Foto: Internet

Penulis: Rizki Audina

Judul               : Komet

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit     : 2018

ISBN               : 9786020385938

Tebal               : 384 halaman

Penggemar novel karya Tere Liye, tak akan asing dengan nama tiga sekawan ini. Raib, Seli, dan Ali. Remaja biasa yang ternyata memiliki kemampuan luar biasa. Raib bisa menghilang, Seli bisa mengeluarkan petir, dan Ali bisa melakukan apa saja termasuk berubah menjadi beruang raksasa.

Novel berjudul Komet ini menceritakan petualangan seru tiga sekawan setelah sebelumnya mereka berhasil menemukan pasak bumi yang akan diruntuhkan oleh Sekretaris Dewan Kota (baca Bintang). Mereka tersesat di klan asing yang menyimpan pusaka paling hebat di dunia paralel.

Semuanya berawal dari rasa penasaran Ali tentang ke mana si Tanpa mahkota kabur saat pertempuran di klan bintang dulu. Akhirnya Ali, si manusia yang berasal dari klan paling rendah yaitu Bumi, dengan segala kecerdasannya berhasil memecahkan kode-kode rumit untuk menemukan cara menuju Klan Komet. Lewat buku-buku tua milik Zaad, Ali menemukan sebuah sajak yang ditulis dengan huruf paling tua di dunia paralel.

Hai, jangan!

Jangan bertanya padaku

Aku juga tidak tahu

Ayahku tidak tahu

Leluhurku juga tidak tahu

 

Hanya terbetik sebuah kabar

Di sebuah pulau di klan matahari

Di tengah lautan biru

Sebuah pohon aneh telah tumbuh

 

Tunggulah di sana saat ranum buahnya

Maka, akan datang sesuatu

Pintu menuju tempat itu akan terbuka

Menuju dunia yang terus bergerak dan bergerak

Tempat berada pusaka paripurna

 

Hei, jangan!

Jangan bertanya padaku

Ketiga klan pun bersatu, mengadakan pertemuan dadakan di Klan Matahari. Tapi, apa daya, Si Tanpa Mahkota telah bergerak satu langkah lebih dulu. Festival Bunga Matahari Pertama Mekar berhasil ia kacaukan, lalu memetik bunga tersebut. Tanpa mampu dicegah, akhirnya ia bisa membuka portal menuju Klan Komet. Loncatlah Si Tanpa Mahkota. Hingga tanpa disangka, Ali dengan tiba-tiba menyusul. Dan tanpa diperintahkan, Raib dan Seli mengikutinya.

Petualangan mereka kali ini sangat biasa saja. Tidak ada benda-benda ajaib, pesawat canggih, makanan berubah rasa, dan lainnya. Hanya ada pulau kecil yang harus mereka lewati dengan nama Pulau Hari Senin hingga Hari Sabtu hanya untuk menemukan pulau yang ditumbuhi pohon aneh. Mereka bertemu dengan sepasang suami istri Paman Kay dan Bibi Nay, juga Max si kapten kapal yang handal.

Banyak sekali ujian yang harus mereka lewati. Ujian kesabaran, kecerdasan, kepedulian terhadap sesama, ketulusan, ketangguhan, dan ikhlas melepaskan. Itulah satu-satunya cara untuk sampai ke pulau dengan tumbuhan aneh tersebut. Tapi, tiga sekawan itu berhasil. Rasa kesetiakawanan dan ketulusan yang terpatri dalam diri, mampu menolong mereka. Karena sejatinya, itulah kekuatan terbesar di dunia paralel.

Tere Liye, sangat mampu menghanyutkan kesadaran pembaca dengan plotnya yang twist. Menimbulkan ketegangan, hingga pembaca tidak sadar telah sampai di bagian akhir cerita yang ternyata masih menggantung. Dengan segala kekesalan, bagi siapa pun yang akan membaca novel ini bersiaplah untuk kembali penasaran dan segera membeli lanjutan ceritanya di toko buku kesayangan kalian. Iya, Komet Minor telah terbit, selamat membaca!

“…Berhati-hatilah selalu. Di dunia ini ada banyak hal yang kita lihat tidak seperti yang terlihat. Ada banyak yang kita kenal, tapi tidak seperti yang kita kenal…” (hlm 365).

Editor: Shofiatul Husna Lubis