Oleh :  M. Zuchri Nasuha Lubis*

Sobat kampus pernah merasakan sensasi berwisata kuliner dengan menu makanan laut (seafood) yang masih segar? Tak hanya itu, sambil bersantap ria kita juga dapat melihat pemandangan laut lepas serta merasakan irama ketenangan yang dihasilkan oleh deburan ombak. Atau ingin melihat burung-burung laut yang beterbangan sambil menikmati menu makanan laut yang terhidang di meja? Jangan khawatir. Tak jauh dari kota Medan kita akan mendapatkan sensasi ini.

Sinar mentari pagi ini dengan hangat menyapa kami yang kala itu tengah mempersiapkan sebuah misi wisata untuk rehat sejenak dari penatnya aktivitas rutin. Bermodal sepeda motor serta beberapa lembar rupiah, perjalanan kali ini kami menuju restoran terapung dengan menempuh rute jalan Pancing, Simpang Cemara Asri, Desa Sampali, Desa Percut, hingga menuju destinasi akhir, Desa Bagan Percut.

Kami pacu kecepatan sepeda motor pada bilangan 50-60 km/jam, 45 menit berkendara, kami tiba di Desa Bagan Percut, Minggu (1/11). Di Desa Bagan Percut, terdapat sebuah sungai yang dinamakan Sungai Percut. Sungai inilah yang dijadikan sarana menuju restoran terapung.

Sesampainya di Desa Bagan Percut, pemandangan yang tak biasa pun kami lihat. Masyarakat yang memiliki rumah di dekat Sungai Percut menjadikan halaman rumah bahkan teras rumahnya sebagai tempat parkir kendaraan para wisatawan yang akan berkunjung ke restoran terapung atau sekedar melihat laut lepas melalui Sungai Percut. Dengan rupiah senilai 5.000, sepeda motor kami parkirkan di rumah salah satu masyarakat.

Langkah kami pun berlanjut. Lima menit perjalanan kaki, jalanan becek, aroma amis hewan laut hasil tangkapan nelayan serta keriuhan dan ramainya kerumunan pengunjung menyadarkan kami bahwa kami telah tiba di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Di TPI inilah para pengunjung biasanya membeli ikan laut, cumi-cumi, kepiting, kerang, udang serta makanan laut lainnya yang tentunya dalam kondisi sangat segar (kadang dalam kondisi masih hidup) untuk dimasak di restoran terapung. Pada tahap ini, kami tidak membeli apapun.

Berikutnya, kami mencari perahu mesin (boat) yang akan menyeberangkan kami dari TPI menuju restoran terapung. Dengan Rp10.000 per orang, perjalanan mengarungi Sungai Percut pun kami mulai. Hijaunya hutan bakau serta terpaan angin laut dan suara perahu mesin yang hilir mudik menambah serunya suasana perjalanan. Tak hanya itu, monyet muara yang bermain di batang bakau menambah kesan tersendiri bagi wisatawan.

Sepuluh menit berikutnya, tampak dari kejauhan sebuah bangunan sederhana telah menanti kedatangan kami. Perahu mesin yang kami tumpangi perlahan mendekati jembatan bangunan untuk menurunkan penumpang. Tak disangka, bangunan  sederhana inilah yang dimaksud dengan restoran terapung. Hanya berpondasikan beton serta terdiri dari bambu dan triplek sebagai badannya, restoran ini benar-benar menawarkan arti sebuah kesederhanaan. Tak usah khawatir dengan kondisinya, restoran terapung ini dibangun di pinggiran Sungai Percut. Jika normal, ketinggian air di bawah restoran hanya mencapai setengah meter. Tak lama, Perahu mesin pun meninggalkan kami untuk mengangkut pengunjung lainnya.

Umumnya, pengunjung yang datang ke restoran terapung adalah keluarga yang sedang melakukan wisata, muda-mudi yang sekedar menghabiskan akhir pekan serta para karyawan yang melepaskan diri dari penatnya rutinitas harian. Tampak beberapa pemudi yang sedang merayakan ulang tahun temannya serta sekumpulan pengunjung yang sedang merayakan reunian.

Setibanya di restoran terapung, kami segera memesan apa yang ingin kami santap. Pihak restoran terapung mempersilakan pengunjung untuk membeli bahan makanan laut di luar restorannya dengan syarat pihak restoran terapunglah yang memasaknya. Selain itu, pihak restoran terapung juga menyediakan bahan makanan laut bilamana wisatawan enggan membelinya di TPI. Setengah kilogram udang galah dan satu per empat kepiting menjadi menu yang kami pesan.

Tanpa memakan banyak waktu, menu yang dipesan telah terhidang di meja. Waktu makan siang yang telah lewat satu jam dari seharusnya menyebabkan kami tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyantap hidangan. Sensasi menyantap menu laut dengan panorama laut lepas benar-benar menjadi pengobat kepenatan dari rutinitas harian.

Usai menyantap hidangan dan sembari menunggu kembalinya perahu mesin, kami sempatkan bersantai sejenak di atas restoran terapung sekedar mengabadikan momen kedatangan kami serta melihat burung bangau yang terbang rendah mencari ikan.

Tak terasa, dua jam telah kami habiskan di atas restoran terapung. Pasang air laut pun mulai merendam batu penyangga restoran yang menandakan kami harus segera pulang sebelum senja tiba. Dari kejauhan terlihat perahu mesin yang menjemput kami mulai mendekat.

Sebuah perjalanan singkat, menikmati suasana laut lepas dengan misi wisata kuliner. Perlahan perahu mesin yang kami tumpangi bergerak meninggalkan restoran terapung. Tetesan air hujan yang turun senja itu menambah hikmatnya perpisahan dengan restoran terapung. Dalam hati kuselipkan sepatah kalimat, “sampai berjumpa lagi restoran terapung. Tunggu kedatanganku kembali.”

*Penulis adalah Pemimpin Umum LPM Dinamika UIN SU