Membunuh untuk Melindungi Diri, Dosa atau Tidak?

- Advertisement -
(Foto: Internet https://megapolitan.okezone.com)

Penulis: Afrianti Safitri

Zaman sekarang kejahatan dalam ruang lingkup masyarakat semakin merajalela. Beberapa kasus yang sering terjadi seperti pencurian, perampokan, pelecehan seksual, hingga pembunuhan masih sering kita jumpai dalam laporan berita di televisi. Dalam situasi seperti ini, tentu kita sebagai korban akan merasa terintimidasi dan panik memikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk membela dan menyelamatkan diri kita. Namun bagaimana jika dalam aksi penyelamatan diri itu secara tidak sengaja kita telah melukai atau bahkan sampai membunuh si pelaku?

Melakukan pembelaan atas keselamatan diri dari pelaku kejahatan bukanlah perkara yang dilarang, meski ada perbedaan pendapat apakah hukumnya wajib atau sekadar boleh. Begitupun melakukan pembelaan atas harta hukumnya mubah menurut pandangan jumhur fuqaha (tidak wajib), meski pembelaan itu harus dilakukan dengan cara membunuh pelaku.

- Advertisement -

Dalam Islam, pencurian dan pembunuhan keduanya merupakan jarimah (tindak kriminal), pelakunya diancam dengan hukuman yang berat sebagaimana  ditetapkan syariat. Islam menetapkan hukum potong tangan bagi pencuri dan qisash (hukum mati) bagi seorang pembunuh. Bedanya, pencurian merupakan hudud, sehingga setelah kasus diajukan ke pengadilan tidak seorang pun yang bisa memberikan pemaafan (pembatalan hukuman), walaupun diberikan oleh korban itu sendiri. Sementara pembunuhan merupakan jinayat, dimana syariat memberikan hak pemaafan kepada korban agar tidak diterapkan qishas kepada pembunuh, namun cukup diganti dengan membayar diyat.

Balasan bagi seorang pembunuh dalam Islam telah dijelaskan dalam Surah An-Nisa ayat 93 yang artinya: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah (neraka) Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya,” (An-Nisa: 93)

Hal ini membuktikan bahwa membunuh adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah Subhanahu wa ta’ala dan haram untuk dilakukan. Namun, bagaimana jika pembunuhan tersebut dilakukan dengan alasan untuk melindungi diri? Hal ini juga telah diatur dalam firman Allah yang berbunyi: “Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 194)

Jika pelaku melakukan kekerasan seperti memukul dengan benda yang keras, maka tidak apa-apa jika memukulnya kembali. Jika dia mencoba mengambil kehormatan atau bahkan hendak membunuh, maka dia harus dibunuh. 

Dalam firmannya Allah Subhanahu wa ta’ala juga pernah berkata bahwa haram bagi seseorang jika berpasrah diri saat hendak dilukai atau dilecehkan. Namun, jika pada situasi itu dia mendapat serangan panik, di mana seluruh tubuhnya tiba-tiba saja membeku dan membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa hingga akhirnya terbunuh maka dia disebut mati syahid.

Terkait orang yang membunuh karena membela hartanya, Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah: “bagaimana menurutmu jika ada seseorang yang hendak mengambil hartaku?”. Beliau menjawab: “jangan kau berikan”. Laki-laki itu bertanya lagi: “Bagaimana jika ia menyerangku?”. Beliau menjawab: “Engkau lawan”. Ia bertanya lagi: “Bagaimana jika ia berhasil membunuhku?”. Beliau menjawab: “kamu syahid”. Ia bertanya lagi: “Bagaimana jika aku yang berhasil membunuhnya?”. Beliau menjawab: “Dia masuk neraka.” (HR. Muslim).

Selain pelaku dan korban di tempat kejadian, tentu di beberapa situasi terdapat orang ketiga. Di mana orang tersebut mungkin saja menyaksikan tindakan tercela yang seharusnya tidak boleh dibiarkan terjadi. Sebagai sesama manusia yang memiliki hati nurani, sudah seharusnya menghentikan hal tersebut sebelum terlambat. 

Peringatan tentang seorang mukmin yang harus menghentikan kejahatan yang ia lihat telah diatur dalam Hadis Rasulullah yang berbunyi: ”Siapa saja yang menyaksikan seorang mukmin dihinakan, lalu ia tidak menolongnya padahal ia mampu untuk melakukannya, niscaya Allah Saw. akan menghinakannya di hari kiamat di hadapan manusia.” (HR. Ahmad) 

Maka, dapat disimpulkan bahwa pembunuhan yang dilakukan secara sengaja adalah suatu perbuatan dosa yang haram dilakukan dan sangat dilaknat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Seseorang yang sedang dalam bahaya hendaknya berusaha menyelamatkan diri dengan cara apa pun, lakukan pembalasan yang setimpal bahkan jika harus membunuh maka diperbolehkan membunuh. Karena haram baginya bila hanya berpasrah diri. Seorang mukmin yang melihat mukmin lain sedang dihinakan wajib baginya untuk menolong jika mampu, dan jika dia tidak maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan sangat membencinya dan menghinakannya di hari kiamat.

Editor: Dita Saharani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles