Foto: www.google.com

Penulis : Muhammad Hisyamsyah Dani

Sekelumit kisah menarik dapat kita renungkan sebagai kontemplasi dan refleksi diri tentang bagaimana pentingnya mempertanggung jawabkan segala apa yang telah kita perbuat, termasuk apa yang kita makan dan dari mana diperoleh. Sebab, melalui kisah ini kita dapat mengambil hikmah terutama relevansinya dalam mempertanggung jawabkan segala apa yang kita lakukan dan tentu saja berdampak bagi hubungan kita kepada Allah dan hubungan kepada umat manusia. Siapa yang berani menyangka, sebuah kisah inspiratif hanya karena sebutir buah kurma seseorang harus menanggung beban dosa. Apalagi kejadian itu bukan dikalangan orang biasa seperti kita, akan tetapi kejadian ini dialami oleh seorang Ibrahim bin Adham, seorang sufi dan zuhud dalam beribadah kepada Allah Swt.

Sebutir Kurma

Kisah inspiratif Islami ini dimulai ketika Ibrahim bin Adham selesai melaksanakan ritual ibadah haji, Ibrahim bin Adham rahimahullah berniat rihlah ke Masjid Al Aqsa, salah satu masjid bersejarah di Palestina. Sebagai bekal di perjalanan, Ibrahim membeli 1 kg kurma dari seorang pedagang kurma yang sudah berusia lanjut di pelataran Masjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus oleh penjual tua, Ibrahim bin Adham melihat ada satu butir kurma tergeletak di samping timbangan dan bungkusan kurma yang telah di belinya. Tanpa berpikir panjang dan menanyakannya. Ibrahim bin Adham menyangka satu butir kurma itu adalah bagian dari kurma yang ia beli tadi.

Kemudian Ibrahim mengambil dan menikmati kurmanya. Setelah selesai ia langsung berangkat menuju Al Aqsa untuk melaksanakan rihlahnya. Empat bulan setelah kejadian itu, Ibrahim tiba di Masjid Al Aqsa. Seperti kebiasaan yang sering ia lakukan, Ibrahim gemar memilih sebuah tempat ibadah pada salah satu bagian Masjidil Aqsa yaitu ruangan di bawah kubah Sakhra. Ia kemudian shalat dan melantunkan doa dengan khusuk sekali. Ketika khusyuk berdoa, ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya. “Lihatlah orang itu, Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah zuhud dan wara yang sebagian besar doanya selalu diijabahi oleh Allah Swt,” kata salah satu Malaikat. “Tetapi sekarang doanya tidak terijabah lagi. Doanya tertolak dikarenakan empat bulan yang lalu saat ia akan berangkat ke Masjidil Aqsa ini, ia memakan satu butir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang kurma tua di pelataran Masjidil Haram,” jawab Malaikat yang lainnya dengan cepat.

Ibrahim bin Adham sanngat terkejut mendengar sayup-sayup suara Malaikat itu, ia terhenyak dari doa khusyuknya, dalam batinnya ia berkata, jadi selama empat bulan ini semua ibadahnya, shalatnya, puasa, dan doanya atau mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh Allah Swt “hanya” dikarenakan memakan satu butir kurma yang bukan miliknya. “Astaghfirullahaladzhim,” Ibrahim bin Adham mengucapkan banyak istighfar. Dengan segera Ia berkemas dari tempat ibadahnya, kemudian berangkat lagi menuju kota Makkah untuk menemui pedagang tua penjual kurma. Tujuannya jelas, meminta penghalalan atas apa yang dia lakukan terhadap satu butir kurma 4 bulan lalu itu.

