Konsumerisme dan Euforia Harbolnas

0
Penulis adalah Editor LPM Dinamika UIN SU

Oleh: Maya Riski

Konsumerisme adalah kata yang tidak asing di telinga masyarakat, terutama di kota metropolitan. Konsumerisme memiliki dua pemahaman, pertama, gerakan atau kebijakan untuk melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual, dan pengiklan. Kedua, paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya; gaya hidup yang tidak hemat.

Tidak dapat dimungkiri Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) memberikan penawaran yang sangat menarik konsumen, sesuai dengan tujuan pengadaannya, yaitu menawarkan diskon besar-besaran untuk menarik pembeli. Kita akan membeli satu, dua, atau beberapa barang yang kita butuhkan, inginkan, atau kita tidak membutuhkannya dan pada awalnya kita tidak menginginkan barang tersebut namun, memilih membelinya dengan pemikiran, Harbolnas adalah waktu dan kesempatan yang tepat untuk membeli barang tersebut.

Perilaku ini sinkron dengan pemahaman konsumerisme kedua di atas. Kita akan merasa senang dengan memiliki barang baru tersebut. Namun pertanyaannya, sampai kapan rasa senang itu akan bertahan? Setelah perasaan senang itu menghilang, kita akan mulai berpikir mengapa saldo ATM yang kita miliki berkurang, mulai mengkalkulasi segala pengeluaran, dan beberapa waktu ke depan mulai merasa sesak dengan banyaknya barang yang dimiliki.

Perkembangan dan Dampak Harbolnas
Pelaksanaan Harbolnas di Indonesia mengadopsi Cyber Monday yang dilakukan di Amerika Serikat, dengan misi memajukan industri e-commerce dan mengedukasi masyarakat tentang kemudahan belanja online yang aman dan nyaman.

Kesuksesan pelaksanaan pada tahun pertama, 12 Desember 2012, membuat Harbolnas lebih dikenal dengan 12.12. Aksi ini awalnya hanya diikuti tujuh e-commerce, dari inisiatif spontan yang akhirnya bergerak menjadi sebuah aksi bersama yang dilakukan para industri retail online di Indonesia. Jumlah e-commerce pada 2013 pun meningkat menjadi 22 e-commerce, lalu 2014 menjadi 78, dan pada tahun 2015, 140 e-commerce. Pada 2017, 254 e-commerce berpastisipasi dalam aksi ini dengan total nilai transaksi Rp4,7 triliun. Nilai transaksi ini naik dibanding 2016, sekitar Rp1,4 triliun (Tempo, 19/12/2017).

Berdasarkan catatan Asosiasi e-commerce Indonesia (Idea), antusias masyarakat mengalami peningkatan, tercatat Rp6,8 triliun berhasil dikumpulkan pada Harbolnas tahun lalu, dilansir dari (Kompas, 12/12/2019). Khusus Harbolnas tahun ini, pada 11 Desember 2019 didedikasikan khusus promo produk lokal dan Usaha Mikro-Kecil dan Menengah (UMKM) mulai dari fesyen, makanan, elektronik, perlengkapan rumang tangga, hingga travelling. Jumlah e-commerce yang berpartisipasi pada aksi ini juga mengalami peningkatan, yaitu sekitar 250 e-commerce.

Promo, diskon, flash sale memicu konsumen untuk berbelanja, sampai akhirnya membeli barang yang tak terlalu diperlukan. Hal ini tercermin dari hasil riset yang dilakukan oleh peneliti pasar, Ipsos, riset ini melibatkan 1.000 responden, diketahui 92% menganggap promo yang ditawarkan e-commerce saat Harbolnas menarik. Setengah dari responden mengaku menantikan kehadiran Harbolnas untuk bisa mendapatkan barang dengan yang lebih murah. Bahkan, 33% responden mengatakan bahwa mereka kadang membeli barang yang tidak dibutuhkan, dan 46% responden juga mempersiapkan bujet yang lebih banyak saat Harbolnas (Detiknet, 19/02/2019).

Meningkatnya UMKM yang ingin menjual secara online, banyaknya varian barang yang tersedia, harga yang lebih murah, adasederet dampak positif pelaksanaan Harbolnas. Namun, Harbolnas juga membawa dampak negatif, yaitu dapat meningkatnya pengangguran, dikarenakan tidak diperlukannya tempat jual konvensional dan SDM yang terlalu banyak dan meningkatnya budaya konsumtif yang sangat murah dan mudah tertipu.

Mahasiswa dengan Harbonas
Sebagai seorang mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar kota, maka bagaimana cara membawa semua barang yang kita miliki kembali ke kota asal? Sederhananya adalah melakukan hal yang sama, seperti bagaimana kita membawa barang tersebut ke tempat menempuh pendidikan. Namun, hal yang harus disadari ada banyak sekali barang yang bertambah, baik yang sungguh dibutuhkan atau tidak, yang pada akhirnya membuat kita harus mengeluarkan uang dengan jumlah yang besar untuk biaya pengiriman barang-barang tersebut.

Sesampainya, seluruh barang yang dimiliki akan menumpuk dan menyesaki ruangan. Tanpa kita sadari konsumerisme menimbulkan rasa tidak nyaman bagi diri kita, yaitu kita membutuhkan waktu yang lama untuk berberes dan sulit menemukan barang yang kita butuhkan.

Kemudian timbul pertanyaan kembali, kapankah waktu yang tepat untuk kita berbelanja? Harbolnas mungkin benar waktu yang tepat untuk berbelanja namun, terlepas dari penawarannya yang menarik, alasan pentingnya adalah kita membutuhkan barang tersebut atau kita mengganti barang yang sudah rusak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.