Menyegerakan Menikah Itu Lebih Baik

3
Cover buku “Jadikan Aku Halal Bagimu”. (foto/shopee)
  • Judul : Jadikan Aku Halal Bagimu
  • Penulis : Ahmad Rifa’i Rif’an
  • Penerbit : Mizania
  • Tahun Terbit :2014
  • Tebal : 175 Halaman

Penulis: Miranda Lianti

“Cinta terbaik adalah ketika kau mencintai seorang kekasih yang membuat imanmu mendewasa, takwamu bertumbuh, dan cintamu kepada-Nya juga bertumbuh.”

Cinta merupakan fitrah manusia yang telah Allah berikan kepada manusia sejak terlahir di bumi ini. Cinta adalah kesucian yang kehadirannya menghajatkan sucinya diri manusia. Dewasa ini banyak di antara kita yang mengaplikasikan cinta tidak sesuai dengan ajaran Islam. Banyak juga yang menyamai antara cinta dan nafsu padahal mereka berdua adalah dua hal yang sangat  berbeda. Nafsu yang merupakan kecenderungan tabiat menuju yang disuka dan kecendurangan ini diciptakan oleh Allah untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Sebab, dengan adanya nafsu itulah manusia memiliki keinginan untuk makan, minum, dan menikah.

Ada dua macam nafsu yang Allah ciptakan dalam diri manusia, yaitu nafsu baik dan nafsu yang buruk. Untuk nafsu yang baik kita diperintahkah supaya mengendalikannya agar tetap berjalan sesuai dengan syariat Islam. Sementara untuk nafsu yang buruk yang biasanya kita sebut dengan hawa nafsu perintah agama adalah memeranginya. Salah satu contoh nafsu yang harus kita perangi adalah budaya pacaran sebelum menikah, yang saat ini katanya merupakan hal wajib dilakukan sebelum berlangsungnya pernikahan. Status jomblo yang dianggap sangat rendah membuat banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pasangan hidup sebelum akad nikah diucapkan.

Baca juga: Menjaga Alam, Solusi Mengurangi Bencana

Perspektif lain orang yang memilih pacaran sebelum menikah yaitu untuk mengenal  dengan baik calon pasangannya dengan melakukan hubungan yang intens antar keduanya. Karena hal ini, banyak dari kita yang memilih untuk setuju dengan budaya pacaran yang biasa dilakukan masyarakat. Walaupun sekarang ada istilah pacaran syar’i yang mana pacarannya hanya sebatas via SMS, BBM, WA, atau mungkin hanya saling berkomunikasi lewat telpon tanpa pernah bertemu.

Alasan demikian agar mereka dapat mengenal satu sama lain, agar nantinya ketika telah berumah tanggga si calon pasangan sudah tahu siapa dan bagaimana calon pasangan tersebut. Lalu pertanyaannya, apakah melalui proses mengenal satu sama lain tersebut dapat menjadi poin utama untuk menciptakan bahterah rumah tangga yang harmonis dan bahagia?

Buku yang berjudul “Jadikan Aku Halal Bagimu” dengan sub judulnya “Nikmatnya pacaran setelah menikah” memberikan kita beberapa pemahaman tentang nafsu. Pertama, perbedaan antara cinta dan hawa nafsu. Kedua, alasan dibalik perintah menyegerakan menikah. Ketiga, kiat-kiat memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh terbaik. Keempat, tips agar oang tua setuju kita nikah muda. Kelima, petaka bagi yang menunda menikah dengan alasan yang dibuat-buat dan yang terakhir indahnya pacaran setelah menikah.  Dalam buku ini akan dipaparkan bagaimana agar para pemuda-pemuda dapat menghilangkan mindset yang menyatakan pacaran sebelum menikah adalah cara utama agar kehidupan rumah tangga berjalan dengan baik dan harmonis.

Baca juga: Pura-pura Nikah Tapi Kok Bikin Baper

Nampaknya, Ahmad Rifa’i Rif’an sebagai penulis buku ini berusaha membuka pemikiran-pemikiran pemuda bahwasanya pacaran itu tak harus dilakukan sebelum menikah tapi, lebih indah dilakukan setelah menikah, hal ini terlihat dari kalimat di subjudul bukunya “Nikmatnya pacaran setelah menikah”. Ahmad Rifa’i Rif’an mencoba meyakinkan bahwa pacaran sebelum menikah bukan hal yang wajib dilakukan untuk mengenal satu sama lain.

Buku dengan tebal 173 halaman yang dibalut dengan sampul yang dominasi berwarna merah dengan corak batik love dan bunga ini sangat indah dipandang mata, dan desain isinya juga sangat menarik pemuda-pemuda untuk membacanya karena, memang buku ini ditunjukan kepada para pemuda masa kini.  Bukan hanya itu, bahasa yang digunakan dalam buku ini pun sangat ringan dengan dipertegas dengan ayat-ayat Al- Qur’an yang mudah dibaca membuat pembaca tidak jenuh.

Baca juga: Warga Sumut Lakukan Aksi Damai Tolak Pemusnahan Babi

Ketika banyak dari kalangaan kita yang takut menghadapi risiko pernikahan dibandingkan dengan ketakutannya menghadapi risiko hubungan tak halal yang mereka lakukan, padahal risiko nikah mudah lebh jauh mendewasakan diri. Takut menikah tapi, tak takut pacaran adalah salah satu hal yang aneh di dunia. Nikah memang penuh risiko tapi, pacaran juga sangat berisiko. Nikah muda memang banyak risiko tapi, masa muda dalam kesendirian juga berisiko. Dan percayalah, risiko nikah lebih mendewasakan dibandingkan dengan risiko pacaran” (hal.79). Dari penjelasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa risiko nikah menjadikan diri menjadi lebih bertanggung jawab sedangkan risiko pacaran menjadi pribadi yang dimurkahi Tuhan.

Dengan hadirnya buku ini penulis berharap dapat memopulerkan kembali tradisi nikah mudah di masyarakat kita. Karena sungguh, inilah yang dianjurkan oleh agama. Maka, pantaslah buku hasil tulisan Ahmad Rifa’i Rif’an ini dijadikan salah satu pedoman bagi kalangan muda yang masih berprinsip bahwa pernikahan itu lebih rumit dari pada pacaran sebelum menikah.

Editor: Nurul Liza Nasution

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.