Pulau Sikantan, Legenda Malin Kundang dari Sumut

0
Foto: Travelscapeengineer.com

Penulis: Muhammad Ibrahim

Jika bicara soal Malin Kundang, perhatian kita pasti mengarah pada sebuah cerita rakyat asal Sumatera Barat yang sudah sangat dikenal legendanya, cerita itu berkisah tentang seorang pemuda di perkampungan nelayan Pantai Air Manis, yang mendapat murka Allah akibat durhaka pada orang tuanya.

Malin Kundang adalah salah satu contoh korban azab yang sangat tragis. Akibat kedurhakaannya, tubuhnya yang elok diubah Allah menjadi batu dengan posisi tersungkur, yang bentuknya dapat dilihat oleh masyarakat hingga sekarang. Lokasi keberadaan batu ini berada di pinggir perairan dan menjadi salah satu tujuan wisata jika berkunjung ke Sumatera Barat.

Namun, legenda Malin Kundang ternyata bukan satu-satunya cerita rakyat yang berkisah tentang azab durhaka pada orang tua. Masih ada legenda lain seperti Batu Menangis asal Kalimanan Barat, Gunung Batu Bangkai dari Kalimanan Selatan, Si Lancang dari Riau, dan kisah-kisah lain yang lokasinya menjadi salah-satu tempat wisata saat ini. Begitu pula dengan Pulau Sikantan, sebuah pulau yang muncul di tengah laut di daerah pesisir pelosok Sumatera Utara.

Sama seperti Malin Kundang, Pulau Sikantan juga dipercaya masyarakat setempat sebagai fenomena yang muncul akibat kedurhakaan anak pada orang tuanya. Pulau ini berada di tengah-tengah Sungai Barumun di Desa Labuhan Bilik, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu, atau sekitar 213 kilometer dari Kota Medan.

Istilah Pulau Sikantan berasal dari seorang anak yatim bernama “Kantan”, yang tinggal di gubuk mini bersama ibunya di sebuah kampung kecil di Labuhan Bilik, puluhan atau ratusan tahun lalu. Mereka adalah satu keluarga dengan latar belakang ekonomi tersusah jika dibandingkan dengan masyarakat yang lain. Kantan yang masih kecil saat itu harus berjuang mati-matian membantu ibunya mencari kayu untuk dijual ke pasar. Kantan anak yang rajin, tekun dan lincah dalam bekerja.

Hingga pada suatu waktu saat Kantan mulai dewasa, ibunya bermimpi didatangi seorang lelaki tua yang memberikan satu petunjuk, bahwa di lokasi mereka mencari kayu, ada sebuah tongkat emas tertimbun di dalam tanah lalu dianjurkan untuk segera digali.

Petunjuk itu pun dilakukan Kantan dan ibunya. Mereka pergi ke lokasi yang dimaksud kemudian menggali satu demi satu bongkaran tanah, hingga membentuk lubang yang cukup dalam. Benar saja, tongkat emas sesuai apa yang disebut dalam mimpi benar-benar terlihat di kehidupan nyata. Tongkat itu dipercaya mengandung banyak muatan emas yang sulit dinilai harganya. Tongkat itu kemudian diangkat dari tanah lalu dibawa pulang untuk dijual ke pasar. Benda unik dan langka itu tentu harus dibayar dengan harga yang langka pula.

Sayangnya tidak ada satu pun warga di Labuhan Bilik yang bisa membeli tongkat itu. Berdasarkan arahan masyarakat, tongkat itu sebaiknya dijual di kampung seberang di Negeri Malaka (sekarang Malaysia).

Si Kantan kemudian izin pamit ke ibunya untuk merantau ke Malaka selama beberapa waktu. Meski tak tega melepas si buah hati, ibunya terpaksa merelakan keberangkatan Kantan dengan tongkat emas yang mudah-mudahan laku di sana. Tidak ada harapan murni ibu terhadapnya, selain ia harus kembali ke rumah dengan selamat. Kantan kemudian berangkat ke Malaka menaiki perahu nelayan.

