Four Tour Guides For Four Cities

1
Foto: Dok. Pribadi

Minggu, 8 September 2018 menjadi saat kali kedua aku mengendarai pesawat terbang menuju pulau seberang, tujuan akhir Kota Semarang. Namun, singgah di berbagai kota sebelum mencapainya tak mengapa pikirku. Salah satunya ibu kota negeri maritim ini, yaitu Jakarta. Pukul 01.00 dini hari aku disambut hangat oleh keluarga tour guide-ku yang pertama, bertemankan nasi goreng dan cilok khas Betawi yang menambah hangat malam pertamaku di kota orang. Kebetulan keluarga temanku berangkat dari kota metropolitan ketiga di Indonesia. Tia, adalah penduduk ibu kota. Maka, sembari kami mengunjungi keluarga pemandu wisataku itu, ia mengajakku bercengkerama dengan keluarga sederhananya.

Ibu kota menjadi destinasi pertama perjalanan yang kami canangkan sedari seminggu lalu. Tentu kesempatan untuk aku mengelilinginya tak bisa tertolakkan. Bersama orang yang Tia panggil uwak menaiki kendaraan beroda empat kami menyambangi beberapa destinasi wisata di kota itu. Mulai dari Taman Impian Jaya Ancol yang kala itu belum dibuka karena masih terlalu pagi, Kota Tua Jakarta, hingga Masjid Istiqlal. Dengan kamera canggihnya tour guide-ku dengan sabar mengabadikan momenku yang saat itu sedang kemaruk-kemaruknya. Tak jarang ia mengajariku bagaimana pose foto yang tepat, hingga kami menjadi bahan pandangan orang pun tak ia pedulikan. Sedikit mengulang lagi, ketika di kotanya Tia kami menyempatkan bertemu dengan dua alumni organisasi kami yang memiliki usaha di Tanah Abang. Mengendarai bajaj yang saat itu berwarna biru hingga makan di tempat makan mewah yang sendoknya berat pun menjadi bagian dari ceritaku ketika berada di kota monumen nasional itu.

Menuju petang aku dan Tia harus bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Berkendara sebuah travel dengan tujuan Kota Bandung saat itu. Malamnya, kami tiba. Disambut oleh tour guide-ku yang kedua bersama salah seorang temannya. Sebenarnya Ia asal Cimahi. Namun, karena ingin menyambut kami ia harus meminta bantuan temannya di Bandung agar memberi kami penginapan satu malam. Teh Caca, begitu kami memanggilnya beserta temannya Teh Rahma. Mengenal sosok Teh Caca yang kami kenal hanya dari hasil perbincangan bersama almarhum Pemimpin Umum LPM Dinamika dua periode lalu, Ahmad Azwar Batubara. Si gadis manis dan mungil yang cerdas serta berwawasan luas itu menjadi pemandu wisata kami di Tanah Pasundan. Pasalnya, ia sangat senang akan kedatangan kami karena tak hanya bisa mengenal dari perbincangan dengan si “Akang” saja, melainkan langsung bertatap muka.

Aku mengagumi sosok manis Teh Caca sama seperti aku mengagumi Kota Bandung. Kota yang menjadi tempat tinggal salah seorang Bupati Favoritku Ridwan Kamil kala itu. Bukan jarang aku memimpikan tinggal di situ, karena aku suka kebersihan kotanya serta sikap ramah penduduknya. Ia seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Pendidikan Indonesia. Siapa yang tidak mengenal UPI Bandung dan untungnya Teh Caca mengajak kami berkeliling serta swafoto di kampusnya yang hijau itu. Beranjak dari UPI, kami mengunjungi festival Muharam Kota Bandung, Masjid Raya Bandung, serta Taman Balai Kota Bandung. Tak melewatkan kesempatan untukku membeli beberapa pernak-pernik khas Bandung di Cihampelas.

Berlanjut dari Bandung, Senin malam kami bergegas menuju daerah yang digaungkan sebagai kota pelajar. Sedari berangkat menuju Jogja, ponselku dan Tia tak henti-hentinya bernotifkan pesan yang berisi beberapa pertanyaan dari orang yang kami panggil abang. Ia adalah alumni kami di organisasi, namanya Gigih Suroso. Nah, ialah yang akan menjadi tour guide ketiga kami di kota yang ketiga ku kunjungi itu. Ku akui, penyambutannya tak sehangat seperti kedua tour guide-ku sebelumnya. Memerintah kami ini itu, harus begini begitu hanya dari pesan Whatsapp hasil ketikan jari di ponselnya. Ia memang penuh teka-teki bagiku, tak banyak bicara tapi pemilik segudang ilmu. Tiba-tiba saja ia berpesan bahwa ia sudah menyediakan sebuah motor yang harus kami kendarai mengikutinya mengelilingi kota gudeg itu.

Ia cukup cerewet ketika meminta kami berpose untuk kemudian ia abadikan di kamera milik Tia. Orangnya tak suka basa-basi dan berleha-leha, aku paham tujuannya cuma satu, agar kami bisa merasakan lebih banyak tempat di Jogja. Bersama seorang teman prianya, mereka beradu kecepatan berjalan dengan kami yang keduanya wanita. Sesekali kami menertawai diri kami sendiri yang tertinggal jauh di belakang mereka karena kelelahan berjalan. Mulai dari Puncak Becici, Taman Sari, sampai Malioboro menjadi tempat kami berkeliling ria. Tak ayal, belum sampai ke tujuan akhir memori kamera Tia sudah hampir penuh.

Bersama teman-teman asramanya, mereka mengantarkan kami ke tempat sebuah travel yang bertujuan Semarang. Bakda Magrib kala itu, kami berpamitan dengannya dan berharap bertemu lagi di Medan. beberapa jam berselang di kendaraan, tiba masanya kami sampai di Semarang. Kali ini kami bertemu tour guide yang terakhir di kota yang terakhir pula pada ceritaku kali ini. Mahasiswa Fakutas Hukum Universitas Diponegoro berjumlah tiga orang saat itu. Mengantarkan kami ke sebuah hotel yang menjadi penginapan kami saat akan mengikuti pelatihan kejurnalistikan beberapa hari ke depan. Meski tinggal di Semarang, mereka adalah orang asli Medan yang paham betul mengenai kebiasaan kami di Medan.

Sebelum sampai di hari seminar nasional, beberapa tempat yang kami kunjungi ialah Universitas Diponegoro, Klenteng Sam Poo Kong, Masjid Agung Jawa Tengah, serta Lawang Sewu. Tak lupa juga kami membeli makanan khas Semarang di salah satu toko yang lumayan terkenal disitu. Belanja ole-ole khas Semarang adalah agenda terakhir sebelum kami seminar nasional. Setelah seminar nasional maka semua peserta pelatihan yang berasal dari berbagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di Indonesia tersebut pun kembali ke daerah masing-masing. Namun tidak begitu dengan kami, LO kami yang sangat baik hati tak membiarkan kami pulang begitu cepat. Mereka mengajak kami mengelilingi kota lama hingga mengantarkan kami ke stasiun agar kemi kembali ke Jakarta, dari bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Kualanamu Medan.

Penulis: Suci Ayu Pratiwi

Editor: Rindiani

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.