Orang Biasa juga Bisa Bahagia

0
Foto: Dok. Internet

Judul     : Orang-Orang Biasa

Penulis  : Andrea Hirata

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Cetakan : Pertama, Februari 2019

Tebal      : 262 halaman

ISBN       : 978-602-291-524-9

Inspektur Abdul Rojali dan polisi muda, Sersan P. Arbi gelisah merasa tak pernah melaksanakan tugasnya sebagai polisi karena laporan kasus yang sedikit. Di Kota Belantik yang selalu berdamai dengan miskin memang dikenal sebagai kota berukuran sedang yang paling naif di seluruh dunia. (hal.5)

Tepat di kota itu pula, terkumpul sembilan siswa yang secara alamiah berdasarkan kecenderungan bodoh, aneh dan gagal menduduki bangku kelas paling belakang. (hal.7) Sang penulis, Andrea Hirata berhasil membuat para pembacanya ikut turut merasakan apa yang sedang terjadi di dalam cerita. Dengan penjabaran yang lengkap, ia menuliskan karakter dan masalah masing-masing tokoh.

Seperti, Handai yang sesuai namanya suka berandai-andai. Nihe dan Junilah yang memang sudah wajar dicampakkan ke bangku belakang karena suka berdandan tak peduli pelajaran. Adapula Dinah, yang diletakkan di bangku belakang karena alasan Dinah selalu mudah tersenyum. Hanya saja, tokoh Dinah bisa tiba-tiba menjadi orang sakit jika sudah mulai pelajaran matematika.

Perbedaan dan banyaknya karakter dibuktikan penulis pada (hal.16). Apalagi ditambah dengan tokoh bernama Debut Awaluddin, yang ingin dipindahkan di bangku belakang karena sudah tak tahan melihat sembilan orang-orang bodoh itu selalu ditindas Trio Bastardin dan Duo Boron (kelompok pembully di sekolah).

“…Bangku belakang itu menjelma menjadi semacam sepuluh sekawan. Mungkin agak kurang cocok sebab biasanya sekawan-sekawan itu paling banyak hanya lima. Jika sepuluh, mungkin lebih cocok disebut gerombolan. Lagi pula, sulit sepuluh sekawan dibuat cerita, pengarang yang tak kuat mentalnya akan mundur sebab bukan main sulitnya mengingat nama sepuluh orang itu.” (hal.16)

Di dalam novel, Andrea Hirata menyajikan cerita dengan klimaks yang apik. Permasalahan bermula dari keluarnya sepuluh sekawan dari sekolah itu, sebab alasan ada yang mengundurkan diri, dikeluarkan dari sekolah karena sudah terlalu sering tinggal kelas, dan adapula yang keluar karena ikut-ikutan. Salah satunya Dinah, ia kini tumbuh berkembang menjadi pedagang mainan di kaki lima, dan ia sekarang seorang janda yang memiliki 4 anak. Anaknya Aini, sama sepertinya, dikenal dengan siswa yang sangat dungu terhadap pelajaran matematika.

Aini memiliki cita-cita menjadi seorang dokter, karena ia ingin mengetahui penyakit ayahnya. Sejak tekadnya menjadi dokter itulah ia berusaha menjadi siswa yang pintar. dan benar, dibuktikan karena ia lulus tes masuk Fakultas Kedokteran. Konflikpun dimulai, ketika Dinah tak tahu harus bagaimana membayar uang pendaftaran. “Dimana semua uang di dunia ini berada?!” (hal.79) berontak debut saat mendengar bahwa Dinah sama sekali tak mendapat pinjaman uang di bank, dan di tempat lain.

Sepuluh sekawanpun memutuskan untuk berkumpul kembali dan mencuri uang di bank dengan taktik aneh, atas laporan perampokan inilah yang membuat Inspektur Abdul Rojali berbangga hati akhirnya ada kasus di Belantik. Hanya saja ia dibuat bingung dengan tingkah perampok (10 sekawan), karena mereka bahkan tak mengambil uang sepeserpun di bank, mereka hanya mengalihkan isu dengan membongkar kasus korupsi di Toko Batu Mulia, toko milik geng pembully saat sekolah dulu.

Di sinilah panel cerita yang disajikan Andrea Hirata dengan hal yang tak terduga dengan guyonan alami saat membaca cerita ini. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menjual barang yang bisa dijual, dan memperjuangkan 80 juta untuk Aini dengan cara yang halal. Inspektur Abdul Rojali dibuat termangu-mangu atas kasus ini, dan ia malah sangat terharu melihat sepuluh sekawan/orang-orang biasa yang bisa bahagia di Belantik.

Kisahnya, memang sedikit menyentil dunia pendidikan, karena tidak ada pertolongan bagi Aini siswa pintar untuk masuk ke Fakultas Kedokteran yang sangat mahal. Dan novel setebal 262 halaman ini tak hanya mengajarkan bagaimana caranya bersyukur, menikmati proses, persahabatan, tapi juga mendidik pembacanya untuk terus berjuang demi keadilan yang harusnya didapat, walau dengan cara yang sedikit aneh barangkali. Lewat novel ini, penulis mampu membuka hati dan fikiran pembaca, bahwa benar seperti yang ditulisnya pada bagian belakang sampul buku, bahwa fiksi bukan sekadar mengadakan yang tidak ada, fiksi adalah cara berfikir.

Peresensi: Isma Hidayati

Editor: Rindiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.