Menjadi Kaya, Membuat Diri Bahagia atau Diri Murah?

0
Ilustrasi: internet

Penulis: Tumbularani

Siapa sih yang tidak ingin menjadi orang yang memiliki kekayaan di atas rata-rata? Hampir semua dari kita menginginkannya. Mereka tidak segan-segan menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan itu semua. Lebih dari itu, bahkan kebanyakan dari kita rela menghabiskan waktu, tenaga dan hidupnya hanya untuk memperoleh kekayaan. Namun kalian lupa, tingkat kekayaan seseorang bukan terletak pada harta yang ia punya, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa hidup tenang dan sejahtera.

Sedikit bercerita, kenal dengan Adolf Merckle?. Beliau adalah seorang pengusaha yang menguasai VEM Holding perusahaan farmasi dan salah satu produsen obat terbesar di Eropa.  Pada tahun 2008, Merckle berada di peringkat ke-94 daftar orang paling kaya di dunia versi majalah Forbes. Sementara untuk Jerman, Merckle berada di peringkat ke-5 dengan kekayaan sekitar U$ 9 miliyar.

Beliau meninggal dunia setelah ditabrak kereta didekat kota Balubeuren, Jerman. Ia meninggalkan selembar kertas ‘bunuh diri’ untuk keluarganya. Beliau memilih mengakhiri hidupnya setelah mengalami krisis financial yang diderita belakangan pekan waktu itu.

Kasus bunuh diri Merckle ini sekaligus menambah koleksi kisah-kisah tragis miliuner akibat krisis finansial. Padahal sebelumnya investor Perancis Thierry Magon de la villehuchet juga melakukan bunuh diri dan masih banyak kisah-kisah serupa lainnya yang terjadi di kalangan miliuner.

Setelah membaca kisah diatas, bagaimana menurut anda? Apakah kekayaan harta yang kalian punya dapat menjamin kebahagiaan? Itu tergantung cara pandang kalian. Sedikit menegaskan ada begitu banyak orang-orang di luar sana memiliki kekayaan yang luar biasa namun memilih mengakhiri hidupnya hanya karena harta. Itukah kebahagiaan yang dimaksud?

Selain itu, berapa banyak juga orang yang rela menghabiskan waktu, tenaga dan hidupnya hanya untuk mendapatkan kekayaan. Apakah dengan begitu bisa membuat kalian bahagia? Bayangkan saja, jika kalian sibuk bekerja sampai lupa waktu dan tenaga juga sudah terkuras habis, setelahnya kalian jatuh sakit. Apakah kalian bisa hidup bahagia dengan penyakit yang kalian derita?

Dari contoh-contoh di atas saya rasa sudah cukup untuk membuka pandangan anda. Ada banyak orang yang merasa bahwa dengan memiliki harta yang banyak akan membuat diri bahagia. Namun pada akhirnya justru kekayaan telah membuat diri kita murah. Karena sibuk meNgumpulkan harta lalu bangkrut, setelahnya bunuh diri. Karena terlalu sering bekerja tanpa kenal waktu dan lelah sampai mengabaikan kesehatannya, setelahnya jatuh sakit dan tak berdaya. Sekali lagi saya tanya, kekayaan yang kalian punya membuat diri bahagia atau diri murah?

Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak perlu mencari kekayaan atau tidak usah bekerja, karena kerja itu tidak penting. Bukan seperti itu, keliru. Maksud saya bercerita di atas adalah bekerjalah sesuai porsinya. Jangan paksakan diri kalian untuk terus bekerja hingga mengabaikan kesehatan yang diberikan Allah kepada kalian. Silahkan memperoleh kekayaan namun jangan menjadikanmu makhluk serakah.

Yang kalian butuhkan disini hanyalah sifat qona’ah dan syukur, karena sebanyak apapun kalian diberi kekayaan atau sedikit apapun Allah telah mencukupi rezeki yang dibutuhkan. Kalian akan tetap merasa cukup tanpa memaksakan diri harus bekerja terus menerus. Selebihnya jangan lupa bersyukur karena ini sangat penting. Jika kalian bersyukur Allah akan memberikan lebih dari apa yang kalian miliki.

“Kekayaan bukanlah tolok ukur kebahagiaan, namun kebahagiaan yang hakiki letaknya ada di hati”

Editor: Ade Suryanti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.