Addin 379: Ucapan Adalah Cerminan Diri Seseorang

- Advertisement -
(Ilustrator: Syifa Anggraini)

Penulis: Wan Tiara

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl 16:125). 

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang paling sempurna. Kesempurnaan ini membuat manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya, karena bisa mengendalikan pancaindra yang melekat pada dirinya. Dengan pancaindra manusia bisa melakukan sesuatu dengan mudah. Di antaranya, pancaindra yang luar biasa gunanya dan luar biasa juga bahayanya, yaitu lisan atau ucapan.

- Advertisement -

Dengan lisan, kita dapat merasakan kebahagian sekaligus menyakiti orang, membuat orang menangis di saat yang sama juga bisa membuat orang tersenyum. Tak jarang pula perdamaian dan permusuhan yang tumbuh di sekitar kita itu sebab dari perbuatan lisan kita (ucapan).

Ada salah satu pepatah Arab mengatakan, “Sesungguhnya lisan ibarat binatang buas. Jika engkau ikat, niscaya ia menjagamu. Jika engkau lepas, niscaya ia menerkammu. Atas dasar ini hendaklah berkata sekadarnya dan hendaklah engkau berhati-hati dengannya”.

Lisan itu ibaratkan pisau yang apabila salah menggunakannya maka akan melukai banyak orang. Mukmin sejati adalah orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sepenuh hati, totalitas, dan kafah. Salah satu ciri dari orang Mukmin sejati, antara lain, seperti disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, ”Seorang Mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, keji, dan ucapannya kotor”. (HR. Al-Bukhari).

Jadi, Mukmin itu adalah orang yang tidak suka mengumpat, mengutuk, berkata keji, dan berkata kotor. Ini semua berkaitan dengan lisan dan ucapan seseorang. Dengan kata lain, Mukmin sejati adalah yang senantiasa mengontrol dan menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak baik. Baik itu berbicara dengan seseorang di dunia nyata maupun di dunia maya (internet).

Banyak kita saksikan di jalanan, mereka yang tidak menjaga lisannya, misalnya, kata-kata kotor berhamburan saat terjadi cekcok antar pengemudi kendaraan yang disebabkan macet, kendaraan yang berhenti sembarangan, ataupun hanya karena bersenggol sedikit saja.

Di dunia maya tidak kalah parah, justru semakin merebah luas perkataan kotor tanpa ada filter terlebih dahulu. Misalnya kata-kata yang tidak pantas, caci-maki, hujatan, hingga fitnah berhamburan tanpa terkendali. Kritik yang mestinya disampaikan dengan santun dan beradab justru tersampaikan dengan cara-cara yang sebaliknya. Pada akhirnya, bukannya kebaikan yang muncul, justru keburukan. 

Mukmin sejati selalu menjaga lisan. Lisannya selalu digunakan untuk kebaikan karena, kata-kata sesungguhnya adalah cerminan dari hati. Hati yang baik akan mengeluarkan kata-kata yang baik. Sementara, hati yang buruk akan mengeluarkan kata-kata yang buruk juga. Mukmin sejati hatinya jernih, bersih, dan penuh dengan cahaya petunjuk dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka, yang keluar dari lisan pun kata-kata yang jernih, bersih, dan selaras dengan petunjuk Allah Subhanahu wa ta’ala.  

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mewanti-wanti secara tegas, “Sesungguhnya seorang hamba itu berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan (baik atau buruknya), maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mengingatkan akibat buruk dari lisan. Dari Sufyan bin Abdillah r.a., ia berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku jadikan pegangan”. Rasulullah menjawab, “Katakanlah Tuhanku adalah Allah lalu istikamahlah”. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan atas diriku?” Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam menunjuk lisannya sendiri dan berkata, “Ini”. (HR. Tirmidzi).

Ketika Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam neraka, beliau menjawab: “Dosa lisan dan kemaluan”. (HR. Tirmidzi). Keharusan menjaga lisan tidak sekadar menjaga hubungan baik antar sesama. Lebih dari itu, mengelola lisan merupakan refleksi iman. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau (kalau tidak bisa) maka hendaknya ia diam.” (HR. Muslim). 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaf 50: 18). Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha dalam kitabnya Al-Wafi fi Syarhil Arba’in An-Nawawiyah menambahkan, etika orang beriman dalam bermuamalah dengan sesamanya adalah memperhatikan adab dalam berbicara dengan cara:

  1. Seorang Muslim hendaknya berusaha membicarakan hal-hal yang mendatangkan manfaat dan tidak mengucapkan ucapan yang tidak diperbolehkan. Perkataan yang tidak berguna itu di antaranya gibah, namimah, dan mencela orang lain. 
  2. Tidak banyak bicara, karena banyak bicara bisa menjerumuskan kepada hal yang dilarang ataupun makruh. Sabda Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, “Janganlah kalian banyak bicara yang bukan zikir kepada Allah. Karena banyak bicara yang bukan zikir kepada Allah, akan membuat hati keras. Manusia yang paling jauh dari Tuhannya adalah yang hatinya keras”. (HR Tirmidzi).
  3. Wajib bicara ketika diperlukan, terutama untuk menjelaskan kebenaran dan amar makruf nahi mungkar. Ini adalah sikap mulia yang jika ditinggalkan termasuk pelanggaran dan berdosa. Orang yang mendiamkan kebenaran pada dasarnya adalah setan. Jika kita dapat menata lisan dari perkataan yang mengandung kebatilan, seperti umpatan, hardikan, penghinaan, ejekan, olok-olokan, adu domba, dan hasutan, niscaya tidak akan ada perselisihan dan perdebatan yang berkepanjangan di tengah masyarakat. 

Menjaga lisan merupakan jaminan bagi hamba untuk masuk surga. Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menjamin untukku sesuatu yang berada di antara jenggotnya (mulut) dan di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga”. (HR. Bukhari).

Biodata Penulis:

  • Nama : Wan Tiara
  • Jurusan : Ilmu Komunikasi
  • Fakultas : Ilmu Sosial
  • Semester : III (Tiga)
  • Instagram : @wantiara24

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles