Dibalik “Semoga Lelahku Lillah”

0
Ilustrasi: www.fatihsyuhud.net

Penulis: Wahyu Nizam

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan menegerjakan amal shaleh dan nasihat-nasihat supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”

(QS. A1-Ashr 103: 1-3)

Waktu adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah Swt yang sudah seharusnya digunakan manusia secara bijak dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Agama Islam sangat menganjurkan untuk pandai dalam menggunakan waktu agar tidak menjadi orang-orang yang merugi sebagai mana maksud dari ayat di atas.

Agar tidak menjadi orang yang merugi dalam surah Al-ashr tersebut, terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi oleh manusia, di antaranya adalah beriman, mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran. Beriman adalah syarat pertama yang harus ada dalam hati manusia, ketika di dalam hati telah ada rasa iman yang kuat, maka senantiasa diri kita akan terdorong untuk selalu mengerjakan amal-amal saleh yang sesuai dengan perintah  Allah Swt dan menjauhi larangannya sehingga kita dikatakan sebagai orang yang bertakwa.

Pada kenyataannya sebagian besar dari kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi, mengapa demikian? Kesibukan kita terhadap urusan dan kecintaan yang teramat dalam kepada dunia membuat kita lupa bahwa ada kehidupan yang abadi kelak. Kita teramat lalai dalam menggunakan waktu, terkadang kita sangat suka menunda pekerjaan, bermalas-malasan akan melaksanakan kewajiban kepada Allah Swt.

Kita sering kali mengatakan semoga apa yang kita lakukan karena Allah Swt (lillah), namun kita tidak sadar bahwa pekerjaan yang kita lakukan justru membuat kita menunda atau bahkan lalai pada perintah Allah Swt. Salat lima waktu misalnya, sering sekali kita melewatkan ketepatan waktu karena sebuah pekerjaan yang kita anggap jauh lebih penting, kita takut akan hukuman yang dibuat manusia, tetapi tidak takut akan hukuman dari Allah Swt.  Apalagi jika kita termasuk orang yang penyebab orang lain menunda dan lalai terhadap kewajiban. Lalu, pernahkah kita bertanya di manakah pekerjaan lillah yang kita maksudkan itu? Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Maun ayat 6-7 yang artinya:

“Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang yang lalai dalam salatnya”

Tidak ada yang mengetahui kapan usia kita akan berakhir kecuali Allah Swt, hal inilah yang seharusnya membuat kita untuk menyegerakan untuk melakukan amal saleh, bukan berdalih karena masih panjang waktu yang akan kita jalankan. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw memerintahkan kita agar segera melakukan amal-amal saleh.

Para ulama telah memperingatkan agar seseorang tidak menunda-nunda amalan, Al-Hasan berkata:  “Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan-amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini, adapun besok pagi belum tentu engkau memilikinnya. Jika engkau bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini”.

Marilah kita berpikir secara jernih, pernahkah kita sadar bahwa kebanyakan dari kita  lalai pada perintah Allah Swt, namun begitu takut lalai akan perintah manusia. Seharusnya hal inilah yang perlu kita balikkan. Terkadang mungkin bisa jadi kita membenarkan pernyataan “Perintah Tuhan saja kita tidak mengerjakannya, apalagi perintah manusia yang makhluk Tuhan?”, sudah seharusnya kita mematuhi perintah Allah Swt dan mematuhi perintah manusia (pemimpin) yang berada di jalan yang Allah Swt.

Maka, terkhusus untuk diri sendiri, marilah sama-sama kita memanfaatkan waktu di dalam hidup dengan sebaik-baiknya, dalam menjalankan perintah yang wajib, berorganisasi, belajar dan hal lainnya. Kita tidak pernah tahu bisa jadi akibat kita yang suka menunda-nunda keterterlambatan dapat mengganggu waktu orang lain, atau membuat orang lain menjadi bersikap suuzan terhadap kita.

Kita tidak akan bisa menjadi orang yang disiplin di hari esok, jika tidak dimulai dari hari ini. Ketika kita kehilangan uang atau barang, mungkin kita masih bisa mencari dan membelinya kembali, namun ketika kita kehilangan waktu, kita tidak mungkin dapat memutar jarum jam. Taat dan lakukanlah terlebih dahulu perintah Allah Swt sebelum berlanjut pada perintah manusia. Sesungguhnya ibadah (salat) itulah yang mencegah kita dari kemungkaran.

Editor: Shofiatul Husna Lubis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.