Pasca PBAK, Maba FITK Keluhkan Pungutan

0
Foto: Rizki Ananda

Medan, Dinamika Online – Pasca berlangsungnya masa Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan yang dilaksanakan pada 2-4 September lalu, mahasiswa baru (maba) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dari berbagai jurusan menceritakan keluhnya lantaran banyak pungutan yang terjadi saat PBAK, Minggu (7/9).

Mahasiswa yang kerap disebut Icha menerangkan bahwa di hari ke-2 PBAK ia menghabiskan uang Rp30.000. “Panitia yang ngurus kami di hari ke-2 nyuruh beli Fitbar dan pin satu paket dan juga selempang harga seluruhnya Rp30.000 dan mereka bilang itu wajib, saya sendiri mengeluhkan itu,” keluh maba asal jurusan Tadris Biologi itu.

Hal yang sama juga dirasakan oleh IR maba dari jurusan PAI. Perempuan itu mengatakan selama PBAK dia menghabiskan uang sebanyak  untuRp82.000 untuk keperluan PBAK. “Kami disuruh beli Fitbar 20 ribu, selempang 10 ribu dan foto 20 ribu. Kemudian disuruh bawa pribadi buah yang saya beli 25 ribu dan nabati rasa keju tujuh ribu,” ujarnya.

“saya juga tidak tahu kenapa disuruh seperti itu, tidak berani protes karena kakaknya bilang apa yang disuruh harus dilaksanakan, jadi mau tidak mau diikuti. Yang saya herannya, kakak itu bilang semua jurusan di Tarbiyah disuruh beli hal yang sama seperti kami tapi, saat saya tanya teman saya jurusan PBA dan PBI mereka tidak disuruh beli apa-apa,” tambahnya lagi.

Menyahuti keluhan maba, tim reportase mencoba mencari pengklarifikasian terkait pungutan PBAK. Salah satu anggota HMJ PAI sekaligus Demaf FITK menegaskan bahwa tidak ada pungutan sebesar Rp82.000 di PAI. “ 82 ribu setahu saya tidaklah kak. Dari PAI tidak mewajibkan, mengenai selempang itu ditawarkan bukan dipaksa yang konotasinya adalah pungli,” isi pesan WhatsApp lelaki yang berinisial A itu saat dimintai keterangan.

Ketika ditanya mengenai ada atau tidaknya penjualan selempang dan sebagainya, A mengakui itu benar. “Itu benar adanya, dan itu sebagai kreatifitas dan gagasan untuk adik-adik maba. Dari 200 orang lebih mahasiswa baru PAI, ada tiga orang yang tidak membeli selempang sebagai bukti bahwa itu tidak diwajibkan,” tambahnya.

Lebih lanjut, pria berinisial A ini menyinggung soal penerapan harga. “Soal harga itu kembali pada pribadi maba, ada yang bilang murah, mahal semuanya itu subjektif, kita harus memandang jernih setiap argumentasi adik-adik yang masih labil jiwa, emosi dan mentalnya. Umumnya, jika siap menjadi maba dan menghadiri PBAK harus siap dengan dinamika apapun di dalamnya karena segala sesuatu memiliki resiko dan konsekuensi,” tegasnya.

Tidak berhenti disitu, tim reportase juga menemukan keluhan dari maba jurusan PGMI. Perempuan berinisial S mengaku menghabiskan uang lebih dari 50 ribu saat PBAK. “Saat itu kami diwajibkan beli Fitbar sama pin 30 ribu, selempang 10 ribu dan foto 20 ribu lalu, disuruh juga beli buah sama nabati yang saya lupa berapa harganya. Sebenarnya ingin protes tapi tidak berani jadi apa yang disuruh kakak panitia kami turuti saja,” ujarnya.

Selain itu, maba prodi Pendidikan Anak Usia Dini (PIAUD) juga mengaku dipungut biaya dengan alasan untuk kebersamaan. “Kami gak banyak-banyak hanya 20 ribu untuk beli Fitbar dan pin tapi diwajibkan beli karena katanya untuk kebersamaan. Mau protes bagaimana, karena kan pasal satu atasan selalu benar,” ucap Maba yang tidak ingin disebutkan namanya.

Maba MPI juga turut berargumen terkait pungutan di PBAK, wanita berinisial RH itu mengaku banyak mengeluarkan biaya saat PBAK. “Kami beli pin, selempang, Fitbar, buah apel dan buah pir, saya lupa jumlah uang yang sudah keluar tapi cukup banyak. Kemarin ada yang komentar tapi hanya berani di belakang ujung-ujungnya kami beli semua. Awalnya itu sangat memberatkan untuk saya tapi sekarang saya sudah ikhlas,” terangnya.

Tanggapan- tanggapan maba tersebut juga disahuti oleh salah satu anggota HMJ MPI. Lelaki yang berstatus semester V itu mengatakan, HMJ tidak sepenuhnya tahu soal pungutan di PBAK. “Untuk Fitbar itu mereka disuruh beli di hari ke-2 sedangkan, itu masih atas naungan SEMAF DEMAF bukan HMJ. Sedangkan untuk buah mereka beli sendiri bukan HMJ atau SEMAF DEMAF yang jualan,” ucap lelaki berinisial A itu.

”Untuk selempang sendiri di jurusan MPI kami yang buat atas dasar kesepakatan para adik-adik maba. Sebelumnya kami sudah beri pilihan mau buat sendiri atau dibuatkan dengan bayar jasa sepuluh ribu, dan mayoritas mereka pilih dibuatkan, jadi mufakatnya kami buatkan selempang mereka, kami tidak jualan tapi mereka membayar jasa pembuatan selempang itu,” tambahnya.

Tanggapan juga datang dari salah satu anggota HMJ PBI yang merasa tidak melakukan jual beli apapun pada maba saat PBAK. ”Kami jurusan PBA dan PBI diluar lapangan Futsal saat itu, jadi kami tidak tahu-menahu terkait segala bentuk pungutan di dalamnya. Jika benar beberapa HMJ dari FITK melakukan pungutan saya merasa kecewa kenapa itu bisa terjadi, berarti mereka sudah menyalahgunakan jabatan yang seharusnya ditanggungjawabi,” pungkas Willy Suari.

Sekretaris prodi TBio FITK memberikan argumennya terkait adanya pungutan saat PBAK. “Saya selaku Sekjur TBio tidak tahu soal pungutan itu, saya sadar jika maba banyak yang memakai pin maupun selempang saat PBAK tapi saya tidak tahu kalau itu diperjualbelikan karena tidak ada pemberitahuan dari mereka ke pihak prodi soal jual beli itu,” tutup Indayana Febriani Tanjung, M.Pd

Reporter : Siska Ramayani Damanik dan Fatimah Lubis

Editor      : Maya Riski

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.