Meruginya Ketika Menjadi Pelaku Riba

1
Ilustrasi riba. (foto/ilustrasi/suarakalbar)

Penulis: Annisa Hafizzah Hutabarat

Pengambilan tambahan dalam pinjam meminjam ataupun transaksi jual beli, tanpa di dasari suatu transaksi yang benar sesuai syariat Islam merupakan kegiatan haram. Dari penjelasan ini, kegiatan yang dimaksud adalah riba.

Masih banyak umat Islam yang terjerumus dengan kegiatan riba. Ada beberapa alasan, hal tersebut terjadi di karenakan; Pertama, sedikitnya pengetahuan tentang riba. Ternyata ada yang tidak tahu apa itu riba, apa hukumnya, dan lain-lainnya tentang riba. Sebagai umat Islam yang tahu tentang riba, maka berilah pengetahuan ke seseorang yang tidak mengerti tentang hal tersebut.

Kedua, kebutuhan ekonomi seseorang yang terdesak, yang dapat dilakukannya hanya riba atau mati. Maka berlakulah hukum darurat, yang darurat membolehkan yang dilarang sampai daruratnya hilang.

Baca juga: Tetaplah menjadi Diri Sendiri

Ketiga, keinginan seseorang untuk mencapai style orang kaya pada umumnya. Jika tidak hutang, maka tidak dianggap orang kaya. Hal ini merupakan jebakan dari para setan.

Maka siapa pun pelaku ribanya, akan mendapatkan beberapa ancaman dari Allah SWT.

Dibangkitkan dari kubur dan ditiupkan sangkakala dengan keadaan seperti kerasukan setan

Tertera di dalam QS. Al-Baqarah ayat 275, yang artinya:

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Penjelasan ayat di atas bahwa orang yang memakan hasil riba akandibangkitkan pada hari akhir, yang di mana kebangkitannya seperti orang yang kerasukan setan. Ketika seseorang ingin berhenti, maka perolehannya dulu akan jadi miliknya seutuhnya. Jika seseorang tersebut mengulanginya lagi, tentu pasti akan kekal di neraka.

Baca juga: Hadiri HPN, Jokowi Sebut Wartawan Adalah Karibnya Setiap Hari

Malah mereka merasa bahwa jual beli sama dengan riba. Sungguh Allah SWT telah membedakan hukum jual beli dan riba. Kelihatan kalau mereka kurang membaca dan memahami dari isi ayat-ayat Al-Qur’an.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-utsaimin mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang ayat ini. Apa yang dimaksud ayat ini yaitu mereka tidaklah bangkit dari kuburnya pada hari kiamat kecuali dalam kondisi semacam ini, bangkit dari kubur seperti orang gila atau kerasukan setan, Atau maksud lainnya tentang ayat di atas adalah mereka tidaklah berdiri untuk transaksi riba (di dunia), yaitu mereka memakan harta riba seperti orang gila karena sangat rakus, tamak dan tidak peduli. Maka ini merupakan kondisi (sifat) mereka (pelaku riba) di dunia. Jika sebuah ayat mengandung dua mungkin kemungkinan makna, maka ditafsirkan kepada dua makna semuanya. Di dalam tafsir Syarh Riyadhus Shalihin, 1: 1907.

Seorang pelaku riba, maka akan diperangi

Di dalam QS. Al-Baqarah ayat 279, yang artinya:

“Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).”

Ayat di atas menjelaskan bahwa seseorang yang mengambil hasil riba, akan diperangi oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Ketika mereka telah bertobat, pokok harta yang ditransaksikan menjadi berhaknya. Tanpa sedikit pun mengambil tambahan hasil pokok harta tersebut.

Baca juga: Sebatas Sahabat, Tak Akan Lewat

Ibnu Abbas mengatakan bahwa jika ada yang tidak mau berhenti dari memakan riba, maka pemimpin kaum muslimin wajib memintanya untuk bertaubat. Jika tidak mau meninggalkan, maka dipenggal lehernya. Di dalam tafsir Al – Qur’an Al – Azhim, 2: 286.

Sepiring nasi riba disuap, menjadi setetes darah haram

Tertuang di dalam QS. Al-Ma’idah ayat 62, yang artinya:

“Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka (orang Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.”

Diibaratkan, setiap daging di badan, kalau dari yang haram, maka tempatnya di api neraka.Dari arti ayat di atas juga menjelaskan bahwa seorang pelaku riba memakan hasil ribanya (yang haram), perbuatan yang telah dilakukannya sangat buruk dan setiap darah yang mengalir di badannya menjadi haram juga.

Baca juga: Warga Sumut Lakukan Aksi Damai Tolak Pemusnahan Babi

Dan juga Allah  SWT pasti menghancurkan seluruh harta yang dipunya, disebutkan dalamQS. Al-Baqarah ayat 276, yang artinya:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.”

Menghancurkan hartanya dengan cara, pelaku riba tersebut akan tertimpa bencana atau cobaan yang berat dan hilangnya atas keberkahan hidup yang pernah dicapainya.

“Jangan pernah sedikit pun terlintas di pikiran kita untuk melaksanakan perbuatan yang dilarang atau haram, terutama riba.Allah melaknat dan menjauhkan seseorang dari rahmatnya. Jika orang tersebut memakan hasil riba, orang yang mewakilkan, orang yang menulis, dan orang yang menyaksikannya, maka mereka itu semua sama, mendapatkan dosa yang besar.”

Editor: Amelia Pratiwi

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.