Kado Terindah (3)

0
Ilustrasi : www.instagram.com/dori_sue

Bagian Ketiga…

Penulis : Maya Riski

Aku tak tahu mengapa aku harus berada di lorong panjang ini sekarang, ku pikir lorong gelap dan sedikit lembap ini tak berujung, sama dengan pikiranku, aku sedikit gemetar, percayalah, hanya sedikit. Toh, ini bukan pengalaman pertama buatku semenjak peristiwa itu.

Bunda berada di tempat yang terang, setidaknya itu membuat ku sedikit jauh lebih tenang dan aku rasa aku tak perlu khawatir, kulihat orang yang menemaninya juga memakai seragam serba putih, tentu itu setidaknya sedikit lebih menenangkan. Tapi ini sudah lebih dari tiga jam, dan aku tak bisa katakan tubuhku bergetar biasa saja. Aku hanya ingin katakan kepada Tuhan “Aku tidak menginginkan kado dari Bunda”.

***

Semenjak peristiwa  memalukan itu, entah mengapa bocah pembaca puisi dengan cara yang aneh itu sering melihatku, entah apa gerangan, terkadang ketika aku berfoto selfie kulihat dari layar dia tersenyum-senyum menatapku, terkadang dia tersipu ketika lewat di depan mejaku, dan aku, mulai merasa ngeri dengan sikapnya.

Aku heran mengapa hampir dua semester pelajaran kami hanya membuat puisi, membaca puisi, musikalisasi puisi, ada pula drama puisi, bagaimana bisa orang berkelahi saling beradu puisi ditambah kau harus menegangkan urat lehermu, layaknya orang yang benar berkelahi, dan apesnya semenjak hari itu aku selalu disuruh membacakan puisi buatanku dengan tema acak, dan bocah itu selalu menatapku sambil berpangku tangan, ingin sekali rasanya aku mengatakan “Kau sehat?” tapi kuurungkan.

***

Aku penderita hemophobia dan trypanophobia. Mengerikan sekali jika harus membayangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan darah dan aku paling tidak suka dengan aromanya, membuatku merasa tercekik dan lemas, terkadang juga menimbulkan rasa cemas, namun aku sedikit mengutuk diriku saat ini, karena aku tak memiliki keberani melihat Bunda, bahkan untuk mendekati ruangan di mana Bunda berbaring dengan ditemani rasa cemas.

Aku lebih memilih menenggak enam butir pil sekaligus dibanding harus menerima suntikan di bagian tubuh manapun. Bunda pernah mencoba menghilangkan trypanophobia dalam diriku dengan beberapa kali mencoba menemaninya ke rumah sakit untuk check up, Bunda mengatakan setidaknya kau sering melihat darah, suntik dan luka berat, mungkin membantu. Pertama kali menemani Bunda aku merasa biasa saja, kedua aku sedikit lemas melihat tetesan darah segar di sepanjang lantai satu rumah sakit menuju pintu keluar dan aku pingsan di hari ketiga, ketika sampai di rumah sakit, tiba-tiba saja beberapa orang dengan seragam putih berlari keluar dan kembali masuk membawa korban kecelakaan yang keadaannya mampu membuatku mengeluarkan sarapanku pagi tadi, hingga semua gelap dan akupun terlelap. Bagiku, menghindar adalah pilihan terbaik.

***

Ini sudah lima jam, namun aku belum menemukan keberanian yang entah bersembunyi di mana untukku bawa menemui Bunda saat ini. Hingga aku merasa sentuhan hangat menyelimuti sekujur tubuhku, Ayah, Ayah memelukku sekarang, dan aku pun menangis seketika, menangisi ketakutanku.

Aku berada tepat di depan Bunda, hanya dibatasi selembar kayu bergagang, dan betul saja, aku melihat Bunda dengan seseorang yang memeluknya. Ayah menuntun tanganku menyentuh jemari kecil itu, “Ini Ar, Me! Ar yang pernah Ayah bilang,” kata Ayah lembut, selembut jemari yang sedang kusentuh. “Ardiyansyah Bumi Ibrahim” ini kado untuk kamu Sayang “Selamat ulang tahun. Maaf membuatmu menunggu lama”.

-The End-

Editor : Rizki Audina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.