Demo Salah, Tak Demo Resah

0
Ilustrasi: Dok. Internet

Penulis: Isma Hidayati

Pernah ada kejadian anarkis di kampus, sampai mahasiswa yang terlibat memegang kayu dan besi untuk alat penyerangan. Itu menyeramkan, karena sampai ada yang luka di bagian kepala, mata, hingga bagian tubuh lain. Hanya darah dan bau amisnya yang ada di ruangan organisasi intra kampus. Ternyata itu cuma kesalahpahaman dan akibat dari tidak bisanya mengontrol emosi. Oh iya, itu di kampus III. Bukan di kampus V, tempat saya kuliah. Kampus V kala itu bersih, hening, tak pernah ada demo atau tindak anarkis lain.

“Diam-diam aja kampus kitakan,”
“Iya gak seru,”
“Buatlah demo, kaupun,”
“Cari pasukannya”
“Aman itu, kalau uda ada yang mulai,”
Itu real. percakapan dari dua lelaki yang duduk tak jauh dariku di kantin. Kenapa mereka memikirkan pasukan? Kenapa tak memikirkan isu apa yang sebenarnya mesti dijadikan alasan berdemo? Ya, walau mungkin percakapan mereka hanya bualan.

Demo memang sudah lumrah bagi kalangan mahasiswa, apalagi saat petinggi kampus tak lagi mendengarkan aspirasi mahasiswa secara personal, itu akan membuat mahasiswa yang kritis (barangkali) menjadi inisiatif mengajak yang lain untuk melakukan demo. Demo sudah ada sejak dulu, ingat Mahasiswa Trisakti yang melakukan aksi demonya? Itu menampakkan bahwa mahasiswa memang wajar mengeluarkan aksi semacam itu.

Berbeda halnya dengan mahasiswa yang doyan dan selalu melakukan demo, membosankan pun malah. dan membikin jalanan macat, polusi jadi tercemar karena ban yang dibakar mereka, juga tidak kondusifnya proses belajar di kelas. Ya, mau gimana lagi kejadiannya kalau mahasiswanya tak tahan jika tak berdemo. Sebenarnya ada acara-cara jitu untuk mengkritisi pimpinan universitas, apalagi pemerintah, tak melulu demo menjadi hal yang wajib. Karena demo hanya akan membikin lelah, meresahkan warga yang melintas, konon lagi ada yang terluka atas perlawanan dari aparat kepolisian.

1. Kritisi Personal

Minggu depan ada penaikan uang kuliah, tanpa klarifikasi atau penjelasan tertentu dari dosen, tahu-tahu sudah sok jagoan menyelamatkan mahasiswa yang harus membayar uang kuliah dalam jumlah yang lebih besar. Kalau mau berdemo ya silahkan, tapi harus tahu juga alasan masalah. Kenapa harus naik uang kuliahnya? Kenapa naik drastis? Tidak akan kehabisan pertanyaan kalau kita memang mahasiswa yang kritis.
Ingat, sudah mahasiswa itu bertindak sesuai otak, jangan bertindak sesuai emosi semata. Kalau-lah kritisi tak berhasil dan tak membuahkan hasil, nah disitu lah bisa kita lakukan Plan B, berdemo sehat (demo dengan membawa saran, dan tak mengacu pada keributan). Intinya kritisi dulu secara personal, atau biasa kita menyebutnya dengan tabayyun, atau klarifikasi.

2. Berfikir Positif

Sukanya cari ribut, kalau tak ada keributan rasanya banyak yang kurang menjadi mahasiswa. Dan itu pemikiran, juga gagasan kebanyakan mahasiswa, maka dari itu sukanya ribut; demo. Mulai-lah dari hal sederhana, kalau dari hati sudah berniat untuk berhenti menjadi mahasiswa yang apatis, apalagi anarkis. Seperti selalu berfikir positif. Sederhana bukan? Menjadi mahasiswa yang selalu berfikir positif kepada informasi dari pihak atasan?

Seperti informasi naiknya uang kuliah tadi, apa itu merugikan kita? Coba telisik lagi, berfikir positif saja, barangkali uangnya untuk menambah uang pembangunan gedung universitas, atau menambah alat praktikum dijurusan yang membutuhkan, dan karena kebutuhan yang sebenarnya memang sudah wajar bagi universitas.

Atau misalnya berfikir positif kepada informasi dilakukannya seminar yang wajib diikuti, yang diselenggarakan oleh pihak jurusan. Positif, jangan berfikir diadakannya seminar karena untuk ke-eksisan semata, atau karena keuntungan dari uang pendaftaran. Bisa jadi karena untuk memenuhi syarat menaikkan akreditasi jurusan atau fakultas, atau memberikan pemahaman pengetahuan urgen yang lebih lagi kepada mahasiswanya.

Berfikir positif tak sesulit yang kita bayangkan? Kalau kita terbiasa berfikir postif, kita tak menjadikan diri kita sebagai orang yang selalu emosional. Tapi, perlu diingat. Berfikir positif bukan melulu selalu mengatakan hal baik dari apa yang kita lihat. Intinya kritis dari apa yang kita terima. Paham dong, ya? Jangan lupa, berfikir positif, agar hasilnya baik-baik.

3. Gunakan Mahasiswa Berpengaruh

Presiden mahasiswa, senat mahasiswa, dewan eksekutif mahasiswa, himpunan mahasiswa jurusan, dan ada banyak lagi yang dikatakan mahasiswa berpengaruh, agaknya tak salah menggunakan atau meminta bantuan kepada mereka. Jelaskan tujuan dan maksud, dan minta agar mereka menjadi penyambung lidah keluhan mahasiswa yang suaranya seidkit didengar, untuk menyampaikan kepada atasan. Tak begitu sulit rasanya.

***

Jangan mengatakan mahasiswa yang tak pernah menurut ikut berdemo ialah lemah. Atau malah mengatakan tak kritis. Pun jangan mengatakan orang yang berdemo ialah bodoh, sukanya buang-buang tenaga. Di posisi manapun saat ini, kan intinya sudah mahasiswa. Ya tentu tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Tak mengapa jika hanya diam, dan mengkritisi secara tulisan. Dan tak mengapa pula demo, dengan tujuan yang baik, tidak ada menjatuhkan pihak manapun. Mari tabayyun dulu dari apa yang kita lihat.

Editor: Rindiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.