Addin 378: Minimalist Lifestyle Ala Rasulullah

- Advertisement -
(Ilustrator: Syifa Anggraini)

Penulis: Widya Kartika

Sebagai hamba yang mencintai Allah, maka sudah selayaknya bagi seorang Muslim untuk menapaki jejak kekasih-Nya dalam segala aspek kehidupan. Pernyataan ini senada dengan kalam Allah dalam kitab suci-Nya.

“Katakanlah (Muhammad) ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31). 

- Advertisement -

Ada begitu banyak sunah Rasulullah yang dapat diimplementasikan sebagai bukti penghambaan manusia kepada Sang Pencipta. Satu di antaranya ialah minimalist lifestyle. Minimalist lifestyle adalah sebuah gaya hidup sederhana yang berorientasi pada perhatian dan nilai kecukupan individu. Hal ini erat kaitannya dengan perasaan puas terhadap apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan. Tidak berlebihan dan jauh dari kemewahan.

Jika ditarik benang lurus, maka tampaklah bahwa gaya hidup ini telah digunakan oleh Rasulullah sejak 1.400 tahun yang lalu. Seorang nabi dan rasul, pemimpin umat, dan kepala negara yang hidup dengan begitu sederhana.

Suatu ketika Umar bin Khattab datang ke rumah Nabi. Lantas ia menangis tersedu-sedu menyaksikan Nabi yang tidur hanya beralas tikar bolong dari pelepah kurma. Ia membandingkan alas tidur Nabi dengan permadani milik Raja Persia dan Kaisar Romawi yang megah nan mewah. Lalu Nabi menyenangkan hati Umar dengan kalimat “Kebahagiaan mereka hanya sebatas dunia. Akhiratlah akan berpihak pada kita”. 

Kekasih Allah, Muhammad Sallallahu alaihi wasallam merasa malu apabila diberi emas sebesar Gunung Uhud namun dalam tiga hari tidak habis dibagikan kepada kaum fakir. Suami tercinta Sayyidah Khadijah ini tidak biasa membiarkan harta bermalam bersamanya. Semua akan habis beliau bagikan kepada siapa saja yang membutuhkan.

Dikisahkan dalam Hadis Riwayat Muslim Nomor 486 bahwa ketika Siti Aisyah tidur tanpa sengaja tangan beliau menyentuh telapak kaki Nabi yang sedang sujud dalam salat malamnya. Hal ini menggambarkan betapa sempitnya rumah Nabi. Diceritakan pula dalam Sahih Ibnu Hibban, Juz 9/Sofhah  327 bahwa Nabi pernah berkurban seratus ekor unta pada tahun 10 Hijriah ketika Haji Wadak. Lalu, apakah Nabi seorang yang miskin? Ataukah Nabi seorang yang kaya? Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam adalah orang yang miskin urusan dunia, namun kaya urusan akhirat. Demikian tutur Ustaz Adi Hidayat yang pernah mengenyam pendidikan pascasarjana di Islamic Call College, Tripoli, Libya.

Jika melihat umat manusia pada saat sekarang, mereka yang mengikuti gaya hidup Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam ini hanya dapat dihitung jari. Padahal jika seseorang memahami hakikat kesederhanaan, sungguh kebahagiaan batin akan mudah dicapai. Lebih dari pada itu, seorang Muslim yang menerapkan minimalist lifestyle dengan niat meniru Rasulullah, maka investasi akhiratnya akan bertambah. Artinya, orang tersebut dinilai sebagai umatnya yang mengamalkan sunah. 

Ada tiga langkah awal untuk memulai hidup minimalis. Hal ini didasarkan pada personal experience penulis. Berikut ulasannya:

  • Renungkan Kehidupan Setelah Kematian

Seorang Muslim yang menyadari bahwa tiada keabadian dalam kehidupan dunia tentu akan menghindari yang berlebihan dalam segala hal. Sebab jika waktunya di dunia telah usai, maka seluruh yang ia punya tiada berguna, selain amal kebaikan.

  • Berhenti Membeli Barang yang Tidak Dibutuhkan

Menahan lapar dari segala yang membatalkan niat untuk memulai gaya hidup minimalis tidaklah mudah. Namun, jangan menyerah. Latihlah diri dengan kesungguhan dan konsistensi untuk berhenti membeli barang yang tidak dibutuhkan. 

  • Decluttering 

Decluttering adalah kegiatan memilih antara barang yang masih dipakai dengan barang yang sudah tidak dipakai. Ada baiknya kegiatan ini dilakukan secara terjadwal agar manfaatnya dapat dirasakan secara signifikan khususnya untuk para pemula yang berniat menjadikan minimalist lifestyle sebagai gaya hidupnya.

Memilih gaya hidup minimalis bukan berarti memilih hidup dengan kemiskinan. Akan tetapi, minimalist lifestyle melatih jiwa seorang Muslim agar bersikap kanaah dan zuhud. Kanaah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas apa yang telah diusahakan. Sedangkan zuhud bermakna meninggalkan kemewahan dunia demi mengharap rida Allah. Seseorang yang bersikap zuhud bukan berarti membenci  dunia, namun ia tidak terlena dengan kilaunya. Betapa banyak sahabat Rasulullah yang kaya raya. Namun kekayaan mereka dialokasikan untuk menolong agama Allah. Inilah pengertian Zuhud yang sesungguhnya. Dengan zuhud dan kanaah, seorang Muslim akan jauh dari kecintaan terhadap harta dan dunia. Memaksimalkan gaya hidup minimalis akan melatih diri untuk tidak berideologi materialisme. 

Mari renungkan. Kesederhanaan menjadi sesuatu yang istimewa dalam diri seorang Muslim. Bahwa pernak-pernik dunia yang mengelabui manusia tidak bernilai apa-apa di mata Allah. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 77. 

“. . . Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa…”.

Sudah seharusnya seorang Muslim sadar bahwa segala yang melekat pada dirinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Minimalist lifestyle merupakan gaya hidup yang bisa menjadi opsi untuk meminimalisir hisab di Yaumul Mizan nanti. Pada akhirnya, gaya hidup sederhana ini akan menyadarkan manusia bahwa sikap hedonis dan konsumtif hanya akan membawa pada kesia-siaan.

Biodata Penulis:

  • Nama: Widya Kartika
  • Fakultas: Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI)
  • Jurusan: Ilmu Al-Quran dan Tafsir (IAT)
  • Semester: I (Satu)
  • Media Sosial (Instagram): @widkrtk_ 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles