Mahasiswa Bukan Imajinasi Kosong

0
Ilustrasi: Muhammad Fathoni

Penulis: Isma Hidayati

Februari 2018 silam, Indonesia telah gencar pada sesuatu yang dianggap masalah besar bagi para pemimpin negara. Perilaku nekat salah satu mahasiswa dari Universitas Indonesia dengan mengacungkan kartu kuning di hadapan Presiden RI Jokowi, membuat masalah tersebut tak selesai hingga berlarut-larut. Apalagi setelah dimulainya diskusi oleh para pejabat negara dengan beberapa perwakilan mahasiswa di siaran TV Mata Nazwa.

Sedikit ulasan, dimulainya acara tersebut diawali dengan orasi dari 4 mahasiswa yang ketika itu mewakili mahasiswa lain. Di saat bincang bersama Nazwa berlangsung, dengan jelas dan disaksikan oleh banyaknya penonton, mahasiswa yang memberi kartu kuning tersebut menyatakan bahwa Kartu Kuning adalah tanda sayang sebagai pengingat presiden bahwa masih banyak yang belum terselesaikan.

Beberapa alasan dan ulasan kenapa harus mengacungkan kartu kuning pun tersampaikan, hingga staf kepresidenan Moeldoko pun turut angkat suara. Malah orasi yang disampaikannya semakin terdengar jelas dengan penyampaiannya yang tegas. “Mahasiswa ini sebenarnya hanya imajinasi kosong,” ujarnya. Sebagai mahasiswa dan juga sebagai aktivis kampus, barangkali tak setuju dengannya. Pasalnya beliau menutur bahwa mahasiswa tidak terjun melihat sampai pelosok negeri, dan tidak tahu menahu apa sebenarnya yang telah dikerjakan oleh para pemimpin di Indonesia.

Kalau kita sebagai mahasiswa tak terima dengan pernyataannya, maka kita harus mampu membuktikan agar tidak menjadi mahasiswa yang hanya imajinasi kosong. Artinya, kita tak boleh sekadar menjadi mahasiswa yang jago bicara dan mengkritik di belakang tanpa turut ikut berkontribusi di dalamnya untuk kemajuan bangsa. Apalagi dalam mewujudkan visi dan misi Indonesia di tahun 2020 seperti yang telah tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VII/MPR tahun 2001, yaitu terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri, serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara.

Dalam ketetapan MPR pada Bab III tersebut juga bertuliskan bahwa tantangan menjelang 2020 yaitu sumber daya manusia yang bermutu. Indonesia ingin memiliki SDM yang berkualitas, andal, dan berakhlak mulia, yang mampu bekerja sama dan bersaing di era globalisasi dengan tetap mencintai tanah air. Di sinilah peranan kita para pemuda, apalagi peran sebagai mahasiswa dalam membantu untuk majunya Indonesia, agar tak lagi ada istilah mahasiswa yang hanya imajinasi kosong. Pembuktian mahasiswa untuk majunya Indonesia juga dapat dilakukan dengan mengikuti organisasi kepemudaan, seperti yang diamanatkan dalam Menteri Pemuda Nomor 0059 tahun 2013 tentang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda pada Bab VI pasal 33 tentang Peran Organisasi Kepemudaan, berbunyi organisasi kepemudaan berperan aktif dalam pengembangan kepemimpinan pemuda, untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 jumlah pemuda  mencapai 62,4 juta orang. Itu artinya, rata-rata jumlah pemuda 25 persen dari proporsi jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan, sangat disayangkan dengan jumlah persen tersebut namun pemuda/mahasiswanya belum juga memikirkan kemajuan Indonesia. Malu rasanya jika harus dibandingkan dengan keadaan Indonesia pada 72 tahun silam sebelum merdeka, yang banyaknya para pemuda berjuang untuk negara. Pemuda, bahkan mahasiswa sangat berperan aktif, UU Nomor 40 tahun 2009, pada Bab V pasal 16 menjelaskan bahwa pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.

Untuk itu, jangan mudah kita menolak bahwa kita adalah sebagai mahasiswa yang berimajinasi kosong, sedangkan kita memang benar belum bisa menjadi generasi yang akan memakmurkan negara. Buktikan, bahwa kita bukan mahasiswa yang hanya berimajinasi kosong!

Editor: Iin Prasetyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.