Mempersatukan Umat lewat Bank Syariah

0
Foto: Kompasiana.com

Penulis: Iin Prasetyo

Kalau ada kalimat persuasif yang berbunyi, “Cintailah produk-produk Indonesia!” tentu hendak memotivasi kita untuk menghargai produk hasil jerih payah kita sendiri, bukan orang atau negara lain. Karena salah satu bentuk nyata dari cinta adalah menghargai maka mengaplikasikannya dengan membeli, memakai produk-produk itu dan bangga memilikinya.

Di Indonesia, umat Islam adalah pangsa pasar yang sangat menggiurkan, oleh sebab itulah banyak perusahaan berlomba-lomba membuat produk berlabel halal. Produk yang semula sudah lama beredar di pasaran namun tak berlabel halal kini seketika mempublikasikannya secara terstruktur, sistematis, dan masif lewat siaran televisi maupun baliho bahwa produk itu sudah halal.

Tak dapat dimungkiri bahwa umat Islam begitu selektif dalam memilih produk, apalagi produk yang menjadi kebutuhan makan. Jika produk itu tidak ada label halalnya maka tentu tidak dikonsumsi umat Islam.

Konsumsi tentu bukan sekadar apa yang dimasukkan ke dalam perut, bukan? Setiap yang kita gunakan, mengiringi keseharian kita terlebih menjadi kebutuhan utama maka apa yang kita konsumsi itu harus mendatangkan kebaikan.

Kebutuhan akan transaksi keuangan juga merupakan kebutuhan utama dalam menunjang kebutuhan lainnya seperti menabung, investasi, sampai kebutuhan pembiayaan dan hal-hal yang berurusan dengan perbankan.

Nah, pertanyaannya dalam kebutuhan ini, apakah kita masih berurusan dengan perbankan atau lembaga keuangan lain yang menggunakan sistem riba? Atau pertanyaan to the point-nya adalah apakah kita sudah memiliki ATM atau rekening bank syariah?

Berangkat dari kalimat persuasif di atas, jika itu dibalikkan pada diri umat Islam sendiri maka apakah kita sudah mencintai produk kita sendiri? Ya, bank syariah.

Bangga, bank syariah lahir di Sumatera Utara

Bangga rasanya kita sebagai warga Sumatera Utara (Sumut) mengawali sejarah lahirnya bank syariah. Hampir 30 tahun yang lalu bank syariah berdiri untuk memberikan solusi terbaiknya dalam upaya mendidik umat menjauhi riba. Memang, tidak bisa dibandingkan secara kemapanan finansial antara bank syariah dengan bank nonsyariah yang sudah berdiri lebih tua.

Namun, bank syariah tampil dengan hal yang unik, tidak hanya menjawab kebutuhan dunia tapi apa yang menjadi kebutuhan tersebut berorientasi dengan kebaikan akhirat. Rakyat Sumut harus menjadi tolok ukur dalam menggunakan produk bank syariah.

Kita mesti bersatu menuju arah kehidupan yang tak setengah-setengah menjalani apa-apa yang sudah digariskan oleh keyakinan kita, Islam.

Alangkah bangganya juga Sumut menjadi guru dalam pengembangan akademik ekonomi dan perbankan syariah. Perkembangannya tak terlepas dari peran UIN Sumut dan orang hebat di dalamnya seperti Prof. Dr. H. M. Yasir Nasution.

Prof. Dr. H. M. Yasir Nasution sebagai salah satu sosok perintis penerapan pemikiran mengenai ekonomi syariah ke dalam institusi akademis di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman dan perjalanan akademiknya di Universitas Islam Antarbangsa (UIA), Malaysia dalam pertemuan The Third International Conference on Islamic Economy yang telah lebih dahulu menerapkan keilmuan ekonomi syariah.

Kebanggaan itu seperti hadir bertubi-tubi, walau tidak terlepas dari banyak pertimbangan, Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara (IAIN SU) yang sekarang telah menjadi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) tercatat dalam sejarah lembaga akademik pertama yang mempelopori kajian-kajian ekonomi syariah dalam kegiatan ilmiahnya di Indonesia. Forum Kajian Ekonomi dan Perbankan Islam (FKEBI) pada 1990 berkolaborasi dengan Universitas Sumatera Utara, PT. Bank Sumut (dulu Bank Pembangunan Daerah Sumut), membuat Simposium Nasional Pemasyarakatan Bank Muamalat Indonesia (BMI) begitu juga Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Puduarta Insani milik IAIN SU.

Bank syariah cara mudah menjauhi riba

Sampai kini, berbagai macam kredit atau pembiayaan yang biasa dilakukan masyarakat belum terlepas dari jerat bank dan lembaga keuangan yang nonsyariah, utamanya koperasi simpan pinjam yang berkeliling ke setiap rumah.

Memang kebutuhan yang sangat mendesak bisa saja disebut darurah, alhasil sistem riba dari bank itu sendiri bisa saja menjadi halal, astaghfirullah. Tidak begitu solusinya.

