My World, Your World

0
Foto: www.google.com

Penulis: Raihana Tuzzikriah

Duniaku, begitulah aku memanggil keseharian hidup yang aku jalani. Aku sangat menikmati hari-hari yang aku jalani, bergelut dengan pemikiran, perlakuan dan kesukaan yang aku jalankan, tidak ada yang berani mengganggu duniaku ini.

Sekolah Menengah Atas Negeri 1 di kota kelahiranku, tempat aku menimba ilmu dan syukurnya aku sekarang tengah bersiap-siap menghadapi Ujian Nasional yang ada di negaraku.

Aku selalu bergelut dengan pemikiran yang membuatku kesal. Setiap kali aku memikirkannya sebagai seorang siswa yang memiliki IQ rata-rata, namanya Ujian Nasional. Kenapa kita ditentukan lulus atau tidak lulus dengan hal yang namanya ujian padahal dengan hal yang kami lakukan sebagai siswa selama tiga tahun menghabiskan banyak hal dan pengorbanan dan hanya ditentukan oleh seonggok soal-soal yang menyebalkan itu? Ya sudahlah, untuk apa terlalu dipikirkan toh ujian akan terus berlanjut.

“Tam, ngapain kau melamun? Tiba-tiba saja Udin kawan sebangkuku dengan santainya membuatku terkejut, membuyarkan lamunan Ujian Nasionalku.

“Jangan-jangan kau mikirin tes Try Out tadi ya? Tebaknya.

“Iya Din, pening aku”. Jawabku sambil mengerucutkan bibir dan meletakkan kepalaku di atas meja.

“Santai sob”. Jawabnya dengan tersenyum.

“Santai apaan ini sudah Try Out. Gimana nanti UN? Kataku kesal. Dia menjawab perkataanku dengan cengiran.

Teeetttt….

Bunyi bel waktu pulang sekolah pun berbunyi. Aku berjalan dengan langkah malas di koridor sekolah, memikirkan Try Out yang aku lewati tadi, jawaban yang benar dan yang salah.

“Maaf bang”. Tiba-tiba seorang cewek bertubuh kecil, memakai kerudung putih, muka chubby, bibir mungil dan matanya seperti mata kucing berkata padaku.

Aku hanya melihatnya dan menampakkan ekspresi ‘kenapa?’ di mukaku.

“Anu kak.. hmm gimana ya ngomongnya hehe”. Katanya bingung dan malah nyengir.

“Kenapa dek? Akhirnya aku angkat bicara. Aku terlalu malas berbicara dengan orang yang tidak aku kenal.

“Sebenarnya aku ingin masuk klub manga bang. Dan aku dengar Abang dulu pernah menjabat jadi ketua tapi sekarang klub itu sudah tidak ada lagi semenjak Abang dan yang kelas tiga lainnya”. Katanya terus terang.

“Terus? Tanyaku sedikit cuek. Aku tak begitu peduli dengan kegiatan ekstrakulikuler sekolah yang aku pikirkan sekarang adalah ujian dan kampus yang ingin aku tuju.

“Kami ingin melanjutkan klub manga itu lagi bang. Dan kami mohon Abang jadi pembina klub kami”. Katanya sambil melihat ke belakang. Aku baru sadar bahwa ada lima orang yang memperhatikan aku dengannya dari tadi tepat di belakangnya. Mereka terlihat harap-harap cemas.

“Emmm”. Aku lihat raut wajahnya dan teman-temannya yang tidak terlalu jauh. Mereka tersenyum memelas, berharap apa yang mereka harapkan terkabul.

“Maaf, sekarang, aku lagi sibuk menghadapi UN, sepertinya untuk menjadi pembina kalian waktuku sudah tertata terlalu sempit”. Kataku terus terang.

“Ngak kok bang”. Katanya. Kulihat jarum jam sudah menunjukkan angka tiga.

“Maaf, aku harus mengikuti les sekarang”. Kupotong pembicaraannya dan langsung berlari ke tempat les yang tidak terlalu jauh dari sekolah.

