Covid-19 Tinggalkan Trauma Positif

(Editor Bahasa/Dok. Pribadi)

Penulis: Nurul Liza Nasution

Hampir setengah tahun lamanya Covid-19 tak usai. Bencana taraf dunia ini semakin merajalela di mana-mana dan banyak memakan korban. Semua upaya sudah dilakukan; isolasi mandiri, karantina wilayah, dan normal baru yang sedang kita jalankan.

Protokol kesehatan juga melekat pada masa ini; selalu menggunakan masker, menjaga jarak dengan orang sekitar, membawa penyanitasi tangan saat berkegiatan di luar rumah menjadi hal biasa bagi kita. Menyediakan tempat pencucian tangan di depan rumah juga sudah terasa wajib dilakukan.

Penulis yakin, setelah masa pendemi ini berakhir, pasti banyak di antara pembaca yang akan tetap melakukan hal yang sama seperti di masa pandemi—meski tidak semuanya, seperti memakai masker ke mana-mana. Setidaknya, sedikit atau banyak orang akan terbiasa memerhatikan keselamatan diri dari penyakit apa pun itu. Apakah ini temasuk trauma?

Ternyata, tidak semua trauma meninggalkan hal yang buruk. Trauma yang ditinggalkan pandemi ini juga memiliki dampak baiknya, walaupun tidak sebesar dari dampak negatifnya. Dan baik buruk tersebut pun bisa terlihat jika kita melihatnya dari berbagai sudut pandang.

Lantas, trauma baik apa saja yang ditinggalkan Covid-19 bagi kita? Pertama, selama masa pandemi ini memakai masker bagai baju yang melekat pada tubuh. Dipakai untuk melindungi kesehatan dan meminimalisir tertularnya Covid-19. Covid-19 yang mematikan, memaksa masyarakat yang malas memakai masker manjadi terbiasa memakainya.

Kedua, menjaga pembatasan fisik dengan orang lain/sekitar. Sebelum munculnya Covid-19, sudah banyak penyatik menular lainnya. Tapi, masyarakat masih kurang peka dan peduli akan hal itu ketika sedang berhimpit-himpitan di eskalator atau di tempat ramai lainnya. Dan semenjak munculnya Covid-19 ini, membuat kita terbiasa menjaga jarak dengan orang lain. Jadi, secara tidak langsung kita melindungi kita dari penyakit menular lainnya.

Ketiga, terbiasa mencuci tangan dari mana pun dan ketika sebelum memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Karena, tidak menutup kemungkinan, di tangan kita ada sarang virus atau bakteri yang dapat masuk ke dalam tubuh.

Keempat, olahraga rutin. Para dokter mengimbau kita untuk selalu melakukan olahraga agar meningkatkan stamina, menjaga badan agar tetap bugar, dan dapat mengecilkan kemungkinan terinfeksi Covid-19. Kelima, memakan makanan yang sehat dan bergizi. Dengan memakan makanan yang sehat dapat meningkatkan metabolisme tubuh kita. Semakin kuat metabolismenya maka, semakin sedikit kemungkinan untuk terinfeksi Covid-19.

Kenapa kelima hal tersebut menjadi trauma yang baik bagi kita? Jawabannya sederhana, Karena kita semua takut terinfeksi Covid-19 dan sebagai bentuk perlindungan diri. Mau tak mau semua hal tadi akan kita lakukan agar terhindar dari Covid-19. Tak terasa, sudah hampir setengah tahun kita semua melakukan hal tersebut. Jadi, secara tidak langsung, Covid-19 sudah meninggalkan trauma yang baik bagi kita.

Latest articles

It’s Okay: Perjalanan Mencari Jati Diri

Judul : It's Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay Genre : Romansa-Drama Sutradara : Park Shin-woo Penulis : Jo...

Tatang Koswara: Sniper Kaliber Dunia

Judul buku : Satu Peluru Satu Musuh Jatuh: Tatang Koswara Sniper Kaliber Dunia Penulis : A. Winardi Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun...

Satgas Covid-19 Jabarkan Tingkat Kesembuhan Semakin Meningkat

Medan, Dinamika Online -Dilansir dari laman resmi Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito menjabarkan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 dalam seminggu terakhir. Tercatat pertanggal 22 September, jumlah...

Addin 322: Bersahabat dengan Al-Qur’an

Penulis: Rafika Hayati Dalimunthe Al-Qur’an adalah kitab mulia yang diturunkan Allah subḥānahu wa ta’āla kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan menjadi tuntunan serta pedoman...

SEMA FSH Helat Diskusi Bedakan Fakta dan Hoaks

Medan, Dinamika Online – Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Syariah Dan Hukum (FSH) mengadakan diskusi media dengan tema "Membedakan Fakta Dan Hoaks". Pemateri pelatihan ini...