Addin 377: Konseptualisasi Islam dalam Moderasi Beragama

- Advertisement -
(Ilustrator: Mustika Khairunnisa)

Penulis: Aiga Nurkhalilah Pasaribu 

Moderasi beragama adalah sebuah cara pandang terkait proses memahami dan mengamalkan ajaran agama dalam jalur moderat. Moderat artinya tidak berlebih-lebihan dan yang dimoderasi adalah cara beragama, bukan agama itu sendiri. Islam adalah agama humanis penganut nilai sosial yang tinggi, menekan sikap toleran, dan mengasihi sesama tanpa melihat latar belakang agama, suku, bangsa, dan lainnya. 

Perlu disadari, nilai dan perspektif moderasi beragama telah melekat dan tercermin pada diri Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Kehadiran Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam di tengah kehidupan masyarakat mewujudkan rasa kedamaian dan ketentraman bagi alam semesta dan manusia. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam QS. Al-Anbiya: 107 “Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat sekalian alam”.

- Advertisement -

Toleransi merupakan sikap mengayomi orang-orang yang berbeda keyakinan dan kedudukan serta tidak melakukan permusuhan. Tujuan toleransi terbesar merupakan menjalin kasih sayang sesama pemeluk kepercayaan. Allah Subhana wa ta’ala menjadikan kita bersuku, berbangsa, dan bertanah air untuk mengenal satu sama lain, bukan untuk bertikai.

Umat Muslim sebagai dominan di Indonesia seharusnya dapat mengayomi umat-umat kepercayaan lain yang minoritas. Begitupun sebaliknya, umat kepercayaan lain hendaknya menghormati umat Muslim. Contoh toleransi yang dipraktikkan Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam ketika berinteraksi dengan non-Muslim yang berdamai dan tidak melakukan permusuhan. 

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Asma bin Abu Bakar, ibunya yang musyrik datang kepadanya, lalu ia meminta fatwa Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Asma bertanya: “Ibuku datang kepadaku dan dia ingin aku berbuat baik kepadanya. Apakah aku harus berbuat baik kepadanya? Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam menjawab, iya berbuat baiklah kepadanya”. Sikap toleransi Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam semakin jelas ketika Beliau memperlakukan ahli kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. Beliau sering mengunjungi, menghormati, dan memuliakan mereka. Jika ada yang sakit di antara mereka Beliau menjenguknya. Beliau menerima hadiah dari mereka dan memberikan hadiah ke mereka.

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam menyukai perdamaian dan menghindari permusuhan, yaitu Beliau memaafkan bahkan mendoakan kaum yang berbuat jahat kepada beliau ketika berdakwah. Setelah wafatnya paman beliau, Abu Thalib, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam berkunjung ke Perkampungan Thaif. Beliau menemui tiga orang dari pemuka suku Kaum Tsaqif, yaitu Abdi Yalel, Khubaib, serta Mas’ud.

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mengajak mereka untuk melindungi para sahabatnya agar tak diganggu oleh Suku Quraisy. Tetapi, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam malah diusir serta dilempari batu oleh Kaum Tsaqif. 

Menyaksikan peristiwa itu, Malaikat Jibril memohon agar dapat menghancurkan Kaum Tsaqif. Namun, apa jawaban Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam? “Jangan! Jangan! Aku berharap Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun”. Beliau pun berdoa untuk Kaum Tsaqif. “Ya Allah, berilah petunjuk pada kaumku, karena mereka belum mengetahui (kebenaran).” (HR. Baihaqi). 

Sangat disayangkan, masih ada yang salah mengartikan dan memahami setiap sikap toleransi beragama dan menganggap semua agama sama. Moderasi beragama di sini tidak berlebih-lebihan dan tidak kekurangan. Misal, kita beragama Islam masuk ke gereja dan mengikuti rangkaian ibadah yang dilakukan di dalamnya, jelas ini bukan toleransi. Beragama bukan menyeragamkan keberagaman, tetapi menyikapi keberagaman dengan penuh kearifan. 

Kita hidup di negara yang penuh keberagaman dan terdiri dari beberapa suku, adat istiadat, serta bahasa yang berbeda-beda, tetapi kita tetap satu didalam bhineka tunggal ika. Perbedaan ini yang menjadikan kita dikenal sebagai negara yang penuh keberagaman. Oleh karena itu, kita harus dapat bersatu dan menciptakan keindahan yang luar biasa. 

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam QS. Al-Hujurat: 13: “Sungguh kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah Subahana wa ta’ala ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Subahana wa ta’ala Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”

Dari ayat di atas, dijelaskan tujuan Allah Subhanahu wa ta’ala membuat perbedaan di antara kita adalah untuk saling mengenal satu sama lain. Maka, mari jadikan perbedaan itu sebagai warna yang memperindah kehidupan, sehingga dapat menerima perbedaan dan hidup berdampingan dengan rukun, damai, saling menghormati, dan menjaga silaturahmi antar sesama. 

Biodata Penulis:

  • Nama: Aiga Nurkhalilah Pasaribu 
  • Jurusan : Ilmu Kesehatan Masyarakat
  • Fakultas : Kesehatan Masyarakat
  • Semester : Iii 
  • Instagram : @Khalilah_3101

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share article

Latest articles