Keterlibatan Kita sebagai Pelaku Kebocoran Data

Web Master. (Foto/Dok. Pribadi)

Penulis: Mahmudi

“If you’re not paying for it, you are the product.” – Unknown

Di era digital yang serba canggih ini, tidak bisa tidak, aktivitas kita terasa dimudahkan dengan hadirnya berbagai layanan digital. Mau beli tiket bioskop, tinggal klik ponsel sambil rebahan. Bayarnya pakai uang elektronik.

Beres-beres rumah enaknya sambil dengarkan musik, tapi kamu tak perlu lagi mencari kaset untuk diputar di DVD player, that’s so yesterday. Cukup bilang “Oke Google, putar lagu”, si Google pun langsung memutarkan lagu yang cocok dengan genremu.

Bagaimana cara teknologi tersebut bisa memahami apa saja yang kamu suka? Mulai dari makanan favorit, tempat nongkrong yang pas di kantongmu, atau rekomendasi film yang kamu suka. Seolah layanan digital ini lebih kamu daripada kamu sendiri.

Layanan digital tersebut melakukan data harvesting untuk meningkatkan kualitas produk mereka. Tindakan mereka mirip seperti tugas malaikat Rakib dan Atid, mencatat segala aktivitas kamu. Bedanya, hasil catatan malaikat sebagai penentu kelak apakah kita bisa masuk surga, sedangkan yang dilakukan layanan digital agar kamu semakin nyaman menggunakan produk mereka.

Berbagai aplikasi seperti Google, Facebook, WhatsApp, Zoom dan semacamnya memang merekam dan mengolah data pengguna sejak pertama digunakan. Tujuannya untuk meningkatkan user experience, menganalisis target iklan, atau bahkan dijual.

Seperti yang terjadi saat pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 2016 lalu. Bagi yang tidak tahu, saya ceritakan sedikit kemenangan Trump yang disebut-sebut terlibat skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook. Jadi, Cambridge Analytica, sebuah perusahaan konsultan politik yang bermarkas di Inggris bekerjasama dengan tim pemenangan Donald Trump. Sebanyak 50 juta data pengguna didapat dari kuis kepribadian yang sempat populer di Facebook.

Menyeramkannya lagi, data orang yang berteman dengan peserta kuis ini juga ikut diambil. Cambridge Analytica kemudian mengolah data tersebut untuk memetakan karakteristik dari para pemilih di AS. Hasilnya, kampanye mereka cukup efektif dan Donald Trump memenangkan pertarungan.

Terlihat sepele kan? Gara-gara kuis untuk mencari tahu kecocokan kamu dengan si dia bisa memenangkan presiden. Sebenarnya, mereka tidak mencuri informasi pribadi kamu. Kamu sendiri yang memberikannya. Kamu sendiri yang menyebarkan privasi ke pihak lain. Pada contoh kasus tersebut, sebenarnya keputusan ada pada kamu sebagai pengguna untuk tidak ikut kuis tersebut.

Selain dijual, data pengguna yang dipegang perusahaan layanan digital bisa saja dicuri. Pada 15 Juli 2020 kemarin, Twitter mengakui peretas telah masuk ke sistem backend mereka dan mengambil alih 130 akun pengguna. Peretas kemudian menggunakan akun yang telah dibajak itu untuk mengirimkan penipuan cryptocurrency bitcoin. Kasus serupa juga sempat dialami Tokopedia dan Bukalapak pada bulan Maret. Sebanyak 91 juta data pengguna Tokopedia dan 13 juta data pengguna Bukalapak dicuri dan dijual di darkweb.

“Ah, gue kan bukan orang penting. Kayaknya data gue ga penting amat untuk dicuri”.

Mylov, jutaan orang yang jadi target pencurian tersebut bukan hanya orang penting. Data yang dicuri ini bisa digunakan untuk mendaftar pinjaman online dan mencuri kartu kredit. Penipuan Mama minta pulsa 4.0 juga berevolusi berkat pencurian data ini. Atau yang lebih parah, wajahmu muncul di situs pornografi karena ada yang mengedit wajahmu dengan teknologi Deepfakes. Amit-amit.

Dari beberapa kasus tersebut, kita tidak bisa menyalahkan RUU Perlindungan Data Pribadi yang belum disahkan, atau perusahaan yang tidak menjaga data pengguna dengan baik. Karena kta juga terlibat sebagai “pelaku” yang membocorkan data. Contohnya, saat hendak menginstal aplikasi, kamu sendiri yang memberi izin akses kontak, galeri, kamera, lokasi dan mikrofon tanpa memikirkan implikasinya. Sebelum menggunakan aplikasi mereka, kamu pernah baca terms and conditions sampai selesai?

Mengutip dari detik.com, survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menunjukkan mudahnya masyarakat mengumbar data pribadi ke internet. “Persoalan data pribadi, berdasarkan survei bahwa kita sendiri yang berkontribusi (kebocoran data), seperti foto Anda yang di-upload ke dunia maya sebanyak 66%, tanggal lahir, email, semua ada. Jadi, data pribadi kita yang sengaja atau tidak, kita sendiri memberikan itu ke publik domain atau internet,” tutur Ketua Umum ATSI Merza Fachys.

Tak hanya itu, masyarakat juga mengumbar data seperti, tanggal lahir 50%, alamat email 46%, alamat rumah 30%, nomor telepon 21%, hingga videonya 21%.Tidak menutup kemungkinan, saat ini koleksi foto kamu sudah dilihat berbagai pihak. Termasuk isi percakapan sama gebetan kamu. Hayoloh.

Kalau sudah begini, kamu masih mau menyalahkan perusahaan aplikasi yang telah mencuri data? Kemudian kamu memutuskan untuk menghapus dan tidak menggunakannya lagi. Sudah terlambat. Tidak ada gunanya juga mencari tahu apakah data kamu telah dicuri, karena kemungkinan itu sudah terjadi. Mulai sekarang, kamu harus lebih ekstra menjaga privasi.

Beberapa cara berikut dapat kamu lakukan untuk meminimalisir bahaya di waktu yang akan datang.

Pertama, rutin memperbarui kata sandi. Gunakan sandi yang rumit dan berbeda untuk setiap akun. Kamu masih menggunakan tanggal lahir untuk PIN ATM? Atau kamu termasuk golongan orang yang menggunakan satu kata sandi untuk seluruh akun? Kalau iya, ganti sekarang juga! Kalau kesulitan membuat kata sandi yang kuat, coba gunakan password generator seperti ini.

Kedua, jangan menggunakan software bajakan. “Ah, kalau ada yang gratis buat apa bayar?”. Masbro, software bajakan tidak menutup kemungkinan sudah disusupi malware yang dapat merusak perangkat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Business Software Alliance (BSA), masih banyak individu, perusahaan, bahkan instansi yang menggunakan software ilegal.

Indonesia menempati negara teratas di Asia Tenggara yang menggunakan software ilegal, yakni 83%. Dengan tingginya penggunaan software bajakan, BSA menyebut data masyarakat yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan ini bakal lebih berpotensi untuk terkena segala macam risiko, seperti kebocoran data, rentan terhadap malware dan lain sebagainya. Hmm, data mahasiswa UIN SU sudah aman belum ya?

Ketiga, ada baiknya kamu tidak menggunakan wifi gratis di tempat umum. Mungkin bagi kita mahasiswa fakir kuota, ini sebuah keuntungan. Tapi, kamu bisa saja mendapat serangan Man in the Middle (MitM).

Terakhir, jangan sembarangan memberikan data pribadi kamu seperti foto KTP, NIK, nomor pada kartu ATM, kode OTP, alamat dan lainnya. Pihak bank maupun perusahaan tidak akan pernah meminta ini. Jangan buka pesan atau surel dari alamat yang tidak dikenal. Jangan klik tautan atau lampiran yang terlihat mencurigakan.

 

Latest articles

It’s Okay: Perjalanan Mencari Jati Diri

Judul : It's Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay Genre : Romansa-Drama Sutradara : Park Shin-woo Penulis : Jo...

Tatang Koswara: Sniper Kaliber Dunia

Judul buku : Satu Peluru Satu Musuh Jatuh: Tatang Koswara Sniper Kaliber Dunia Penulis : A. Winardi Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun...

Satgas Covid-19 Jabarkan Tingkat Kesembuhan Semakin Meningkat

Medan, Dinamika Online -Dilansir dari laman resmi Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito menjabarkan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 dalam seminggu terakhir. Tercatat pertanggal 22 September, jumlah...

Addin 322: Bersahabat dengan Al-Qur’an

Penulis: Rafika Hayati Dalimunthe Al-Qur’an adalah kitab mulia yang diturunkan Allah subḥānahu wa ta’āla kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan menjadi tuntunan serta pedoman...

SEMA FSH Helat Diskusi Bedakan Fakta dan Hoaks

Medan, Dinamika Online – Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Syariah Dan Hukum (FSH) mengadakan diskusi media dengan tema "Membedakan Fakta Dan Hoaks". Pemateri pelatihan ini...