu adalah kak Lily, panggilan hangatku untuknya..

Lambaian tangannya langsung kusambut sembari mengikutinya dari belakang, ternyata dia membawaku ke sebuah masjid dan mempersilahkanku melaksanakan salat asar. Kulihat semua teman-teman satu komunitasnya sudah berkumpul dan menyambutku dengan baik. aku sempat menyalami mereka satu persatu kecuali seorang lelaki berbaju merah yang bernama bang Akbar. “Maaf ya dek, tadi kami jenguk duluan,” ucap salah satu teman kak Lili yang bernama Gebi. “Iya nggak papa kak,” jawabku sedikit kecewa. “Mungkin lain kali, tapi jangan terambat lagi ya?” sambungnya. “Iya kak, mungkin lain kali,” kataku sambil tersenyum tipis.

Setelah melaksakan salat asar, kami langsung bergerak menuju ke sebuah tempat yang aku sendiri pun belum tahu, “Kita ke mana kak?” tanyaku penasaran.”Kita mau kerumah singgah dek,” jawab kak Lili. Tatapanku teralihkan saat melihat deretan rumah yang bentuk dan warnanya sama, ku dapati orang-orang tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Selanjutnya kami melangkah ke deretan rumah paling ujung dengan membawa beberapa bungkus berisi kue dan susu kotak. Ku cermati kedua wanita yang tengah merapikan kotak-kotak yang berisi makanan. “Assalamualaikum..” sapa kami bersamaan. “Waalaikumsalam,” sambut kedua wanita itu. “Masih ingat kami kak?” tanya salah satu teman kak Lili. “Siapa ya? Yang sering ke sini banyak, jadi kakak sedikit lupa” jawabnya. “Kami dari leaubahagia kak, kami mau ngasih ini” jawab teman kak Lili yang bernama Gebi. “Oh iya, komunitas leaubahagia Medan itu ya? Mau dipanggilkan aja atau langsung masuk?” tanyanya. “Sekalian masuk aja kak” kata kak Lili, setelah mendengar itu kak Lili menatapku dan mengajakku masuk. Saat hendak melangkah aku mendengar jeritan tangis dari seorang anak kecil.

Langkahku pelan menuju rumah tersebut, saat di dalam ku dapati seorang wanita paruh bawa tengah memangku anaknya yang menangis. Mataku terus asyik memandang mereka, kak Lili langsung menyikutku sebagai tanda bahwaku harus segera memberikan bungkusan yang berisi makanan ringan tadi. Ternyata inilah rumah singgah yang pernah diceritakan kak Lili kepadaku. Rumah bagi penderita kanker dan keluarganya. Di sudut dinding sebelah kanan aku melihat buku-buku tersusun rapi dalam lemari, mungkin agar mereka tidak bosan dan masih bisa belajar walaupun tidak di sekolah. dan di sebelah kiri aku melihat sofa yang empuk untuk di duduki. Mataku masih terus melirik keara seluruh ruangan yang cukup luas ini.

Mataku masih terus penasaran dengan seluruh isi rumah ini, kakiku terus melangkah dan aku melihat seorang lelaki paruh baya tengah asyik mengecat bagian dinding kamar mandi dengan tokoh-tohkoh kartun yang sangat indah. ”Mungkin lelaki itu adalah ayah dari salah satu anak kecil yang berkeliaran di rumah ini” pikirku. Aku sempat berpikir bahwa rumah ini tidak senyaman yang kulihat, seperti adanya lemari yang penuh dengan berbagai jenis buku, lukisan tokoh kartun yang indah penuh warna, dan sofa empuk yang berderet di sudut pintu. Ternyata tempat yang dihuni beberapa keluarga ini cukup nyaman untuk ditinggali.

Di bagian kursi meja makan, aku melihat seorang ibu sedang memakaikan baju  anaknya yang seperti baru selesai mandi. Wajah anak itu terlihat sangat pucat dan lemah. Seakan tak bersemangat menjalani hidupnya.Aku hanya mampu tersenyum memandangnya dan sang ibu sambil memberikan lagi bungkusan tadi. Setelah kami rasa selesai, kak Lili menyalami semua orang tua yang sibuk dengan aktivitasnya. Aku pun melakukan hal yang sama, satu per satu kembali ku pandangi wajah mereka dengan seulas senyum, bibirku sesaat membisu. Tiba-tiba seorang ibu yang tengah memangku anak berusia 8 tahun berkata pelan “Kemarin dia fikir dia udah sembuh dan gak perlu dirawat lagi, dia sudah kesenangan dan tenyata belum,” katanya sambil melirik anak dipangkuannya. Kami hanya mengangguk pelan.

Mataku tak lepas dari wajah-wajah polos mereka yang terlihat tanpa gairah, aku merasa menjadi manusia paling beruntung, aku masih dapat tertawa, berlari dan melakukan apapun sesukaku, tapi tidak untuk mereka. Tiba-tiba seorang anak kecil bernama Anugrah tengah berlari sambil melayangkan senyumnya, aku ikut tersenyum melihatnya, ada rasa bahagia saat melihatnya tersenyum. Tubuhnya yang gemuk membuatku ingin sekali mencubitinya, ku lihat dia sedang menikmati susu kotak yang bukan dari pemberian kami, mungkin itu pemberian dari orang lain yang juga peduli dengan mereka. Bahagia sekali rasanya melihat senyum tulus dari anak itu.

Setelah kami rasa cukup berkunjung, kami langsung bergerak pulang dengan berkata, “Cepat sembuh ya, tetap semangat dan selalu tersenyum” celetuk kak Gebi dengan ceria. Aku tak mampu berkata, hanya terdiam membisu. Sebelum pergi kami menawarkan diri untuk membantu  kedua perawat yang akan membagikan makanan kepada pasien lainnya. Namun mereka menolak karena takut merepotkan. Akhirnya kami pamit dan meninggalkan rumah singgah yang membuat kami bahagia dan lebih merasa bersyukur dengan keberuntungan yang kami miliki.

Aku cukup senang berkunjung sore ini, walaupun aku hanya dapat melihat mereka sebentar tapi sudah cukup menyadarkanku untuk selalu bersyukur atas nikmat Tuhan, dan harus selalu berbagi dengan sesama walau hanya seulas senyuman. Dari komunitas leaubahagia Medan ini aku banyak belajar bahwa hidup tak hanya tentang aku dan keluhku. Tapi juga tentang mereka, keluh mereka dan senyum mereka yang nasibnya tak seberuntung diriku. Aku teringat dengan satu hadis yang berbunyi : “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain”, dari hadis ini aku menyadari bahwa aku harus bermanfaat untuk mereka diluar sana jika aku ingin menjadi manusia yang paling baik.

Editor             : Aminata Zahriata