Masih Bertahan dalam Bosan?

(Ilustrator/Ditanti Chica Novri)

Penulis: Muhammad Tri Rahmat Diansa

Beberapa bulan sudah terlewat dan kita masih dipisahkan oleh jarak, sebab pandemi yang seolah tak ingin mengakhiri. Rasa bosan, jenuh, putus asa selalu datang, menanti sebuah pertemuan yang tak kunjung tercapai. Di sinilah rasa solidaritas kita diuji, seberapa kuat sebuah persahabatan dan pertemanan walau dipisahkan oleh jarak jauh.

Pun begitu kita mesti bangkit, sebagai pemuda haruslah memiliki semangat yang selalu membara, apapun keadaannya kita pasti bisa, kita harus yakin dan tanamkan selalu semangat di dalam jiwa seakan kita selalu bersama, walau jarak memisahkan kita.

Mari kita bersyukur, bahwa saat ini masih diberi nikmat kesehatan oleh Allah hingga terhindar dari Covid-19. Kita masih bisa berkuliah, meski hanya menatap layar gawai, mengikuti kegiatan seperti organisasi walau juga hanya melalui gawai. Sesekali harus kita resapi bahwa sebuah musibah pasti ada hikmah di balik itu semua. Ketika ada yang menanyakan kabar kita ingatlah bahwa persahabatan itu tidak terukur oleh jarak dan waktu.

Mari kuatkan diri jangan terlalu banyak mengeluh. Tidak ada salahnya kita menghadapi semua ini dengan ikhlas dan tabah. Insya Allah dengan hati ikhlas semua yang kita jalani terasa nyaman dan tidak ada perasaan yang memberatkan.

Sampai kapan kita akan terus mengeluh? Pun mengeluh tidak akan berpengaruh dengan keadaan saat ini. Mengeluh hanya akan menambah beban pikiran dan membuang-buang waktu, mulailah bergerak dan jangan terlalu banyak berpikir. Setiap tanggung jawab yang ada di depan kita mengartikan bahwa Allah dan orang lain percaya kita sanggup menyelesaikannya.

Buang semua rasa bosan, paksa bila perlu. Diri ini tak akan berubah jika tidak ada paksaan. Seperti makan; kalau kita tidak mau untuk mengambil nasi dan piring pasti akan lapar terus-terusan. Sama halnya dengan keinginan serta tanggung jawab yang lain, semua tidak akan terwujud apabila kita hanya duduk diam dan tidak mau bertindak.

“Kebosanan sering menjadi awal munculnya kreativitas yang hebat.” Robert M. Pirsig

Editor: Nurul Liza Nasution