Addin Edisi 271: Kenapa Kita Diciptakan?

Ilustrasi: Mustika Khairunnisa

Oleh: Putri Intan Permatasari Sekedang

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribada kepada-Ku.”  (QS [51] : 56)

Kita sebagai manusia, makhluk Tuhan yang paling sempurna, yang paling istimewa, yang paling dimuliakan. Pernahkah berfikir untuk apa kita diciptakan? Seberapa lama kita akan berpijak pada bumi? Seperti apa tempat kembali kita?

Dalam hidup, akan begitu banyak hal-hal menarik yang membuat kita semakin lupa bahwa kita tak kekal adanya. Akan begitu banyak godaan-godaan yang  membuat kita semakin lupa bahwa, kita hanya seorang makhluk peminta-minta.

Kita mungkin lupa bahwa apapun yang kita miliki saat ini, termasuk baju yang kita kenakan, rumah yang kita tempati, harta yang kita kumpulkan, bahkan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, sejatinya semua hanyalah titipan. Lantas dengan semua yang kita miliki tersebut, pernahkah di fikiran kita tersirat; “Apakah dengan semua yang aku miliki saat ini, bisa menghantarkan aku ke Syurga milik Allah SWT?’’

 

Bukan kesalahan jika kita menginginkan sesuatu, bukan pula larangan jika kita mendambakan seseorang. Namun, sesuatu akan menjadi salah dan akan menjadi terlarang ketika ia sudah menjadi prioritas dalam hidup kita, ketika kita sudah menomorduakan tujuan penciptaan kita. Tentu telinga kita sudah tak asing dengan ayat ini ;

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku “hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau san mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS : Al Baqarah : 30).

Tentu kita diciptakan dan terlahir di muka bumi ini bukan tanpa alasan. Allah ta’ala menciptakan kita seluruh umat manusia pastinya dengan alasan yang bahkan kita tak pernah duga dan memang tidak akan bisa menduganya.. Hanya saja, kita sebagai manusia terlalu sibuk memperebutkan kenikmatan dunia yang jelas hanyalah sebuah kesia-siaan. Bukankah sudah jelas? Bahwa Allah ta’ala menciptakan kita di bumi ini sebagai seorang khalifah? Seorang pemimpin!

Kita tidak perlu memperdebatkan firman Allah yang bermakna kita harus menjadi seorang pemimpin, lantas kita berlagak hebat ingin menjadi seseorang yang memimpin suatu kelompok/golongan misalnya, bukan itu yang dimaksudkan. Namun, yang dimaksud adalah kita bisa menjadi seorang pemimpin atas diri kita terlebih dahulu. Memimpin diri kita agar senantiasa melaksanakan segala yang diperintahkan oleh Allah ta’ala dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya.

Sederhana bukan? “menjadi seorang pemimpin atas diri sendiri”. Ya, suatu kalimat yang cukup sederhana. Namun bagaimana dengan bentuk pengaplikasiannya? Banyak yang salah paham dengan kalimat itu. Seperti yang kita lihat pada zaman sekarang, terlalu banyak orang yang berlagak hebat, anggar kemampuan, melawan sana-sini, menjadi pemberontak hanya karna ingin menjadi pusat perhatian. Namun nyatanya? Seperti kata pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”.

Saudaraku.. pada dasarnya, Allah SWT menganugerahkan kita berpijak pada bumi ini bukan untuk menyulitkan kita. Melainkan, Allah ingin memperlihatkan kepada kita betapa agung ciptaan-Nya, betapa luar biasa kuasa-Nya. Sehingga, setiap kita membuka mata dan mengedipkannya, kita sadar bahwa penglihatan kita bisa berfungsi itu semata-mata atas kuasa Allah. