Foto: www.google.com

Penulis :Muhammad Hisyamsyah Dani 

            Ada ungkapan kamu adalah apa yang kamu pakai. Dapat ditafsirkan, dari kebiasaan cara berpakaian seseorang dan jenis kain yang dipakainya dapat diterka dari mana asalnya. Lain lubuk lain pula ikannya, lain ladang lain pula belalangnya ituah pepatah yang biasa terdengar untuk mengungkapkan di setiap daerah mempunyai kebudayaan yang berbeda. Beda negara, beda pula kain maupun busana yang dikenakan. Contohya di Indonesia, secara umum, ragam busana yang dikenakan adalah sesuai dengan adat ketimuran yang menonjolkan kesopanan dan keindahan paripurna bagi yang memakainya. Misalnya, karakter yang ditonjolkan oleh masyarakat yang mengenakan Ulos, terkesan keras dan penuh kewibawaan, setidaknya itu yang digambarkan oleh pemakai kain khas dari Sumatera Utara ini. Lain jika halnya mengenakan Batik maupun kebaya, menggambarkan kelembutan dan kemahligaian pemakainya, bisa dipastikan sesuai dengan karakter suku yang mendiami wilayah Jawa, Indonesia. Begitu juga, dengan Tenun Ikat suku Dayak yang menggambarkan kegagahan dan tak gentar dalam mengahadapi musuh. Bisa dipastikan itu kebiasaan sejak dahulu masyakat adat yang gagah dalam berperang menghadapi musuh.

Lazimnya, setiap pertama kali menjumpai seseorang, kita mau tidak mau memperhatikan ciri yang nampak dan mencolok, khususnya jenis kelamin, ras, usia,hingga busana yang dikenakannya. Sebaik apapun maksudnya, asumsinya akan membentuk dan mempengaruhi bagaiman bertindak dan bersikap terhadap orang yang bersangkutan-dan sebaliknya, bagaimana orang tersebut bertindak terhadap diri kita. Ini merupakan ciri alamiah dari interaksi manusia. Betapa hebatnya busana dijadika nilai dan cara yang harus diperbuat kepada setiap manusia yang sedang dijumpai.

Kesukaan terhadap memakai busana dan gambaran busana erat kaitannya dengan kebiasaan seseorang. Menurut saya, hal ini juga dipengaruhi oleh nilai-nilai seperti nilai agama, nilai adat serta nilai sosial yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Busana maupun pakaianyang dipakai tentu saja akan melekat pada citra pemakainya. Menggambarkan kemegahan, kegagahan hingga keluhuran akan nilai-nilai kultural yang masih melekat. Indonesia telah membuktikan hal tesebut. Bagaimana dunia memuji ragam busana serta kain yang menjadi ciri khas dari negeri ini.

Identitas

Pakaian memang merupakan memiliki arti penting seperti yang diungkapkan oleh Henk Schulte Nordholdt dengan mengutip cerita tentang kemeja dari dua mantan presiden Indonesia. Pertama, pengalaman memalukan mantan presiden Soeharto tentang kemeja. Kemeja yang dibuat oleh nenek buyutnya ternyata tidak diberikan pada dirinya melainkan pada sepupunya. Sehingga Soeharto merasa dipermalukan dan merasa kasihan pada dirinya sendiri. Lain lagi dengan anekdot Soekarno tentang kemeja yang diceritakan almarhum Romo Mangun ketika menerima penghargaan profesor A.Teeuw tahun 1996. Ketika Hatta, Syahrir dan Soekarno dipenjarakan selama revolusi, mereka diperbolehkan meminta beberapa benda tertentu. Hatta meminta buku-buku, Syahrir meminta koran berbahasa Belanda sedangkan Soekarno meminta sebuah kemeja Arrow yang baru. Pakaian bisa merupakan jati diri dan identitas budaya bangsa Indonesia. Ia menjadi representasi entitas kultural yang dapat dikenali, bukan hanya daerah namun masyarakat internasional. Siapa yang tak kenal Batik misalnya, tanggal 2 Oktober lalu telah ditetapkan sebagai Hari Batik, dan diakui oleh UNESCO, sebuah badan yang mengurusi kekayaan sosial dan sejarah di bawah naungan PBB.

Batik adalah ekspresi budaya yang memiliki makna simbolis dan nilai estetika yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Keunikan yang indah itu merupakan salah satu pembentuk karakter bangsa Indonesia yang membedakan kita dengan bangsa lain sehingga dapat menjadi identitas dan jati diri bangsa.Mengutip teori yang dikemukakan Stuart Hal mengenai identitas. Menurut Hall: identitas merupakan persoalan hak untuk menjadi diakui. Ini ada dalam masa depan dan masa lalu. Identitas bukan sesuatu yang sudah terbentuk dan tidak bisa berubah, tetapi  ini terus berubah sesuai berjalannya waktu. Jadi ini menyangkut kemampuan untuk beradaptasi dengan ruang dan waktu.Keberadaan batik sebagai identitas dan warisan budaya bangsa Indonesia semakin diakui sejak ditetapkannya batik sebagai world heritage oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Dan disambut oleh pemerintah Indonesia dengan ditetapkannya 2 Oktober sebagai hari batik nasional. Dengan demikian dalam perkembangan ini ada peran pemerintah, masyarakat, dan  organisasi dalam masyarakat.

Siapa yang tak kenal Sari dari India, atau baju bermotif kotak Khas Norwegia atau juga Kimono dari Jepang. Jenis-jenis busana dan pakaian tradisional tersebut kemudian menjadi identik dengan negara tempat masyarakatnya hidup dengan budayanya masing-masing. Jadi, identitas sebuah bangsa kemudian tersematkan secara otomatis ke dalam busana dan pakaian yang menjadi ciri khas masing-masing.

Indonesia sebuah negara kepulauan terbesar di dunia merupakan rumah dari 900 lebih etnis yang menyebar di 34 provinsi. Beragamnya etnis dan sumber daya alam menjadikan hasil dan corak busana dari masing-masing daerah sangat beragam. Bayangkan jika saat ini Indonesia memiliki hampir 16.000 pulau. Artinya, berbeda pulau, berbeda pula cara menampilkan dan membuat ragam pakaian tradisional serta kearifan lokalnya. Itu juga yang menggambarkan betapa ragamnya realitas budaya dan sosio masyarakatnya. Kreatifitas mayarakat Indonesia memang benar-benar mengundang decak kagum bagi bangsa lain. Lihatlah, betapa indah dan mewahnya ragam motif tenunan Songket hingga beragam jenis batik dengan ragam motif dan corak. Semuanya ini membuktikan bahwa manusia-manusia Indonesia adalah masyarakat yang kreatif, inovatif dan mampu bersaing dalam peradaban masyarakat internasional.

Bertempat di Ibukota Jakarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan 33 kain tradional dari berbagai daerah di Indonesia sebagai warisan tak benda. Dari 33 kain tersebut, di antaranya ada batik, ulos, songket, tenun ikat, dan termasuk beberapa kain yang telah sulit ditemukan. Salah satunya adalah kain dari kulit kayu di Kalimantan. Kain ini langka karena pohon yang kulitnya digunakan untuk membuat kain tersebut sudah langka, akibat hutan yang telah rusak.

Dari daftar penetapannya, kain tradisional yang masuk warisan budaya tak benda itu yakni:
1. Songket Palembang (Sumatera Selatan)
2. Tenun Siak (Riau)
3. Tapis (Lampung)
4. Songket Sambas (Kalimantan Barat)
5. Sasirangan (Kalimantan Selatan)
6. Ulap Doyo (Kalimantan Timur)
7. Batik Indonesia (Jawa)
8. Tais Pet (Maluku)
9. Tenun Ikat Sumba (Nusa Tenggara Timur)
10. Songket Pandai Sikek (Sumatera Barat)
11. Ulos Batak Toba (Sumatera Utara)
12. Kerawang Gayo (Aceh)
13. Kain Koffo (Sulawaesi Utara)
14. Pakaian Kulit Kayu (Sulawesi Tengah, Pulau Kalimantan)
15. Karawo (Gorontalo)
16. Tudung Manto (Kepulauan Riau)
17. Kain Cual (Bangka Belitung)
18. Kain Besurek (Bengkulu)
19. Kain Lantung (Bengkulu)
20. Sulam Usus (Lampung)
21. Gringsing Tenganan (Bali)
22. Endek (Bali)
23. Tenun Ikat Dayak/Sintang (Kalimantan Barat)
24. Kain Tenun Sukomandi (Sulawesi Barat)
25. Kain Tenun Donggala (Sulawesi Tengah)
26. Maduaro (Lampung)
27. Tenun Ikat Inuh (Lampung)
28. Lurik Yogyakarta (DIY Yogyakarta)
29. Sarung Tenun Samarinda (Kalimantan Timur)
30. Lipa Sabbe (Sulawesi Selatan)
31. Batik Betawi (DKI Jakarta)
32. Tenun Corak Insang Kota Pontianak (Kalimantan Barat)
33. Lipa Saqbe Mandar (Sulawesi Barat)

“Madiba Shirt”

Begitu juga ketika tokoh terkenal di dunia dengan perjuangannya melawan Apartheid, Nelson Mandela datang berkunjung ke Indonesia tahun 1990 an silam. Ketika bertemu dengan mantan Presiden Soeharto, Mandela mengenakan Batik pemberian pemerintah Indonesia. Saat terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan pada tahun 1994, Nelson Mandela mengenakan kemeja Batik Indonesia yang berwarna cerah dan terang. Sejak itulah kemeja Batik selalu menjadi ciri khas penampilan Mandela. Yang kemudian dikenal dengan “Madiba Shirt”.

Peristiwa lain yang tak kalah memukau adalah saat perayaan HUT RI ke-72 tahun 2017 kemarin, dimana Presiden Joko Widodo mewajibkan seluruh peserta upacara untuk mengenakan pakaian adat dari masing-masing daerah di Indonesia. Mulai dari Aceh hingga Papua busana terasa ditampilan yang mengundang decak kagum bagi siapa saja yang melihatnya. Presiden sendiri pun tak ketinggalan bertukar pakaian adat dengan Wakil Presiden, adat Bugis yang bertukar dengan adat Jawa. Dalam pesannya beliau menyampaikan bahwa pesan ke-Bhinnekaan haruslah menyentuh kepada setiap lapisan Indonesia. Betapa hebatnya ragam nuansa kain tradisonal yang dimiliki Indonesia.

Masalahnya, tinggal bagaimana mempermudah akses untuk memperoleh kain-kain Indonesia tersebut. Harus diakui, sejauh ini tak mudah memperoleh dan melihat deretan galeri kain-kain tradisional negeri ini di dunia luar. Kita pantas iri dengan India ataupun pakaian tradisional Korea misalnya, yang secara cepat menyebar dan ada di negara-negara lain. Kapan Indonesia bisa seperti mereka, bisa membumikan Batik ataupun Ulos atau kain-kain yang lain sebagai ciri khas negeri khatulistiwa ini ? itulah pekerjaan rumah bagi kita untuk memperkuat diplomasi kebudayaan melalui kain-kain tradisional Indonesia. Menutup penjelasan dengan pernyataan dari Bung Karno: negri kita kaya, kaya, kaya raya, berjiwa besarlah, berimajinasi, gali bekerja, gali bekerja, kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia.

(Tulisan di atas adalah contoh esai, diikutkan dalam lomba Esai bertajuk Kekayaan Indonesia Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Malaysia dan menjadi Top 10 Finalis tulisan terbaik.

Editor             : Aminata Zahriata