Foto: www.google.com

Penulis: Rahmanuddin

Layaknya hari-hari besar Nasional, pada tanggal 22 Desember yang setiap lanjutan almanak tahunan di Indonesia diperingati sebagai Hari Ibu Nasional. Hari Ibu dijadikan sebagai momentum untuk mengingat jasa Ibu-ibu Indonesia kala dulu berjuang untuk melawan penjajahan dari bangsa Eropa dan Jepang saat menduduki Nusantara. Sebelum lirikan kemerdekaan yang berporos dari Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta, deretan nama-nama yang kini terus harum ditengah-tengah masyarakat ikut menyertai kebebasan dalam segala aspek bagi rakyat Hindia Belanda (Nusantara) kala itu.

Berbagai macam cara dilakukan oleh rakyat Indonesia dalam memperingati hari yang khusyuk itu. Mulai dari mencium wajah letih Ibu tercinta, memeluknya, bersimpuh dihadapannya, memohon maaf atas kesalahan yang dilakukan, mencuci telapak tangan dan telapak kaki ibu, atau sebagian orang memperingati hari tersebut untuk berziarah ke peristirahatan terakhir ibunya dan memberi hadiah berupa doa bagi mereka yang sudah tidak memiliki sosok ibu di dunia. Bisa jadi anda termasuk pada bagian ini, yaitu memberikan hadiah kepada ibu anda berupa hal-hal yang ia sukai, seperti memberikan kue, dan mengajak ibumu untuk mengunjungi suatu tempat yang membuatnya tersenyum dan tertawa bahagia meskipun hanya dalam satu hari. Namun, kali ini saya tidak membahas mengenai hari ibu meskipun banyak disinggung tentang momen peringatan hari ibu dan cara apa yang akan anda dilakukan saat memperingati hari ibu.

Rincian yang dibahas dalam tulisan ini adalah mengenai peran dan emansipasi wanita Indonesia daari berbagai aspek pada zaman dahulu dalam upaya menyibak persepsi orang-orang dulu yang bersekukuh menilai wanita hanya bisa di kasur, di dapur dan di sumur. Persepsi buruk ini kemudian ingin diteguk oleh para wanita Indonesia dan mengubahnya dengan hal yang kongkret dan nyata.

Sebelumnya, apa sih emansipasi itu? Mari simak jawabannya berikut ini. Merujuk defenisinya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emansipasi ini diartikan dalam  dua pengertian singkat, pertama, pembebasan dari perbudakan, dan pengertian ke dua mengartikan emansipasi sebagai persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria. Jika anda begitu ingat dengan emansipasi wanita ketika sedang duduk di bangku SD, SMP atau SMA, mungkin anda juga termasuk dalam orang-orang yang sudah terdiagnosa sebagai siswa yang hanya mendapat pengajaran sejarah emansipasi wanita yang hanya menyebutkan nama Raden Ajeng Kartini Adhiningrat (R.A Kartini) sebagai satu-satunya nama wanita atau ibu Indonesia sebagai aktris utama emansipasi wanita, padahal tidak. Bahkan, jika anda tahu lebih dalam biografi R.A Kartini, masih banyak sosok ibu lain yang sangat berjasa dalam usaha menyetarakan hak antara lelaki dan wanita di Nusantara. Memang tidak ada dekret yang dikeluarkan oleh Presiden kala itu yang mendiagnosa Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita. Hanya saja buku-buku sejarah kita sudah menghipnotis dan mendoktrin pemikiran siswa-siswi di Indonesia sehingga membuat persepsi dalam buku itu dan terus bereproduksi hingga generasi milenial saat ini.

Dikutip dari majalah Pesantren Gontor edisi tahun 2010 yang  pada cover depan majalah tersebut mengangkat topik pembahasan utama mengenai sosok ibu beserta dengan foto-foto dari arsip-arsip nasional. Pada majalah milik santri/wati Gontor tersebut, dengan gamblang menukik persepsi masyarakat mengenai emansipasi wanita yang hanya menyoroti perjuangan R.A Kartini yang telah berkontribusi terhadap kesetaraan gender di Hindia Belanda kala itu sebutan bagi bumi Indonesia. Pada majalah tersebut menyatakan bahwa Kartini hanya wanita yang rajin mengirimkan surat terhadap penguasa Hindia Belanda, “Padahal R.A Kartini hanya wanita yang rajin mengirimkan surat terhadap penguasa Hindia Belanda dan terpinang hubungan antara R.A Kartini yang memiliki kedekatan dengan para Kompany Belanda di Jepara”. Begitulah kutipan yang diambil dari majalan Pesantren Gontor yang memasang foto-foto lama pahlawan wanita di cover depannya.

