Penulis            : Nurul Farhana Marpaung

Sinar rembulan malam tampak menyelinap masuk dari sela-sela bangunan kokoh berjeruji besi. Terlihat seorang pria paruh baya sedang merintih menangis sambil menengadahkan tangan dengan khusuknya. Dengan seragam yang ia kenakan, dan wajah lusuh  mendorongku untuk menghampirinya di sepertiga malam itu.

Suasana hening dan saling tatap pun terjadi, awalnya aku sempat khawatir penghuni sekitar ikut terjaga mendengar langkah kakiku ini. Perlahan ku panggil pria paruh baya itu, kemudian ku sodorkan selembar tisu penghapus bulir-bulir air yang menetes tepat dipipinya.

“Pak, boleh mendekat?” Sapaku perlahan.

****

Aku Mizan, seorang yang bertugas sebagai penjaga rumah tahanan di Kota Bengkulu. Kurang lebih selama tiga tahun aku sebagai pekerja tetap di sini. Bukan pekerjaan berat maupun menantang, tapi menurutku ini pekerjaan yang menguras hati. Kita dipaksa tegas dan keras di sini, sangat bertolak belakang dengan pribadiku. Kejadian demi kejadian sudah aku saksikan di sini, segala bentuk manusia dengan berbagai kejahatan yang ia perbuat. Di sini, tak pernah kutemui kedamaian dan kenyamanan, selalu saja keributan dan pertengkaran.

Persis enam tahun yang lalu, aku dikejutkan dengan seorang tahanan baru berusia paruh baya. Wajah lugunya itu mengundang rasa iba dihatiku. Tiba-tiba saja aku teringat dengan sosok almarhum ayah tercintaku yang jika masih hidup agaknya seumuran dengan beliau. Kagetnya, begitu dimasukkan ke dalam tahanan, pria itu takbir dengan lantang sehingga mengusik para tahanan lain. Jarang-jarang kejadian seperti ini kualami, kebanyakan di antara mereka meringking dan menolak dengan wajah marah, tak sedikit pula yang menangis.

Seminggu berlalu, ku perhatikan pria paruh baya ini. Ku cari tahu namanya lewat buku hitam tahanan. Ku tanya kasusnya kepada polisi yang bertugas. Setidaknya sedikit tentangnya aku ketahui. Pria yang memegang nomor tahanan 1014 ini rupanya terjerat tindak pidana pembunuhan. Aku sempat terkejut, dengan kasus dan wajah yang tak memungkinkan itu.

Seperti biasa, setiap hari Minggu ada kegiatan rutin di rumah tahanan ini yaitu senam sehat bersama dilakukan di pagi hari. Tampak pria paruh baya itu bersiap-siap terlebih dahulu, rupanya setelah salat subuh dia tak lagi tidur.

“Banguun…senam pagi,” seru para penjaga rutan (rumah tahanan).

Dengan sigap pemilik nomor 1014 itu keluar dan berdiri tepat dibarisan pertama. Sedikit semangat dan senyum terukir di bibirnya. Pukul 09.00 WIB senam pun usai, pria itu tak terlihat. Sebagian tahanan berkumpul di ruang tunggu, karena hari ini merupakan hari kunjungan keluarga. Sebagian yang tidak dapat kunjungan kembali ke ruangan masing-masing dan melakukan hal lain.

“Bang, lihat No. 1014, bapak yang agak tua itu?” Tanyaku pada salah satu anggota polisi.

Namun takku temukan jawaban dari orang-orang yang ku tanya, mencoba ku telusuri rumah tahanan ini dengan langkah tegap, kusorot semua ruangan sampai kamar mandi. Tak terlintas dibenakku bahwa dia itu kabur, yang ku khawatirkan penyakitnya kambuh. Menurut keterangan, bapak tersebut memiliki penyakit asma.

“Ini rupanya dia,” lega dihatiku.

Terakhir, ku temukan dia di mushalla rutan sedang sujud, rupanya dia sedang salat. Kemudian diambilnya kitab suci Alquran, lalu dibacanya ayat perayat, ditutupnya lalu dijunjung, begitu dia memuliakan Alquran tersebut. Dia tahu sedari tadi aku sudah memperhatikannya, kuhampiri dia dengan sikap tenang, tidak sebagai seorang penjaga rutan.

“Salat apa yang bapak lakukan tadi?” Tanyaku membuka cerita.

“Mau belajar?” Jawabnya tersenyum sambil memegang pundakku.

Aku merasa sosok ayah kembali lagi dengan balutan kata yang lembut dan ukiran senyum itu. Sosok penyayangnya mengingatkanku dengan almarhum ayah.

“Aku miskin pengetahuan agama, Pak!” Kataku merunduk.

“Jika ada keinginan, pasti ada jalan. Rahmat Allah berlimpah, Nak!” Katanya penuh nasehat.

****

Dua bulan semasa ditahan, beliau belum pernah mendapat kunjungan dari keluarga. Akulah yang selalu mengunjunginya di hari Minggu. Setiap minggunya aku belajar dengan beliau, beliau paham sekali akan agama. Awalnya aku tak ingin menanyakan tentang keluarga dan kasus yang terjerat padanya sehingga harus menjalani hukuman seumur hidup berada dijeruji besi. Aku takut hanya mengundang kesedihannya saja. Akan tetapi, aku selalu penasaran, selalu timbul tanda tanya di benakku ini. Yang beranggapan seorang bapak dengan paham agama melakukan hal sekeji itu, melenyapkan nyawa manusia itu tidaklah mungkin.

“Pak, bagaimana bisa…….”

Tak sempat pertanyaan yang ingin ku lontarkan selesai, bapak itu sudah memotong pembicaraanku dan menjelaskan semua yang terjadi yang menimpa dirinya. Hampir 3 jam pembicaraan kami. Setelah itu suasana di ruangan ber AC itu terasa hening, hanya terdengar gesekan-gesekan kaki dari luar dan canda tawa para pengunjung dan penghuni rutan. Kami saling tatap, bagai seorang ayah dan anaknya yang sedang cerita. Tak sengaja bulir bening itu menetes membasahi pipi kami, rintihan dari bapak mulai terdengar. Ku beri pelukan hangat sebagai penyemangat kepadanya. Kuusap pundaknya, ku hapus air mata yang membasahi pipi yang mulai keriput dan menua.

Batinku terasa melemah, ternyata ingin berbuat baik sekalipun segelintir orang menganggapnya tidak baik. Bahkan, mempunyai teman yang banyak sekalipun disaat kesusahan seperti ini, tak satupun teman bahkan saudara yang sudi membantu. Suatu perkara itu tak bisa diambil dari satu sisi. Nampaknya kepercayaan seseorang itu harus betul-betul bisa dijaga. Perkara kesalahan sedikit rusak kepercayaan yang sudah ditanam bertahun-tahun.

“Waktu yang bisa menjawab semua, bapak serahkan diri sama Allah, bapak perbanyak ibadah kepadanya. Allah tidak tidur, Nakku! Hanya itu yang mampu bapak lakukan, ibaratnya bapak tak ada gunanya lagi. Mendekamlah di jeruji ini sampai akhir hayat bapak. Manusia tidak semuanya sama, waspada selalu dan berhati-hatilah,” nasehatnya.

“Bolehku panggil ayah?” Hiburku mempercair suasana sambil tersenyum.

****

Malam itu, terlihat lagi ia sedang menengadahkan tangan dengan balutan kain batik dan alas seadanya yang berada di tengah peghuni ruangan kotor dan sedang tertidur pulas. Penampakan yang jarang kutemui, pasalnya kali ini aku tak sengaja terbangun dan melintasi ruangan itu.

“Ambil wudhu, dan salat ke mushalla. Ini namanya salat tahajjud, dilakukan sepertiga malam,” bisiknya kepadaku.

Ia mengambil pulpen yang berada disaku depanku dan menuliskan niat salat tersebut ditangan kananku.

“Hapalkan sebelum berwudhu,” bisiknya lagi.

****

Di sini, aku menemukan sosok ayah sekaligus guru yang selalu membimbingku. Padahal, aku tak menemukan ini sebelumnya. Ketika umurku lima tahun aku sudah kehilangan sosok ayah. Di sini, kutemukan pula kedamaian dalam diri ini.

Tak terasa enam tahun sudah berlalu, sekarang aku mengenal pribadiku. Aku belajar tentang banyak hal, mungkin jika dituangkan dalam sebuah buku, takkan pernah usai cerita ini. Perjalannya sudah panjang, kini tiba waktu yang menjawab semuanya seperti perkataannya kemarin. Dengan penyakit yang ia derita, akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya dijeruji besi tempatnya selalu bersimpuh lutut dan menengadah tangan. Tampaknya dia meninggal dalam keadaan husnul khatimah, pintu surga menantinya di sana.