Azhari Akmal Tarigan: 2018, dalam bukunya menuliskan, riba salah satu topik yang sangat penting dalam kajian ekonomi Islam. Penting bukan saja karena Alquran mengecamnya dengan sangat keras, tetapi lebih dari itu dampak riba dapat menghancurkan sendi-sendi ekonomi bangsa dan umat.

Riba sesungguhnya menjadi bagian dari tradisi bangsa Arab yang sudah berurat-berakar. Tidak mudah untuk menghapusnya. Perlu pendekatan khusus. Demikianlah, Alquran dalam menegaskan pengharaman riba tampaknya tak menempuh jalan istidraj (berangsur-angsur) atau bertahap.

Allah subhanahu wataala berfirman dalam QS. Ali Imran: 130, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.

Thabari seorang mufasir yang sangat terkenal mengatakan, “Janganlah mengkonsumsi riba setelah kalian memeluk Islam sebagaimana kalian telah mengkonsumsinya sebelum Islam“. Cara orang-orang Arab pra-Islam mengkonsumsi riba adalah bahwa salah seorang dari mereka memiliki utang yang harus dilunasi pada tanggal tertentu.

Ketika tanggal itu tiba, si kreditur menuntut pelunasan dari si debitur. Si debitur mengatakan, ‘tundalah pelunasan utangku, aku akan memberikan tambahan atas hartamu’. Inilah riba yang berganda dan berlipat-lipat (Azhari Akmal Tarigan: 2017 dalam Abdullah Saeed: 2004).

Tidakkah Allah subhanahu wataala itu Mahaluas rezeki-Nya? Tidakkah manusia adalah manusia yang lebih baik dari makhluk Allah yang lain dengan kecerdasan berpikir dan nalurinya?

Jika kita tahu Allah itu Mahaluas, kita semestinya juga meluaskan pemikiran mencari solusi lain yang sebenarnya ada jalan yang bisa menjawab kebutuhan tersebut bahkan nilainya lebih tinggi. Solusi itu ada di bank syariah atau lembaga keuangan syariah (LKS) lainnya. Banyak sekali tawaran produk yang memiliki akad dan perjanjian yang jelas tanpa mencekik dan menamatkan ekonomi umat.

Berawal dari akad

Memenuhi akad adalah salah satu bentuk bahwa seseorang itu beriman. Allah subhanahu wataala berfirman dalam QS. Al Maidah: 1, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu”.

Akad merupakan satu hal yang sangat penting dalam bermuamalah misalnya menggunakan produk perbankan. Inilah yang membedakan bank syariah dengan bank nonsyariah, ada akadnya dan jelas.
Maka, jika misal nasabah melakukan transaksi pembiayaan, di antara kedua belah pihak nasabah dan bank terlebih nasabah itu sendiri tidak ada yang tersakiti, justru malah saling menguntungkan.

Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, akad adalah kesepakatan dalam suatu perjanjian antara dua pihak atau lebih untuk melakukan dan/atau tidak melakukan perbuatan hukum tertentu. Akad akan sah bila memenuhi unsur asasinya yakni, al aqid (pihak yang berakad), sighat (ijab kabul), al ma’qud alaihi (objek akad: barang atau jasa), dan tujuan pokok akad itu sendiri.

Dalam bank syariah dan LKS lainnya ada banyak sekali produk-produk yang didasari oleh suatu akad. Misalnya saja dalam akad Tabarru (akad tolong-menolong), salah satu bentuk akad ini adalah Qardh (Utang-Piutang). Suatu bank syariah atau LKS, ada dana dalam bentuk akad Qardh.

Nasabah akan diberikan pinjaman untuk mendirikan usaha dan dalam jangka waktu yang telah ditentukan pinjaman itu dikembalikan baik secara tunai maupun cicilan tanpa ada tambahan yang disebut bunga.

Ada juga akad Tijari (akad bisnis), salah satu bentuknya adalah Syirkah (Perkongsian). Bank syariah atau LKS memiliki produk perbankan berdasarkan akad Syirkah, yakni antara nasabah dengan bank bekerja sama dalam bentuk permodalan, keterampilan, atau kepercayaan dalam usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbahnya.

Dalam hal ini, kedudukan nasabah dan bank itu sama, bank bukan bosnya dan nasabah bukan budaknya, keduanya adalah mitra kerja. Banyak hal yang harus kita kenal dalam produk buatan kita sendiri ini. Tak kenal maka tak sayang, begitulah pepatah menuturkan.

Maka umat yang mendominasi Republik ini sepatutnya tidak hanya mengerti salat tapi fikih muamalahnya juga harus dicerdaskan. Bagaimana jadinya jika kita selalu salat lima waktu tapi apa yang masuk dan keluar dari perut kita itu tidak memenuhi asas halal dan baik. Allahu’alam bishawaf.

Editor: Cut Syamsidar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.