Ku Rindu Dekapanmu

0
Ilustrasi: internet

Penulis: Siti Aisa

Cahaya kemuning di sepanjang jalan dengan rintik-rintik hujan menyihirnya menjadi emas yang berjatuhan ke dasar bumi. Ikram duduk membatu di tepi jendela, mengamati malam dengan rintihan hujan dan cahaya kuning yang tersketsa mesra. Namun bertolak belakang dengan hatinya saat itu. Sudah 20 menit dia berdiam diri membayangkan kenangan bersama orang yang terkasih di bumi yang bulat ini. Hatinya benar-benar berantakan dengan bayang-bayang penyesalan yang tiada berarti lagi. Seandainya ia begini, seandainya ia begitu, seandainya ia tidak sibuk hingga lupa melakukan kebiasaan dan seandainya yang lain lagi.

Sejak kecil hingga berumur 17 tahun, ia adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Ya, Ikram tak pernah membantah perintah ibunya. Di tambah lagi ia belajar di pesantren sejak tamat sekolah dasar. Tapi untuk perihal yang satu ini ia gagal, entah mengapa ia  lupa melakukan hal yang biasa ia lakukan. Jika waktu bisa di ulang, ia takkan melewatkan masa-masa itu. Namun apalah daya, semuanya telah terjadi dan takkan ada mesin waktu yang bisa mengembalikan apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia berharap segera berdamai dengan keadaan dan bisa menerima yang sebenarnya.

Ikram dikenal sebagai santri yang pintar dan periang, sudah biasa jika ia memenangkan lomba di pesantrennya. Mulai dari azan, cerdas cermat dan lain sebagainya. Minggu 15 Juni 2016 pukul 21:05 wib, ia sedang fokus belajar karena senin besok akan ada ujian kenaikan kelas dan di waktu yang sama ia mendapat telepon dari keluarganya bahwa ibunya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit sejak siang tadi. Namun, karena keluarga takut mengganggu belajarnya, maka ia baru di beri tahu. Itupun karena ibunya dikabarkan koma. Salah satu ustaz di pesantren mengantarkan Ikram sekaligus menjenguk ibunya di rumah sakit, tapi tidak ada yang boleh masuk ke ruangan selain ayahnya Ikram, karena takut menggangu pasien.

Hilir mudik orang berlalu lalang di tempat dengan aroma obat-obatan yang khas itu. Menangis, melamun dengan muka kosong, namun ada juga yang menampakkan muka tersenyum lega, mungkin karena kerabatnya telah membaik. Begitupun Ikram dan keluarganya duduk di ruang tunggu sembari menunggu kabar baik dan tak lupa berdoa untuk kesembuhan ibunya. Ustaz yang tadi pergi bersama Ikram izin untuk kembali lebih dulu kepesantren setelah tiga jam lebih berada di sana. “Jika ada kabar baik mengenai ibunya Ikram, tolong beritahu kami dan untuk ujiannya Ikram bisa menyusul,” ucap Ustaz Faiz. Ikram hanya mengangguk sembari melihat kepergian Ustaz Faiz dengan mata kosong.

Ikram, kakek, nenek, paman dan bibinya hanya duduk diam di ruang tunggu sembari berdoa dan membacakan ayat suci Alquran untuk kesembuhan ibunya Ikram. Sudah beberapa hari ibunya di rawat di rumah sakit dan belum ada perkembangan sama sekali. “Ibu sebenarnya sakit apa paman?” Ikram mencoba memberanikan diri untuk bertanya karena suasana lagi tepat menurutnya untuk bertanya. “Awalnya ibumu kumat sakit lambungnya, tapi paman juga kurang tahu kenapa sampai koma begini,” ujar pamannya.

Pintu ruang perawatan di buka, ada dua orang keluar dari ruangan tersebut. Seorang dokter ditemani suster yang memeriksa ibunya keluar.“Bagaimana keadaan ibu saya dok?” tanya Ikram. “Alhamdulillah, ibumu sekarang sudah siuman,” ujar sang dokter. Rasa syukur tak henti di ucapkan Ikram sekeluarga ketika mendengar hal tersebut. “Kalian boleh menjenguknya, tapi jangan berisik”, lanjut dokter itu dan izin pergi karena masih banyak pasien yang harus di periksa. “Terima kasih dok,” ucap Ikram.

Begitu pintu terbuka, tampak perempuan paruh baya sedang berbaring lemas dan tersenyum manis di dampingi ayah yang sedari tadi sudah didalam. “Alhamdulillah ya nak sekarang kamu sudah siuman, kami semua cemas loh,” ucap kakek yang baru duduk setelah dipersilakan oleh ayah. “Iya, Alhamdulillah semoga cepat dipindahkan di ruang inap ya,” kata ayah melanjutkan pembicaraan. Tidak banyak yang dibicarakan, karena dokter juga tidak memperbolehkan ruangan itu berisik agar pasien tidak terganggu.

Setelah dua hari di pindahkan di ruang inap, kondisi ibu mulai membaik dan ayah menyuruh Ikram untuk kembali ke pesantren agar melanjutkan ujian akhir semester yang tertunda. Ikrampun mengiyakan perintah ayahnya. Sudah seminggu ibu dirawat dirumah sakit baru Ikram kembali lagi ke pesantren dan begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan kepadanya mulai dari teman satu kamar, satu kelas bahkan ustaz dan ustazah yang menanyakan pertanyaan yang sama, bagaimana keadaan ibunya sekarang dan sakit apa ibu Ikram yang sebenarnya.

Dalam ruangan yang begitu luas, Ikram duduk di meja belajarnya dan membolak-balikkan buku-buku yang bersangkutan untuk ujian susulannya. Suara pintu di ketuk dari luar, salah satu teman sekamarnya membukakan pintu dan langsung memberi salam kepada siapa yang datang, rupanya ustaz yang datang dengan muka sedih menanyakan dimana Ikram. Ikram langsung menoleh dan bertanya kepada ustaz perihal kedatangannya yang tiba-tiba dan memasang muka sedih.

Ustaz tidak langsung bicara perihal yang membuat mukanya terlihat sedih, ia hanya menyuruh Ikram untuk langsung ganti pakaian dan bergegas menuju mobil. Dengan muka terheran-heran Ikram melihat sudah ada banyak ustaz dan ustazah didalam mobil yang menunggu kehadirannya dengan tampang yang sama seperti Ustaz Faiz. Setelah semua bersiap-siap, mobil langsung melaju dengan kecepatan normal.

Ikram tengah asik menikmati pemandangan kota saat ini. “Indahnya kota Medan jika sedang malam begini,” pikirnya dalam hati. “Tapi ini kenapa menuju rumah sakit dimana tempat ibu dirawat ya?” lirihnya dalam hati. “Siapa yang sakit? Ada apa dengan ibuku? Apakah keadaanya membaik atau sebaliknya?” pikirannya terus berkecamuk.

Benar dugaannya, mereka menuju rumah sakit dimana ibunya sedang dirawat. Setelah sampai, mereka segera menuju ruangan ibunya dan ayahnya terlihat berdiri di ruang tunggu dan langsung memeluk Ikram begitu melihatnya sambil menangis. Langsung terlintas di benaknya, “pasti ada sesuatu yang terjadi pada ibuku”. Dengan sisa isak tangis, ayah mengatakan hal yang paling sedih yang pernah Ikram dengar, bahkan Ikram pun belum siap mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya itu.

“Nak, ibumu sudah tidak ada lagi di dunia ini sayang, ayah gagal menjaga ibumu sampai sembuh nak, maafkan ayah,” dengan sisa tenaga yang ayah punya ia berusaha menjelaskan dan memeluk Ikram dengan sangat erat. Seketika tubuhnya Ikram melemah tak berdaya dan air matanya pun berlinang begitu deras. Tempat itu seketika menjadi sangat ramai, bukan karena suara orang yang sedang berbicara melainkan isak tangis.

Pintu ruangan dimana ibu dirawat telah dibuka, terlihat para suster mendorong kasur putih yang di tutup seluruhnya layaknya orang meninggal. Di dalamnya ada ibu yang sangat Ikram sayangi di dunia ini. Ikram, ayah dan yang lainnya langsung menuju jasad ibu yang terbaring kaku di atas kasur, di buka kain penutup mukanya agar dapat terlihat wajah itu untuk terakhir kalinya sebelum di kafankan. Ikram mencium pipi dan tangan ibunya dengan rasa rindu yang amat sangat dalam, dengan kedua pipinya di banjiri air mata.

Sesampainya di rumah, sudah berjejeran papan bunga yang bertuliskan turut berduka cita, terdengar pula suara lantunan ayat suci Alquran dari dalam rumah yang di bacakan oleh kerabat dan tetangga yang melayat. Jasad ibu langsung di letakkan di ruang tengah yang tempatnya sedari tadi telah di siapkan. Ikram yang duduk tepat di sebelah kiri ibunya tak kuasa menahan diri, tiba-tiba tubuhnya terasa lemah, lunglai tak berdaya hingga ia tak sadarkan diri. Ikram pingsan karena harus menghadapi kenyataan yang pahit itu. Ikram tersadar setelah ibunya di antarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya, ia menyesal tidak ikut serta memakamkan ibunya, tapi apalah daya semua sudah terlambat. Sekarang ia hanya bisa berdoa semoga ibunya di terima di sisi Allah dan juga amal ibadahnya. Ikram selalu berdoa di setiap salatnya dan tak lupa ia kirimkan ayat suci Alquran untuk ibunya agar kuburannya di terangi oleh cahayanya Allah.

Ikram tersadar dari lamunannya tentang kronologi meninggalnya sang ibu, hingga tak sadar kedua matanya kembali berair membasahi kedua pipinya yang mulus itu. Semua telah ia lakukan untuk ibunya tersayang, mulai dari mendoakannya setiap kali salat dan membacakan ayat suci Alquran. Ia juga ingat saat terakhir kali ia mencium pipi dan tangan ibunya namun ia lupa untuk memeluk ibunya untuk yang terakhir kali, itu hal sangat ia sesali dalam hidupnya. “Kenapa aku bisa lupa untuk memeluk ibu? Kapan terakhir aku di peluk ibu? Apa waktu libur sekolah itu? Kenapa aku melukapan hal yang seperti ini? Aku rindu dekapanmu ibu,” hatinya terus berkata lagi dan lagi. Namun sekarang Ikram hanya bisa memandangi foto ibunya saja tanpa memegangnya lagi, istigfar ia lontarkan berkali-kali atas apa yang telah terjadi padanya, ibunya dan ayahnya.

Editor: Atika Andayani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.