Addin 380: Larangan Ucapan ‘Selamat Natal’ bagi Muslim

- Advertisement -
(Ilustrator: Syifa Zanjabila)

Penulis: M. Aulia Firdaus

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multikultural, sebab terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan. Namun, kemajemukan ini menimbulkan polemik tertentu pada masyarakat. Di antaranya adalah terkait hukum ucapan selamat natal bagi Muslim yang diucapkan kepada Nasrani (kristiani). Polemik ini hampir terjadi di setiap tahun. Berhubung kasus ini erat kaitannya dengan istinbath al-hukmi, maka penulis akan mengulas hukum ucapan selamat natal dengan menggunakan perspektif fikih yang akan dikaitkan juga dengan akidah dan akhlak.

Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama kontemporer, disebabkan oleh ijtihad dalam memahami generalitas ayat atau hadis yang kiranya terkait dengan kasus ini. Contohnya perbedaan sikap yang diambil oleh para ulama kontemporer seperti Ibn Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Ali Jum’ah, Yusuf al-Qardhawi, Habib Ali Aljufri, Buya Hamka, dan ulama kontemporer lainnya.

  • Dasar hukum yang memperbolehkan
- Advertisement -

Para ulama yang memilih sikap untuk membolehkan ucapan selamat natal bagi Nasrani mendasari hukumnya pada firman Allah dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al-Mumtahanah: 8).

Pada ayat tersebut, Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa perbuatan baik (ihsan) kepada siapa saja itu tidak dilarang, selama mereka tidak memerangi dan mengusirnya dari negerinya. Sedangkan, mengucapkan selamat natal merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada orang non-Muslim, sehingga perbuatan tersebut diperbolehkan.

Selain itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu) Nabi Sallallahu alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi Sallallahu alaihi wasallam  mendatanginya untuk menjenguknya. Lalu, beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata: ‘Masuk Islam-lah!’ Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata, ‘Taatilah Abul Qasim (Nabi Sallallahu alaihi wasallam). Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi Sallallahu alaihi wasallam keluar seraya bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka”. (HR. Al-Bukhari No. 1356-5657). 

Pada hadis tersebut, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam memberi teladan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada non-Muslim. Sehingga mengucapkan selamat natal yang merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada non-Muslim pun diperbolehkan, walaupun bukan dalam keadaan darurat. Ucapan tersebut diperbolehkan selama tidak mengganggu akidahnya terhadap Allah dan Rasul-Nya serta tidak mendukung keyakinan Nasrani tentang kebenaran peristiwa natal.

Ulama kontemporer yang mendukung pendapat ini di antaranya Yusuf al-Qardhawi, Musthafa Zarqa, Abdullah bin Bayyah, Ali Jum’ah, Habib Ali Aljufri, Quraish Shihab, Abdurrahman Wahid, Said Aqil Sirodj, dan lain sebagainya.

  • Dasar hukum yang mengharamkan

Para ulama yang memilih sikap untuk mengharamkan ucapan selamat natal bagi Nasrani mendasari hukumnya pada firman Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam surat Al-Furqan ayat 72, “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. (QS. Al-Furqan: 72).

Pada ayat tersebut, Allah Subhanahu wa ta’ala menjanjikan bagi orang yang tidak memberikan kesaksian palsu dengan martabat yang tinggi di surga. Sedangkan, apabila seorang Muslim mengucapkan selamat natal berarti dia telah memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan Nasrani tentang hari natal. Konsekuensinya adalah ia tidak akan mendapatkan martabat yang tinggi di surga. Dengan demikian, mengucapkan selamat natal tidak diperkenankan.

Selain itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian kaum tersebut”. (HR. Abu Daud No. 4031).

Pada hadis tersebut, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mewanti-wanti umat Islam terhadap perbuatan tasyabbuh terhadap non-Muslim. Dalam kaidah Bahasa Arab, kata tasyabbuh berasal dari Wazan tafa’ul yang bermakna muthawa’ah (menurut), takalluf (memaksa), dan tadarruj (bertahap atau parsial) dalam melakukan suatu perbuatan. Sehingga, dari wazan ini tasyabbuh memiliki faidah perbuatan yang dilakukan sedikit demi sedikit, yang awalnya barangkali ia merasa terpaksa/ikut-ikutan dengan perbuatan tersebutsampai kemudian ia menurut dan terbiasa mengerjakannya.

Dengan kata lain, siapa saja menyerupai suatu kaum maka ia lama kelamaan akan tunduk kepada mereka. Oleh sebab itu, hendaknya seorang Muslim tidak bermudah-mudahan dalam melakukan perbuatan yang menyerupai orang non-Muslim, sebab ia merupakan pintu menuju ketundukan kepada mereka. Sehingga, sikap tegas dengan kaidah saddud dzari’ah (menutup pintu keburukan) merupakan suatu kaidah yang tepat dalam kasus ini agar akidah kita tidak tergoyahkan akibat ikut-ikutan mengucapkan selamat natal sebagaimana yang dilakukan oleh Nasrani.

Dengan demikian, umat Islam yang mengucapkan selamat natal kepada Nasrani berarti telah melakukan tasyabbuh sekaligus memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan Nasrani tentang kebenaran peristiwa natal. Sehingga, kasus ini masuk juga ke dalam ranah akidah yang berkompromi antara tauhid dengan syirik. Atas dasar inilah hukum ucapan tersebut diharamkan secara tegas.

Ulama kontemporer yang mendukung pendapat ini di antaranya Ibn Baz, Ibnu Utsaimin, Buya Hamka (Abdul Malik Karim Amrullah), Buya Yahya (Habib Yahya Zainul Ma’arif), Ibrahim bin Ja’far, Ja’far At-Thalhawi, Khalid Basalamah, Abdul Somad, Adi Hidayat, dan lain sebagainya. 

Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa para ulama kontemporer berbeda pendapat tentang hukum ucapan selamat natal. Ada yang mengharamkan, ada pula yang memperbolehkan. Maka, perbedaan semacam ini hendaknya tidak boleh menjadikan internal umat Islam di Indonesia semakin terpecah hanya diakibatkan oleh perbedaan pemilihan sikap dalam kasus ini.

Apabila kita memilih sikap untuk memperbolehkannya, pastikan bahwa pembolehan tersebut demi menjaga kedamaian dan kerukunan antar umat beragama dengan tetap menjaga akidah kita sebagai seorang Muslim. 

Apabila kita memilih sikap untuk mengharamkannya, pastikan bahwa pengharaman tersebut merupakan bentuk ghirah kita dalam menjaga prinsip akidah umat Islam yang tegas, namun tetap menjaga nilai-nilai toleransi antar umat beragama dengan bentuk yang berbeda. Akhirnya, nanti kita akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala di yaumul hisab (hari kiamat).

Biodata Diri:

  • Nama: M. Aulia Firdaus
  • Fakultas: Syariah dan Hukum
  • Jurusan: Hukun Keluarga Islam
  • Semester: III (Tiga)
  • Instagram: @mhdfirdauss_04

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles