Foto    : Dok. Panitia

Medan, Dinamika Online – Sebagai seorang jurnalis yang juga merupakan mantan pers mahasiswa, Teddy Wahyudi mengungkapkan pandangannya mengenai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang saat ini ibarat katak dalam tempurung, “Sebagai mahasiswa yang dipercaya sangat kritis, seharusnya Persma bukan hanya sibuk memberitakan seputar kampusnya saja, namun tidak mengikuti isu-isu media saat ini, itu menurut saya ibarat katak dalam tempurung,” ungkapnya saat mengisi acara bedah buku yang diadakan oleh LPM Stikpress di aula HAL STIK-P Medan, Senin (11/12).

Teddy juga mengungkapkan pandangannya mengenai LPM yang saat ini lebih fokus pada kegiatan organisasi mereka sehingga LPM lupa akan hakikat Persma sebenarnya, “Ada slip yang harus diperhatikan, bahwa LPM bukan dibentuk untuk Event Organizer, tapi adalah tempat meningkatkan kapasitas kemampuan anggotanya terhadap dunia jurnalistik, mendalaminya dan membangun jaringan dengan organisasi jurnalistik yang besar, agar tercipta calon jurnalis yang handal,” jelasnya.

Lebih lanjut lagi beliau menambahkan bahwa Persma harus mengetahui bahwa koran, majalah dan televisi adalah sebuah perusahaan media, bukan jurnalisme. Akan tetapi di dalam perusahaan media itulah hidup para jurnalis. Oleh sebab itu, menurutnya Persma harus memperhatikan bagaimana masa depan mereka tersebut, “Persma harus mengawasi dan memastikan bagaimana proses transformasi antara bisnis perusahaan ini dengan integritas dan kesejahteraan jurnalisnya, apakah sudah sesuai dengan kode etik atau belum, sehingga mereka dapat memastikan bahwa masa depan mereka  tidak menindas dan menjajah mereka,” tambahnya.

Sebagai penutup, Teddy berpesan kepada Persma agar lebih kritis terhadap masa depan jurnalis yang telah dimuat dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang kesejahteraan jurnalis. Namun menurut pandangannya jurnalis saat ini adalah pejuang kebenaran yang secara diam-diam ditindas, “Dalam menyajikan informasi yang detail, fakta dan penuh data untuk mencerdaskan publik, wartawan tentu membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Sementara ia harus diganggu persoalam-persoalan susu anaknya yang belum tercukupi karena dia tidak mendapatkan hak yang sesuai, padahal media mendapatkan keuntungan yang luar biasa dari iklan, ini dapat menjadi PR bagi Presma,” tutupnya.

Reporter         : Kurniawan Jabat

Editor             : Shofiatul Husna Lubis