Addin 381: Delapan Petuah Bijak Sayidina Ali kepada Anaknya 

- Advertisement -
(Ilustrator: Lelya Hilda Amira Ritonga)

Penulis: Ilham Pratama Siregar

Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu sahabat sekaligus kerabat dekat nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam. Ia dijuluki dengan “Mustawda’ul ‘ilmi” atau gudangnya ilmu pengetahuan. Julukan itu diberikan kepada Sayidina Ali karena tak lain dari kecerdasan yang dimilikinya. Setiap perkataannya akan selalu menjadi renungan dan hikmah bagi yang mendengarkan.

Suatu ketika menjelang kematian Sayidina Ali, Beliau pernah memberikan petuah kepada anaknya Hasan. Di mana Sayidina Ali menyampaikan delapan perkara yang harus dijaga dan diamalkan oleh anaknya agar hidupnya jauh dari malapetaka. 

- Advertisement -

“Wahai anakku (Hasan), tetaplah pada empat dan empat perkara, yang apabila kamu kerjakan tidak akan membahayakanmu, yaitu:”

  1. Kekayaan sesungguhnya yang dimiliki manusia adalah akal

Akal merupakan sebuah karunia agung yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada Bani Adam. Dengannya kita dapat membedakan mana yang bermanfaat dan berbahaya. Dengan akal manusia dapat berinovasi dan membangun sebuah peradaban besar sampai saat ini, karena akal menjadi syarat dalam mempelajari beragam bidang keilmuan. Akal juga menjadi syarat untuk semua amalan kita baik, sempurna, dan lengkap. Sudah seharusnya kita menjaga dan memanfaatkan akal guna keselamatan dan kebahagiaan kita di dunia maupun di akhirat.

2. Kemiskinan sesungguhnya yang dimiliki manusia adalah kebodohan

Sebaliknya, kobodohan sungguh mengantarkan manusia kedalam kemiskinan karena manusia yang akan tidak mampu untuk membedakan antara yang bermanfaat dan berbahaya, antara pekerjaan yang wajib untuk ia kerjakan ataupun ditinggalkan. Sehingga manusia yang memiliki sifat ini akan cenderung jatuh dalam kebinasaan dan kegagalan. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah juga pernah mengatakan “Dan kebodohan itu adalah penyakit yang mematikan. Obatnya adalah dua perkara yang disepakati, yaitu nash dari Al-Qur’an atau dari sunah. Dokternya adalah seorang alim yang rabbani”. 

3. Seburuk-buruknya sifat yang dimiliki manusia adalah ujub atau berbangga diri

Ujub atau berbangga diri merupakan sifat tercela yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Manusia yang merasa bangga akan dirinya karena kepintaran, keterampilan, kehebatan, atau hal-hal lainnya yang dia rasa hanya dimilikinya seorang diri dapat mengantarkan ia kepada kekecewaan, kegagalan dan kesengsaraan, serta pada akhirnya menimbulkan sifat sombong dan ria. Padahal yang harus kita pahami ialah segala yang ada di dunia ini termasuk kelebihan yang kita punya, tak lain merupakan karunia pemberian Allah Subhanahu wa ta’ala yang harus dijaga dan disyukuri.

4. Semulia-mulianya keturunan adalah memiliki akhlak yang baik

Akhlak merupakan kunci bagi kehidupan kita di dunia dan akhirat. Dengan akhlak yang baik dan berlaku sopan santun menjadi satu-satunya alasan yang dapat mengantarkan manusia pada kehormatan dan derajat yang tinggi di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala dan manusia lainnya. Sehingga lazim untuk kita menghiasi dan membiasakan diri berbuat baik, berlaku sopan dan santun, karena nilai yang terdapat pada diri setiap orang akan dilihat dari moral, etika atau akhlaknya.

5. Janganlah berteman dengan orang bodoh, karena ia hanya akan memanfaatkan dirimu dan tidak memberikan manfaat bagimu

Sayidina Ali menasehati Hasan untuk tidak berteman dengan orang bodoh, karena pertemanan itu akan membawa kerugian dalam hidupnya. Pertemanan seperti ini hanya akan memanfaatkan kita dengan kebodohannya dan sama sekali tidak mendatangkan manfaat kecuali membawa bahaya serta kesulitan. 

6. Janganlah kamu berteman dengan orang kikir, karena ia selalu menjauh saat kamu membutuhkannya

Pertemanan yang dijalin dengan orang seperti ini juga tidak memberikan manfaat yang baik untuk kita. Orang yang kikir enggan memberikan bantuannya kepada kita ketika sedang membutuhkannya dengan harta, pikiran atau apapun itu yang dimilikinya. Sehingga, pertemanan ini tidak akan menguntungkan kita sama sekali, malah akan menjauhkan kita dari segala apa yang kita butuhkan, tujuan, serta cita-cita.

7. Jangan berteman dengan orang jahat, karena ia akan selalu mengajakmu untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat

Tinggalkanlah pertemanan dengan orang-orang yang tidak bermoral. Mereka yang gemar melakukan kejahatan. Jika berteman dengannya, kita akan terjerumus bersamanya akibat buruk perbuatannya dan jatuh bersamanya ke dalam jurang kehinaan.  

8. Jangan berteman dengan pendusta, karena ia ibarat fatamorgana, dari dekat ia terlihat jauh dan dari jauh ia terlihat dekat

Jika kita ingin mencapai segala harapan dan cita-cita, maka hindarilah untuk berteman dengan pendusta. Jangan percaya dengan kata-katanya dan jangan pula mengandalkan janjinya, karena janji yang diberikannya gemar ia ingkari dan kerap mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan kenyataannya. Pada akhirnya, ia akan memberi kerugian terhadap kita. Teman yang pendusta akan tampak seolah-olah ingin membantu kita mencapai segala harapan dan cita-cita, tetapi kenyataannya ia akan menghalangi untuk menggapainya.

Biodata Penulis:

  • Nama: Ilham Pratama Siregar
  • Fakultas: Ilmu Sosial
  • Jurusan: Ilmu Komunikasi
  • Semester: VII (Tujuh) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles