Obrolan Dua Dunia

0
Ilustrasi: Ditanty Chicha Novri

Penulis: Isma Hidayati

Aku menyebutmu luka. Mengenalmu sebagai duka. Ingin melupa tapi malah tak pernah bisa. Bincang kita tak lagi sama. Aku berbincang tentang dunia fana, dan kau bercerita tentang surga.

“Pinjam kain putihmu, dong,” kejutnya tiba-tiba.

“Mana punya, untuk apamu?,” jawabku sedikit mengeraskan suara.

“Selimutan. Dingin kali, loh,”
tanpa fikir lama, aku melempar selimut ke arahnya. Tapi ia malah menangis. Dan berlari ke luar kamarku.

“Kenapa kau?,” aku menghampirinya. Ia berbeda tak seperti biasa.

“Aku kan mau nya kain putih, bukan,,,” belum genap kudengarkan kalimatnya, mimpiku siang itu sudah usai. Aku menghela nafas panjang. Pasti aku rindu, baiklah. Sekarang aku harus memikirkan alasan agar kami bertemu walau tiba-tiba. Biasanya, rencana kami bertemu tak kunjung terkabul.

***

Sudah biasa aku dan ia saling meminjam uang, kalau bukan aku, ya dia. gengsi dan segan rasanya tak pernah ada. Tepat sebagai alasan, aku harus menemuinya malam ini.

“Ta, temeni aku dong,” pintaku pada Syafrita teman satu organisasiku.

“Ke mana, kak?,” tanya nya sedikit penasaran.

“Ambil duit di kos kawan, bentar aja,” jawabku. Dan langsung ia terima tawaran itu. Sekalian beli nasi lah, fikirku.

Tak lama, kami sampai. Benar dugaanku, dia terlalu sibuk belakangan ini. Sampai aku dan Syafrita harus sedikit lama menunggunya sampai.

Bisa jadi, ini pertemuan gengsi. Karena aku tak ingin berkata rindu padanya. Padahal sudah lama kami tak bertemu, sekali bertemu takkan lama. Seperti ini. Lihat saja.

“Yong, datang juga. Rindu kali sama mu,” ia datang dan berlari ingin memelukku. Aku menjauh.

“Lebay kali. Sehat kau Tiwi Indri Lestari?,” akhirnya akupun menyebut nama nya sejak awal kuceritakan.

Perbincangan kami sedikit, yang jelas, ia marah karena aku terlalu cepat, dan cuma mengambil uang. Padahal, tujuanku bertemu dengannya. Dasar gadis gengsi. Aku menggerutu kesal.

***

Seminggu sebelum gawaiku rusak, dan seminggu sebelum aku disibukkan dalam agenda organisasi di kampus, ia terus mengajakku bertemu. Katanya ia rindu, pertemuan dua minggu lalu sangat singkat. Padahal dulu berjanji, setiap minggu harus bertemu. Entah siapa yang mengingkari, pastinya aku ingat, kita saling menunda pertemuan. Atau memang benar kalimatnya? “Kau terlalu sibuk jadi orang, gak jadi-jadi jumpa kita,” ketusnya pernah, di pesan Whatsapp.

“Pinjam kain putihmu, dong,”
“Mana punya, untuk apa mu?,” jawabku.
“Selimutan. Dingin kali, loh,”
Lagi-lagi aku mimpi yang sama-ah cuma mimpi, fikirku terus. Kini, aku tak punya whatsapp. Salah satu alasan kenapa aku tak lagi mendengar kabarnya. Tak apa, ia marah hanya sebentar. Paling juga dengan , “Sombongan lah kau,” direspon sedikit tawa, ia sudah memaafkan.

“Lisma di mana nak?,” mama menelpon tepat pukul 09.00 WIB.

“Di kos, ma. Ini mau ke kampus,”

“Nak, mbak Tiwi ninggal,” mama mengabarkan lelucon padaku lewat telepon. Aku hanya tertawa.

“Mama serius, nak. Ini udah kumpul semua keluarga mbak Tiwi,” Aku tak merespon, langsung mematikan panggilan. Dan dengan bermodal ponsel yang hanya bisa dipakai panggilan suara dan mengirim pesan, aku menelpon semua nomor teman satu rumah Tiwi.

-2004-R.A Al-Muttaqin Bangun Sari
Di tengah asiknya bernyanyi dan menepuk tangan, ada yang datang bersama bu guru. Oh ya, bu guru nya adalah mama ku sendiri hehew. Ia memakai jilbab kuning dan ada topinya berwarna merah. Dia pun menyanyikan lagu yang asing di telinga, jelas di ingatan, “Papa memancing ikan di kolam.” Entah lagu apa yang dibawa dari Surabaya sana. Yang jelas, tepat selesai bernyanyi, kau langsung menghampiriku, dan menjadikan ku teman pertamamu.

-Pemilik Jilbab Bertopi Merah-
Ditemani Mira yang sejak tadi langsung kutarik untuk ikut ke rumah sakit, aku pun kini sudah berdiri di sebelah ranjangnya. Yang pasti walau tak percaya, Tiwi sudah dalam kondisi mata tertutup. Awalnya, aku membiarkannya tertidur, mungkin ia lelah. Tapi sampai kami bawa ke rumah, di kampung halaman, semua menangis untuknya.

Baiklah, dulu ia meminta ku untuk menangis, karena baginya aku orang tersulit untuk menangis. Kapan lah kau gak nangis.Begitu kira-kira tuturnya. Ia tak merencanakan jadwal tangisku, tak memberi aba-aba, aku sampai kini juga menangis. Belum usai, saat aku memandikannya, menyalatkannya, dan mengantarnya ke rumah terakhirnya.

***

Pembicaraan kita akan berbeda. Respon kita juga tak lagi secepat dulu. Di sebelah nisan mu, aku selalu berbagi kisah, kau masih tetap dengar, kan? Walau aku berbagi soal dunia ini, dan kau berbicara soal surga. Untuk kau yang selalu melukiskan tawa, lalu pergi begitu saja, terima kasih untuk semuanya. Tiwi, si pemilik lesumpipi yang sudah bersamaku, sejak TK sampai dewasa begini.

Editor: Rindiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.