Ilustrasi: Internet

Penulis: Nurul Wahidah

Di sebuah desa terpencil, Desa Viruzuna. Hiduplah seorang kakek tua sebatang kara yang sangat tekun dalam pekerjaannya. Di desa tersebut belum banyak dihuni penduduk, penyebabnya cukup susah mendapatkan kebutuhan pokok di desa tersebut. Untuk menuju pasar, penduduk di desa itu harus pergi keluar desa yang jaraknya sangat jauh dari desa tersebut.

Kehidupan di desa itu bisa dikatakan sangat jauh dari kata layak, namun tidak untuk kakek tua sebatang kara, bernama Kakek Tanto yang biasa dipanggil oleh penduduk sekitar desa itu dengan sebutan Kek Kun, memiliki arti seorang kakek yang sangat tekun dalam pekerjaannya, seorang penjahit satu-satunya di desa itu.

Kek Kun tidak hanya menjajahkan jasa menjahitnya namun di berbagai desa lain yang ada di sekitar desa Viruzuna dengan jarak bermil-mil lebih bahkan. Penduduk di desa Viruzuna sangat takjub dan salut dengan Kek Kun karena hasil upah menjahit yang Kek Kun dapatkan setiap minggu dipakai untuk anak yatim piatu yang ada di panti asuhan Kasih Bunda yang ada di kota.

Kek Kun rutin setiap seminggu sekali datang ke panti asuhan itu, maklum saja Kek Kun merasa sendiri tidak memiliki keluarga yang bisa menghilangkan rasa letihnya. Sampai suatu ketika ada seorang anak yatim benama Rio, pembawaannya yang sangat pendiam sekali di panti asuhan itu membuat pandangan Kek Kun selalu tertuju padanya.

(Di sebuah pohon dekat sungai)

“Nama kamu siapa nak?,” tanya Kek Kun

(Rio Melihat Kek Kun dengan tatapan sinis)

“Ya sudah kalau kamu tidak ingin bicara.”

Selepas itu Kek Kun mendatangi pengurus panti asuhan Buk Santi, lalu menanyakan tentang anak yang di bawah pohon berdiam diri itu.

“Bu Santi, anak itu kenapa yah?”

“Ohh itu, Rio namanya kek, orang tuanya meninggal saat menjemput dia ke sekolah, dia merasa bahwa dialah penyebab orang tuanya meninggal”

Kek Kun pun kembali ke desa. Dan sampai di desa, Kek Kun berniatan untuk mengurus Rio menganggapnya seperti cucunya, namun dia berpikir tidak akan mungkin Rio mau diajak tinggal di desa ini pasti dia akan kesulitan melakukan sesuatu. Sampai pada akhirnya Kek Kun berpikir bahwa dia akan memberi donasi khusus untuk Rio, agar dapat bersekolah lagi hingga menjadi orang sukses.

Mulai saat itu Kek Kun terus rutin memberikan donasi khusus kepada Rio melalui Buk Santi dan meminta agar rio tetap bisa bersekolah. Dengan kerjanya yang sangat tekun, padahal Rio bukanlah darah daging Kek Kun namun Kek Kun rela berkerja siang dan malam demi Rio agar tidak merasa bersalah dan pendiam lagi.

(Di panti asuhan)

“Bu santi”

“Iya kek, ada apa?”

“Boleh saya mengadopsi Rio?”

“Boleh Kek, namun apa kakek masih sanggup memenuhi kebutuhan Rio ke depannya?”

“Insya allah saya sanggup Bu, namun saya tidak akan membawa Rio ke rumah saya bu.”

“Loh kenapa Kek?

“Iya bu, saya tidak mau melihat Rio kesulitan hidup di desa yang sangat terpencil itu. Jadi, biarkan dia tetap di sini namun saya yang akan menanggung semua kebutuhan dia di sini bu, apakah boleh?

“Boleh sih kek, namun apa kakek tidak ingin Rio tahu kalau kakek yang mengadopsinya?

“Tidak usah bu, biarkan ia tahu dengan berjalannya waktu, kalau Rio sudah sukses maka tugas ibu adalah memberitahukannya.”

Selepas percakapan itu bertahun-tahun Kek Kun berkerja keras menjadi seorang penjahit demi kehidupan Rio. Sesekali Kek Kun datang ke panti asuhan mencoba berbicara dengan Rio, siapa tahu Rio sudah membaik. Dan Kek Kun tidak pernah absen untuk datang ke sekolah Rio yang jaraknya bersebrangan dari desa Viruzuna. Seiring berjalannya waktu, keadaan desa Viruzuna sudah semakin membaik. Akses untuk ke antar desa ataupun antar kota sudah diperkecil oleh pemerintah.

***

(Di pagar sekolah Rio)

“Rio,” panggil Kek Kun (berdiri di depan Rio)

“Kakek? Kakek kan yang sering datang ke panti”

Mendengar hal itu Kek Kun senang karena Rio sudah mau berbicara

“Iya, Rio bisa panggil kakek dengan Kek Kun.”

“Oh iya kek, kakek ngapain di sini? Cucu kakek sekolah di sini juga?”

“Yah, cucu kakek sekolah di sini,” jawabnya dengan menatap Rio penuh rasa senang karena percapan yang singkat itu.

Setiap hari Kek Kun selalu datang ke sekolah Rio untuk melihatnya, Rio pun penasaran kenapa Kek Kun selalu datang ke sekolahnya namun ia tidak berpikiran lain, mungkin Kek Kun hanya ingin melihat cucunya, dalam hatinya.

Semenjak kejadian itu Kek Kun jadi sering bertemu Rio di jalan, saat Kek Kun sedang berkeliling menjadi penjahit, secara tidak langsung Rio menjadi lebih dekat dengan Kek Kun. Sampai akhirnya Rio menjadi seorang sarjana berkat Kek Kun, mencari rumah sendiri dan berkehidupan sendiri. Namun, Kek Kun masih belum membolehi Bu Santi untuk memberitahukan Rio bahwasannya Kek Kun lah yang sudah memberikan donasi khusus agar Rio bisa sekolah sampai sarjana.

1 tahun sudah Rio tidak pernah bertemu dengan Kek Kun, di dalam benaknya, ia berpikir kemana kakek itu. Dia yang biasanya rutin ke sekolah sampai ke kampus terus-menerus. Karena Rio merasa sudah dekat dengan kakek itu ingin memberitahukan bahwasannya dia sekarang sudah jadi sarjana. Ia ingin menceritakan, dia sarjana berkat seorang kakek tua yang baik hati membiayainya namun tidak tahu siapakah kakek itu.

Rio juga tidak tau dimana kakek itu tinggal membuat dia tidak tau harus mencari kek kun dimana, Bu Sinta yang selama ini mengenal Kek Kun juga tidak tau pasti dimana rumah Kek Kun berada. Rio selalu berjumpa dengan kakek itu di jalan saat dia pulang, terkadang Kek Kun suka datang ke sekolahnya sampai ia kuliah pun Kek Kun masih datang yang katanya ia ingin melihat cucunya. Rio juga tidak tau siapakah cucunya Kek Kun itu.

Desa Viruzuna maju begitu pesat, pembangunan banyak dilakukan dimana-mana. Dan Kek Kun sudah semakin tua sampai jatuh sakit tanpa ada yang merawatnya. Ia sedih tidak bisa melihat Rio. Ia tidak tahu sekarang keadaan Rio bagaimana. Namun, dengan ketekunannya dulu. Semua penduduk Viruzuna memberikan sumbangannya kepada Kek Kun dan membawanya ke rumah sakit, ternyata dengan penyakit tuanya Kek Kun mengalami koma di rumah sakit sudah 1 tahun belakangan.

Bu Santi juga masih dihantui oleh tugas yang di beri Kek Kun kepadanya namun di pertemuan terakhirnya. Kek Kun belum membolehkan Bu Santi memberitahukan Rio siapakah dan berasal darimana uang sekolahnya. Rio yang sudah tinggal sendiri di kontrakan kecil dan sambil merintis usaha kecil-kecilan tidak luput dari pandangan Buk Santi. Sesekali Ia mengunjungi Rio.

Karena Rio sudah besar dan Kek Kun pun tidak pernah datang lagi ke panti asuhan selama 1 tahun belakangan. Bu Santi merasa sudah waktunya ia memberitahukan semuanya kepada Rio dan menyuruhnya untuk mencari Kek Kun.

***

(Di kontrakan rio)

“Assalamualaikum” (sambil mengetuk pintu)

“Buk Santi, silahkan masuk bu”

“Bagaimana kabar kamu Rio?”

“Alhamdulillah baik bu”

“Ibu juga baik, ibu rasa sudah saatnya ibu menceritakan tentang kakek yang sudah membiayai kamu sekolah dulu Rio”

“Benar buk, siapakah dia bu cepat beritahu Rio.” (dengan wajah bahagia)

“Dia adalah Kek Kun yang suka kamu ceritakan ke ibu setiap kamu pulang sekolah dan setiap kamu bertemu dia”

“Apa! Kek Kun” (dengan nada yang sangat kaget)

“Iya Rio. Sebenarnya dialah yang sudah mengadopsimu namun kamu tidak dibawa ke rumahnya. Kek Kun tinggal di desa Viruzuna namun ibu tidak tau dimana tepatnya Kek Kun tinggal. Kenapa dia tidak membawamu, dia takut jika kamu hidup di desa itu saat itu kamu akan kesulitan dalam berbagai hal”

“Kenapa ibu tidak memberitahu Rio sebelumnya?”

“Saat itu Kek Kun melarang ibu untuk membicarakannya kepadamu, dia hanya ingin melihat kamu bersemangat kembali dan tidak merasa bersalah, dia yakin kamu pasti bisa sukses”

“Jadi dia datang ke sekolah dan kampus Rio tanpa absen yang ingin bertemu dengan cucunya, jadi cucu yang dia maksud itu Rio bu?”

“Iya Rio, kamulah cucu yang dimaksud Kek Kun.”

“Tapi Kek Kun sudah satu tahun tidak terlihat lagi bu. Apa ibuk tau sekarang Kek Kun ada di mana?”

“Itu sebabnya ibu memberitahu ini sama kamu Rio. Ibu mau kamu mencari Kek Kun ke desa Viruzuna.”

“Iya bu baik, Rio akan cari Kek Kun.”

Saat itu Rio langsung pergi ke desa Viruzuna untuk mencari Kek Kun, ia ingin merawat dan membalas segala perbuatan baik Kek Kun selama ini kepadanya. Rio mencari ke desa Viruzuna bertanya kepada para penjahit di desa itu siapa tahu mereka tahu di mana rumah Kek Kun. Sampai pada akhirnya ada seorang penjahit tua yang katanya teman Kek Kun dahulu, bernama Kek Santo.

“Permisi kek, apa kakek mengenal Kek Kun seorang penjahit yang suka keliling lewat  sini?”

“Kek Kun? Iya saya kenal. Dia sekarang koma di rumah sakit sudah 1 tahun”

“Apa!, koma?”

Mendengar itu Rio langsung menangis dan tidak terbendung lagi rasa sedihnya.

“Kamu siapa yah?,” tanya Kek Santo.

“Saya Rio kek”

“Ohh kamu yang namanya Rio. Kek Kun suka cerita tentang kamu, katanya kalau kamu mencarinya tolong kasih tahu dimana dia tinggal”

“Kalau begitu, bisa kakek antar saya ke rumah sakit?”

“Bisa, ayo kita pergi”

Sesampainya di rumah sakit rio yang melihat keadaan Kek Kun hanya terdiam dan lagi-lagi menangis sambil mengatakan, “Rio janji kek, Rio akan sukses dan akan merawat kakek.” Saat itulah ia berkerja keras dan terus mengembangkan usahanya sambil merawat Kek Kun dan berharap Kek Kun akan pulih dari komanya. 1 tahun berlalu usaha Rio berkembang pesat dan memiliki cabang dimana-mana.

Namun, 1 tahun berlalu Kek Kun masih saja belum pulih, padahal keinginannya untuk melihat Rio sukses dan sekarang sudah sukses. Tapi Tuhan berkehendak lain, Kek Kun meninggal dunia dan Rio sangat terpukul hebat tidak lagi bisa bersama Kek Kun saat ia sukses, seperti yang Kek Kun inginkan. Sejak saat itu, Rio akan selalu menganggap Kek Kun sebagai kakeknya dan membiayai setiap anak yang ada di panti asuhan agar berkehidupan layak dan bisa sekolah seperti dia.

Editor: Rindiani