Falah atau Kalah?

0
Penulis: Redaktur Bahasa LPM Dinamika UIN SU

Oleh: Iin Prasetyo

Berlalunya Ramadan mengakibatkan seseorang bersedih, ada juga yang pura-pura bersedih, bahkan ada yang sangat senang telah melewati masa-masa sulit dan terbebas dari jerat al imsak atau pembatasan diri untuk melakukan hal-hal yang dilarang, seperti makan siang dan sebagainya. Bermacam-macam ekspresi yang ditunjukkan kaum muslim yang telah merasa atau tidak merasa sukses menjalani ibadah pada Bulan Ramadan. Oleh karena itu ada pertanyaan yang cukup serius untuk menjadi konklusi catatan Ramadan pada pribadi setiap muslim yakni, falah atau kalah.

Ramadan telah jelas memberi definisinya bahwa al imsak ialah membatasi diri (dari hal yang tidak baik). Al imsak ini akan menjembatani seseorang yang menjalani ibadah puasa untuk meraih gelar laallakum tattaquun seperti yang dijelaskan dalam QS. Al Baqarah: 183. “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Dari hal ini, kita bisa menjawab pertanyaan yang akan menjadi konklusi selama sebulan penuh itu atas dasar mau atau tidak dan mampu atau tidaknya kita mendapatkan gelar tersebut.

Ramadan adalah bulan kebangkitan dan Syawal adalah bulan kemenangan. Untuk bangkit dari suatu keterpurukkan yang disebabkan oleh nafsu dan kejelekan tingkah laku perlu waktu yang lama. Namun, untuk merayakan kemenangan atas kebangkitan itu cukup waktu yang sebentar. Oleh karena itu manajemen Tuhan mempersiapkan momen ini sangat tidak perlu diragukan lagi, puasa selama tiga puluh hari sedangkan Lebaran cukup sehari atau dua hari, maka itu Lebaran sering disebut 1 Syawal.

Relevansi bangkit dan menang

Allah berfirman dalam QS. An Nisa’: 147, “Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” Apabila al imsak secara implisif mengalami pergeseran makna bahwa sebagai pembatas seseorang melakukan sesuatu hal bahkan yang halal saja dilarang pada waktu tertentu sebagai jerat bagi kehidupannya maka Allah telah menjawab dalam Alquran surah tersebut. Tegasnya puasa adalah momentum bagaimana kebangkitan menjadi sejarah besar bagi seseorang dalam pengalaman ketakwaannya kepada Tuhan dan muaranya hanyalah untuk kemenangan bagi dirinya.

Dikatakan bahwa puasa yang dijalankan selama 29 hari plus 1 hari itu adalah sejarah besar bagi ketakwaan seorang muslim kepada Tuhannya, Allah azza wajalla, maka dalam menjalankannya tidaklah semudah mengedipkan kedua mata. Ada ujian yang melatih kesabaran, rasa syukur, jujur, tidak nista, dan terutama rasa takwa kepada Tuhan Yang Mahamulia dan Mahaluhur.

Tidak itu saja, dalam puasa itu juga ada hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan siang dengan sengaja dan lain sebagainya dan ada juga hal-hal yang mengurangi bahkan meniadakan pahala puasa seperti bergunjing, tidak menjalankan ibadah sunah lainnya dan sebagainya. Dari hal-hal tersebutlah bahwa kebangkitan dalam momentum puasa tidaklah mudah dijalani karena selalu ada cobaan dan rintangannya.

Oleh karena itu Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah: 155-157, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innalillahi wa innailaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmad dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kebangkitan dan kemengan adalah keniscayaan. Artinya, apabila kebangkitan seseorang sukses dijalani dalam berbagai hal yang dipaparkan di atas maka secara otomatis ia akan mendapat keniscayaan itu, kemenangan. Kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan hati dan pikiran bahwa dari momentum puasa itu banyak hal yang membekas dalam hati dan pikiran seorang muslim dan itu berkesinambungan setelah sebulan puasa selesai dijalani.

Tidak tanggung-tanggung Allah memberikan hadiah kemenangan itu dengan pintu syurga khusus bagi muslim yang berpuasa yaitu Rayyan seperti yang dijelaskan Hadis. “Diriwayatkan dari Sahl bin Saad r.a. katanya: Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya di dalam syurga itu terdapat pintu yang dinamakan ar rayyan. Orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada Hari Kiamat kelak. Tidak boleh masuk seorang pun kecuali mereka. Kelak akan ada pengumuman: Di manakah orang yang berpuasa? Mereka lalu berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut. Setelah orang yang terakhir dari mereka telah masuk pintu tadi ditutup kembali. Tiada lagi orang lain yang memasukinya’” (HR. Bukhari 1896 dan Muslim 1152).

Pura-pura mencintai-Nya

Ramadan dan 1 Syawal adalah fenomena besar bahwa umat muslim mengalami kesalehan sosial maupun kesalehan pribadi atas dasar kesadarannya masing-masing untuk menyatakan cintanya kepada Tuhannya. Tidak ada masjid yang sepi, tidak ada sedekah dan infak yang ditinggalkan, kiyamul lail selalu disemarakkan, dan hal yang tak kalah besar adalah banyak toko atau pasar yang tidak akan sepi pembeli baik itu pakaian, alat-alat rumah tangga pernak-pernik Ramadan, dan menu-menu makanan takjil, bahkan ada penyediaan khusus pasar Ramadan seperti Ramadan Fair di berbagai kota. Orang-orang memakai pakaian terbaik mulai dari kopiah/ jilbab, baju koko/ hijab style, sarung, sampai sendal bahkan bertuliskan desain merk ternama.

Sah-sah saja bagi kita melakukan berbagai hal untuk menyemarakkan momen Ramadan karena itulah bentuk cinta kita kepada Islam, bahkan yang tidak berpuasa pun turut ikut menyemarakkannya. Akan tetapi ada hal yang sangat krusial dari semua yang menyangkut Ramadan dan jelang 1 Syawal, yakni mempertahankan hati dan pikiran yang mencerminkan ketakwaan kepada Tuhan. Apakah hal ini sulit? Jika terasa berat, lantas bagaimana banyak orang yang bersuka ria berbondong-bondong salat berjemaah ke masjid, berselawat atas Rasulullah saw., berinfak dan bersedekah, bersabar dan tidak membangkitkan kegaduhan antarsesama? Ramadan kala itu, apakah kita hanya pura-pura mencintai-Nya? Astagfirullah. Maka itu, kita tidak hanya harus mengembalikan segala sesuatu itu pada diri masing-masing namun, juga mengembalikan diri kita kepada Sang Pemilik hidup kita, Allah-lah tempat kembali itu.

Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah: 2-5, “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (Alquran) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Setidaknya kita tidak menjadi orang pecundang untuk tetap berjuang di jalan agama yang diridai-Nya ini. Kita merasakan kemenangan setelah momen Ramadan ini jika banyak hal yang telah kita rasakan sebagai manusia yang lebih baik dan istiqamah dalam keterpujian itu.

Begitupun dengan yang masih belum menjiwai Ramadan yang telah berlalu sungguh rugilah kita menjadi orang yang kalah. Akan tetapi tidak berarti orang yang mendapat gelar laallakum tattaquun itu, ujian yang ia alami berhenti bersamaan dengan Ramadan, bahkan akan lebih berat membuktikan kalau kita benar-benar mencintai-Nya kala pasca-Ramadan.

Kembali Allah menegaskan dalam QS. Al ‘Ankabut: 2-3. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.Shadaqallahul ‘adziim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.