Begitu tiba di kota Makkah Ibrahim bin Adham langsung bergegas menuju tempat penjual kurma di pelataran masjid, tetapi ia tidak menemukan pedagang kurma yang berusia tua itu, akan tetapi menemukan ganti seorang anak muda yang sedang berjualan kurma. “Kepada seorang pedagang tua di pelataran masjid ini saya beli kurma 1 kg, kurang lebih empat bulan yang lalu. kemana pedagang tua itu sekarang  berjualan?” Ibrahim bin Adham bertanya. “Abah saya yang berjualan disini waktu itu, beliau sudah meninggal dunia sebulan yang lalu, dan saya sekarang menggantikan pekerjaannya berdagang kurma disini,” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, lalu kepada siapa saya memohon penghalalan atas apa yang sudah saya lakukan, kalau Abahmu sudah meninggal?” Kemudian Ibrahim bin Adham menceritakan peristiwa yang telah dialaminya kurun waktu empat bulan ini, anak muda pedagang kurma itu mendengarkan dengan penuh hormat dan takzim. “Jadi, seperti itulah ceritanya,” kata Ibrahim menyudahi ceritanya, “anak muda, engkau sebagai ahli waris pedagang kurma itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?”. “Saya sebagai ahli waris tidak ada masalah tuan. Insya Allah saya sudah menghalalkan. Tetapi saya tidak tahu, dengan saudara kandung saya yang berjumlah 11 orang itu. Saya jelas tidak berani menghalalkan hak mereka, karena mereka memiliki hak waris yang sama dengan saya sebagai anak Abah”.

Ibrahim bertanya, “lalu, dimana alamat saudara-saudaramu yang lain? Agar saya bisa menemui mereka satu persatu, dan meminta kehalalan atas kurmanya.”Setelah mendapatkan alamat, Ibrahim bin Adham pergi melacak alamat-alamat yang diberikan pemuda itu, kemudian berusaha menemui anak-anak penjual kurma yang berjumlah 11 itu. Meskipun jauh, akhirnya selesai juga perjuangannya memohon kehalalan kurma tersebut. Semua anak pedagang kurma sudah dengan senang hati menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang empat bulan lalu dimakan oleh Ibrahim bin Adham. Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah khusyuk lagi dibawah kubah Sakhra. Sekali lagi ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar kembali lagi bercakap cakap tentangnya. “Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tidak diterima karena telah makan satu butir kurma yang bukan menjadi haknya”.“Ahha, itu tidak benar, sekarang setiap doanya sudah makbul dan diijabah lagi, ia telah berjuang mendapat penghalalan dari semua ahli waris pedagang kurma tua itu. Ibrahim kini sudah menjadi bersih kembali dari kotoran satu butir kurma yang haram karena waktu itu masih milik orang lain. Sekarang ia sudah mendapatkan kehalalannya.” (Diubah seperlunya dari kisah-kisah inspiratif www.Islampos.com)

Integritas manusia khususnya umat Islam saat ini perlu mencontoh dan menjadikan kisah Ibrahim bin Adham sebagai acuan dan contoh teladan. Pengejawantahan integritas diri tentu saja akan berdampak bagi kebaikan terhadap apa yang akan diperbuat setiap manusia. Integritas tentu saja selaras dengan apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat. Integritas juga akan memaksimalkan peran penting dalam pembentukan perilaku yang senantiasa mencerminkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi banyak orang.

Kerakusan dan ketamakan yang merugikan orang lain tentu saja mengakibatkan yang lain akan terzolimi dan teraniaya. Pantaslah kalau disebutkan bahwa koruptor seolah menjadi lintah yang perlahan-lahan mengisap habis apa yang seharusnya bermanfaat untuk orang lain. Belajarlah hidup sederhana dari Rasulullah Saw sebagai suri tauladan dan panutan seluruh alam. Kekayaan dan banyaknya harta belum tentu menjamin kebahagiaan setiap orang. Namun, yang perlu diingat bahwa apapun yang kita miliki dan apapun yang diberikan Pencipta seyogyanya hanyalah titipan dan suatu saat kelak semua akan diminta pertanggungjawaban di Mahkamah Tuhan kelak. Semoga ada manfaatnya. Wallahu ‘Alam

Editor             : Maya Riski