Berminggu-minggu Kantan terombang-ambing di lautan, makan dan minum di atas perahu dalam waktu yang cukup lama. Hingga pada pemberhentiannya, Kantan akhirnya sampai di sebuah desa di Malaka, desa yang makmur dipimpin raja yang sangat ramah.

Desa terasa sepi setelah Kantan tidak lagi berada di rumah. Labuhan Bilik seperti desa mati setelah kabar Kantan tidak pernah terdengar lagi, begitulah perasaan ibunya di gubuk kecil bersama kayu-kayu bakar yang tersisa. Bertahun-tahun ibu itu tidak mendapatkan kabar dari Kantan, tidak ada surat, tidak ada yang bertitip salam. Terlepas apakah ia masih hidup atau sudah mati, Kantan tetaplah dinantikan kabarnya, tetap pula dinantikan kepulangannya. Bertahun-tahun ibunya meratapi kesepian hingga usianya makin renta.

Saat usianya sudah renta, tiba-tiba sebuah kapal dengan muatan besar merapat ke pelabuhan Labuhan Bilik. Kapal itu dipenuhi banyak pengawal kerajaan dengan seragam-seragam yang elok dan mewah. Di antara para pengawal, terlihat seorang pemuda yang sangat dihormati bersama istrinya berdiri melihat-lihat ke arah pelabuhan. Pemuda itu disebut-sebut bernama Kantan, sedang istrinya merupakan anak raja Malaka yang dinikahkan dengannya. Kabar itu pun sampai ke telinga ibu Kantan.

Ibu kantan dengan suasana gembira kemudian mendayung perahunya kuat-kuat ke arah pelabuhan, seperti tidak sabar ingin bertemu kembali dengan Kantan. Namun saat perahunya mulai merapat mendekati kapal, Kantan tiba-tiba melontarkan reaksi yang buruk. Kantan tidak mengakui wanita renta dalam perahu itu sebagai ibunya, Kantan bersikokoh meyakinkan bahwa ibunya tidak secompang-camping itu, tidak mungkin sekumuh itu. Perbuatan durhaka itu ia lakukan karena merasa malu, meski hatinya sebenarnya mengakui. Kantan kemudian memutar kapal, lalu pulang kembali ke Malaka.

Wanita renta itu benar-benar tersakiti, rasa sesak bercampur duka tidak bisa lagi ia gambarkan bagaimana pedihnya. Perlakuan tidak pantas seorang Kantan yang harusnya membalas budi justru tidak didapatkannya. Ibu Kantan menangis deras, kepiluan hatinya membuat ia tersungkur lalu berdoa pada Allah agar anaknya diberi peringatan.

Benar saja, belum kering air mata, awan tiba-tiba mendung, langit yang awalnya cerah berubah hitam menyeramkan disertai petir dan kerasnya gemuruh. Seketika angin kencang bertiup ke sana-sini tak tentu arah, membuat ombak lautan bergelombang setinggi-tingginya. Ombak itu kemudia mengarah pada kapal Kantan yang masih berada di tengah-tengah Sungai Barumun.

Kantan, istrinya, dan semua yang ada di dalam kapal terombang-ambing, terlempar ke sana-sini. Jeritan setiap orang di dalam kapal entah mengarah pada siapa, tidak ada penolong di sana, tidak pula ada pegangan yang bisa dijadikan tumpuan. Mereka hanya tau, Kantan adalah penyebab utama bencana ini. Beberapa saat kemudian, tanpa ampun ombak menghancurleburkan Kapal Kantan dan semua yang ada di dalamnya.

Sesaat setelah kejadian itu, tiba-tiba muncul sebuah pulau di tengah-tengah Sungai Barumun, yang dipercaya sebagai tempat tenggelamnya kapal Kantan.

Masyarakat setempat pun akhirnya menamai pulau itu dengan sebutan “Pulau Sikantan”. Sedangkan desa tempat Kantan dan Ibunya tinggal kemudian diberi nama Desa Sungai Durhaka, namun setelah Indonesia merdeka, desa itu beralih sebutan menjadi Desa Sungai Merdeka.

Desa Sungai Merdeka dan Pulau Sikantan masih dapat kita temui sampai sekarang, dua tempat ini mengundang daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Utara.

Editor: Rindiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.