Jangan Panik dengan Virus Corona

0
Bendaraha Umum

Penulis: Diana Aliya

Fenomena virus Corona yang muncul di awal tahun 2020 ini sangat meresahkan. Tak ayal, pada Rabu (11/3) WHO resmi menetapkan wabah virus Corona (COVID-19) sebagai pandemik. Dilansir dari kumparan.com, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan sebanyak 114 negara dunia terjangkit virus ini. Kompas.com memberitakan pada Sabtu (14/3), jumlah pasien positif virus Corona di Indonesia sebanyak 96 pasien, sedangkan di seluruh dunia angka infeksi Covid-19 mencapai 147.960 kasus di 149 negara.

Wajar, jika reaksi warga terlalu berlebihan menanggapi hal ini. Tak hanya di Amerika dan China yang ribuan warganya terjangkit virus Corona, namun negara-negara yang masuk dalam nominasi angka rendah terjangkit virus corona juga merespons berlebihan. Seperti menimbun masker dan persediaan pangan dalam jumlah besar seolah-olah virus ini akan menyerang sampai 5 tahun ke depan, sehingga tak ada lagi tersisa persediaan sembako yang dijual di pasar. Bahkan, di Amerika Serikat ada yang sampai mencuri stok masker medis dari rumah sakit dan fasilitas penelitian.

Masih ada cara-cara lainnya yang lebih rasional dalam menanggapi virus Corona. Dikutip dari www.latimes.com, menurut para ahli kesehatan, ada cara terbaik mengatasi virus Corona melalui cuci tangan, yaitu cukup mencucinya dengan sabun dan air. Kemudian, selalu menyediakan hand sanitizer (pembersih tangan) dan memberikannya kepada orang lain yang sekiranya dapat menularkan virus Corona dengan tanda-tanda yang ada pada dirinya tanpa mengambil keuntungan.

Pada kenyataannya, virus baru ini bukan sekadar influenza musiman. Sangat diwajarkan jika warga dunia panik akan pandemik ini, lalu mengambil tindakan pencegahan luar biasa dalam artian tetap rasional. Mencegah penularan Covid-19 tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain yang berada pada tingkat berisiko lebih tinggi untuk tertular pandemik ini hingga berujung kematian, seperti para orang tua dan orang-orang yang memiliki kondisi kesehatan yang lemah.

Baca juga: Saling Mencinta Diatur oleh Negara, Apakah Bisa?

Berhati-hati dan jangan panik!

Selanjutnya, yang perlu dilakukan untuk menyembuhkan virus Corona dengan berhati-hati dan tidak panik. Menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang yang terkena virus Corona, dan tidak melakukan penghinaan. Dibutuhkan juga sikap kesabaran dan ketenangan.

Mengambil sikap tenang, terbukti ampuh oleh perempuan Amerika Serikat yang sembuh dari virus Corona. Dilansir dari laman kompas.com, perempuan asal Amerika Serikat bernama Elizabeth Schneider berhasil sembuh menyampaikan pesan kepada publik untuk tidak panik. “Jangan panik, tapi pikirkanlah risiko tinggi individual dan tetaplah di rumah jika kamu merasa sakit,” pesan perempuan berusia 37 tahun ini.

Elizabeth adalah seorang Doktor di bidang Bioengineering. Beliau tinggal di Seattle, sebuah kota terbesar di negara bagian Washington, Amerika Serikat. Wilayah itu memiliki angka kematian tertinggi dari seluruh wilayah Amerika Serikat.  Dia membagikan pengalamannya yang baru sembuh dari virus Corona untuk memberikan secercah harapan kepada publik. Dia mengarantina dirinya sendiri di dalam rumah. Menurutnya, hal ini yang paling tepat untuk dilakukan karena ada banyak orang berusia lanjut yang kondisi kesehatannya tidak baik rentan terkena pandemik ini.

Ajahn Brahm, seorang Sarjana Fisika Teori di Cambridge University yang memilih menjadi Biksu, menulis dalam bukunya yang berjudul ‘Cacing dan Kotoran kesayangannya’ bahwa rasa takut adalah unsur utama rasa sakit. Rasa takut membuat rasa sakit tambah menyakitkan. Enyahkan rasa takut, maka perasaan sajalah yang tertinggal. Biarlah rasa takut berlalu. Mereka berhenti mengendalikannya dan memberikan kebebasan bagi rasa sakit. Itulah yang disebut membiarkan berlalu.

Apakah rasa sakit itu masih ada atau tidak, sama saja jadinya. Hanya dengan begitulah, rasa sakit lenyap. Dengan memilih sikap ‘biarlah rasa sakit berlalu’ hasilnya adalah ketenangan. Begitu pula dengan virus Corona, jika kita memilih untuk tenang dan tidak panik, maka virus itu akan pergi menjauh dari tubuh.

Muhasabah diri dengan memperbanyak ibadah

Terkait sikap tenang untuk penyembuhan virus Corona, di dalam Al-Qur’an terdapat firman Allah yang menyatakan ketenangan jiwa. Dalam surah Ar Ra’d: 28 Allah berfirman, “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati ini akan menjadi tentram”.

Menurut Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama Saudi Arabia Al-Muyassar pada ayat tersebut, orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan yang bertaubat kepada-Nya. Yakni dengan berzikir kepada Allah dengan lisan mereka, seperti membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, atau dengan mendengarkan zikir tersebut dari orang lain. Tanpa menyebut nama selain Allah, meskipun mentafakuri seluruh ciptaan-Nya di alam semesta ini secara umum menjadikan hati menjadi tentram, namun hasilnya tidak seperti ketentraman dengan berzikir kepada Allah.

Teringat juga kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis—Ratu di Kerajaan Saba’eeya yang terletak di Jazirah Arab. Wabah penyakit yang menyerang rakyat di Saba’eeya yang amat subur itu musnah karena Ratu Bilqis menyatakan keislamannya beserta rakyatnya.

Kerajaan Saba’eeya adalah kerajaan yang paling subur pada masa itu, dan Ratu Bilqis adalah penyembah matahari. Singgasana ratu dihiasi permata, istana dan kuil-kuil berdiri tegak, megah, dan indah. Perumpamaan sebutir zamrud diletakkan di dalam semangkuk pasir, zamrud berkilauan itulah negeri Saba’eeya yang terletak di tengah-tengah Jazirah Arab.

Namun, di tengah kenikmatan yang berlimpah, negeri yang subur itu tertimpa wabah penyakit yang mematikan lebih dari 300 jiwa. Padahal beberapa hari sebelumnya mereka mengadakan Upacara Tahunan bagi kelahiran Dewa Matahari. Para tabib dari Kerajaan Ursyalim sudah diundang, tapi tidak membuahkan hasil juga. Lalu atas izin Allah, Nabi Sulaiman Raja dari Kerajaan Ursyalim mengirimi Ratu Kerajaan Saba’eeya itu surat An Naml: 30-31 yang berisi peringatan, bunyinya: “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isinya): Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

Sadar itu sebuah ancaman, Ratu Bilqis cepat mengambil tindakan. Tak mungkin melakukan perang dengan kondisi yang lemah, lantas ia menyuruh utusannya mengantar hadiah ke Ursyalim. Lantas Nabi Sulaiman menolaknya. Lalu, Ratu Bilqis yang langsung berkunjung ke sana menemui Nabi Sulaiman. Ternyata, pertemuannya dengan Nabi Sulaiman membuatnya tergugah menyatakan keislamannya dan menikah dengan Nabi Sulaiman—Raja muda Kerajaan Ursyalim. Dan wabah penyakit itu musnah seketika sepulangnya Ratu Bilqis dari Ursyalim.

Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran, mungkin ini adalah sebuah teguran dari Allah agar kita senantiasa mengingat-Nya dan meningkatkan kualitas keimanan kita. Bagi yang belum terkena virus Corona, mari memperkokoh keimanan dengan memperbanyak beribadah. Karena virus itu bisa menyerang orang yang tidak disangka-sangka. Semoga kita dijauhkan dari pandemik itu.

Selain pencegahan dari luar yang bersifat medis, di poin terakhir imbauan Gubernur Sumut untuk seluruh warganya memperbanyak beribadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing. “Seluruh ulama mohon dapat memimpin doa menurut agama kepercayaannya di masing-masing rumah ibadah,” Isi poin ketujuh pada imbauan untuk seluruh warga Sumut yang di-posting lewat akun Instagram Humas Sumut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.