Lantas, apa yang melatarbelakangi nama R.A Kartini sebagai cover terdepan dalam hal emansipasi wanita di Indonesia? Jawabannya juga ada pada tulisan feature yang diterbitkan oleh Santri/wati Gontor tersebut. Pada lanjutannya penulis,mengatakan persepsinya,  “Sebabnya R.A Kartini yang memiliki kedekatan dengan orang-orang Belanda. Oleh kedekatannya itulah yang membuat ia begitu akrab dengan orang-orang Belanda selain ia yang sering menyurati orang-orang Belanda dalam berbagai hal. Kalau hanya seperti itu, apakah pantas dijadikan Aktris utama dalam panggung emansipasi wanita? Sebenarnya ada yang lebih cocok darinya karena sudah tentu memiliki peran penting yang bukan hanya berupa memberikan pemikirannya terhadap hak perempuan yang lebih nyata,” sambung tulisan tersebut.

Lebih lanjut lagi, majalah Gontor tersebut memuat sosok wanita lain yang lebih pantas menyandang sosok emansipasi wanita dibanding R.A Kartini. Beberapa tokoh tersebut adalah  Rohana Kudus (1884-1972), yaitu seorang pewarta berita wanita pertama Indonesia. Beliau  lahir dan dewasa di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sudah banyak orang yang mengetahui soal adat Minangkabau yang begitu kental ini berhubungan dengan peran wanita minang yang dianggap hanya bertugas di dapur, kasur dan di sumur. Pemikiran primitif itu masih dijunjung tinggi oleh masyarakat minang dahulu kala, hingga dengan kontribusi Rohanna Kudus membuat pemikiran primitif itu mulai hilang meskipun ia menghadapi banyak tantangan untuk mewujudkan impiannya dalam hal penyetaraan hak wanita minang.

Rohana Kudus aktif menulis dalam harian yang ia bentuk sendiri dan mengajak wanita-wanita minang untuk ikut menjadi penulis dan wartawati yang  diberi nama “Soenting Melayoe”. Selain Rohana Kudus, Cut Nyak Dien juga merupakn tokoh yang begitu harum namanya atas perjuangan gigihnya untuk mengusir penjajah Belanda dari Tanah Rencong. Beliau merupakan Pemimpin pergerakan wanita Aceh yang paling gigih untuk mengusir Belanda. Saat Suaminya, Teuku Umar wafat, Cut Nyak Dien kemudian tinggal di pedalaman Meulaboh untuk mempertahankannya dari Penjajah. Sehingga ketika Ia sakit, maka ia langsung dilarikan ke Banda Aceh untuk dirawat. Atas kabar tersebut, sontak rakyat Aceh kembali bersemangat untuk melawan penjajah.

Semangat mengusir penjajah Belanda di Tanah Serambi juga diikuti oleh rekannya yang memiliki peran yang sama di Tanah Rencong yakni Cut Nyak Meutia yang lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara dan meninggal di Kurieng, Aceh pada 24 Oktober 1910. Ia adalah Putri Aceh yang berperan penting bagi pembebasan rakyat Aceh dari belenggu kekuasaan Belanda di Aceh.

Sosok wanita selanjutnya adalah Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau biasa dipanggil dengan sebutan H.R Rasuna Said seperti nama sebuah jalan di Jantung Ibukota Jakarta. Sesuai namanya, Rasuna Said berasal dari Minangkabau, tepatnya di Kabupaten Agam pada 14 September 1910 dan menghembuskan nafas terakhirnya pada 2 November 1965 pada usia 55 tahun. Dikutip dari situs artikel kenamaan Indonesia, www.wikipedia.org, dia dikenal sebagai perempuan cerdas. Perannya yang paling dikenal adalah kontribusinya memajukan pemikiran perempuan Indonesia dan ikut bergabung dalam perpolitikan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa bukan mereka yang menjadi tokoh emansipasi wanita? Mungkin anda bertanya-tanya soal konsistensi mereka yang rela mengorbankan hari-hari mereka untuk kepentingan bangsa. Bahkan sampai-sampai mereka mengorbankan nyawa mereka demi membebaskan belenggu Belanda dari Tanah Nusantara. Dan, Kitalah yang telah menikmati kebebasan hidup, berpikir dan berpendapat khususnya bagi kaum hawa saat ini. Di Parlemen pun tak sedikit perempuan-perempuan Indonesia yang telah ikut bersumbangsih dan menyatakan pendapatnya untuk kemajuan Indonesia. Lantas jawaban ini adalah kontribusi R.A Kartini dalam menyampaikan pemikirannya melalui aktivitasnya menyurati Belanda. Atas usulan Belanda pulalah R.A Kartini dijadikan sebagai Tokoh Emansipasi Wanita Indonesia.

Editor             : Shofiatul Husna Lubis