Esok paginya di sekolah, aku menemukan sebuah amplop di balik laci mejaku.

“Cie, pagi-pagi udah dapat surat cinta aja kau”. Goda Udin setelah melihatku menemukan amplop itu.

“Surat cinta apaan Din? Kataku kesal. Kubuka, ada beberapa goresan pena tersusun rapi di secarik kertas putih yang kupegang sekarang.

Untuk bang Tama

Maaf bang, mungkin ini terlalu aneh pakai surat seperti ini segala. Aku Sheila, yang kemaren meminta Abang jadi pembina klub manga. Aku dan kawan-kawan ku memiliki hobi yang sama yaitu menggambar manga dan membuatnya menjadi komik. Tapi sayang, tidak ada klub manga di sekolah ini. Aku baru dengar kalau Abang dan kawan Abang lainnya pernah buat klub manga di sekolah ini dua tahun yang lalu.Tidak ada guru ataupun senior yang mau menjadi pembina klub kami. Jadi kami meminta izin ke kepala sekolah dengan syarat kalau pembina klub ini Abang. Aku tidak begitu tau alasan dibalik syarat yang diajukan kepala sekolah. Jadi aku mewakili kawan-kawan ku memohon sangat kepada Abang Tama menjadi pembina klub manga.

Terimakasih.

Sheila Nia

Tulisannya kurang menggugah hatiku, lagipula aku harus fokus pada tujuan utamaku. Aku tak mau mengingat kejadian dua tahun lalu, di mana semua orang terlihat egois. Aku mengubur dalam-dalam perasaan ingin menggambar. Sekarang, aku harus berkutat pada angka-angka dan tulisan yang kadang terlihat sangat membosankan itu.

Tapi selama satu minggu, dia selalu mengisi laci mejaku dengan amplop beserta isinya. Kadang dia menggambar OC (Original Character) yang digambarnya sendiri dan menulis berbagai macam ocehan tentang gambarnya itu. Dia tidak pernah memintaku membalas suratnya. Dan selama satu minggu itu juga aku tidak dapat bertemu dengannya di kelasnya ataupun di kantin, sepertinya dia sengaja menghindari ku.

Dia seolah mengisi duniaku. Aku berharap tidak ada orang lain lagi yang mengisi dunia menggambarku itu. Cukup keluargaku dan seorang Udin, teman setiaku yang mengetahui selak beluk aku menghindari dunia menggambar.

Dua tahun yang lalu, aku dan kawan-kawanku sukses membuat komik mengatasi namakan dari sekolah, dan syukurnya komik itu laris di pasaran. Berkat kegigihan kami untuk membuat klub manga. Padahal, saat itu kami masih duduk di kelas satu.  Di saat itulah mereka  kawan-kawanku mulai pergi mencari yang namanya kesuksesan besar masing-masing. Perlahan namun pasti, kawanku meninggalkanku dengan pergi mencari sekolah yang akan lebih menunjang hidup mereka seperti tokoh terkenal pembuat komik Jepang. Padahal kami sudah berjanji akan selalu bersama.

Aku luluh, kini dia, Sheila yang tiba-tiba saja masuk ke dalam duniaku selama satu minggu, dunia yang selama ini aku simpan dalam hati. Dunia, tempat aku bebas bergelut dengan kesukaanku setiap harinya, menggambar. Dunia yang membuatku bebas mengeluarkan pendapat, pikiran dan emosiku, yang aku keluarkan dalam bentuk visual.

Hingga pada akhirnya Aku menyetujuinya, menjadi pembina tidak menggangguku dalam fokus belajar, aku bisa mengaturnya. Hingga kini Sheila dan kawan-kawanya senang mendengar berita kekalahanku yang menyetujui atas keinginan mereka, untuk menjadi pembina. Pada akhirnya Aku hanya bisa berharap semoga kekecewaa yang pernah Aku dapat beberapa tahun lalu, tidak akan terulang lagi.

Editor             : Siti Arifah Syam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.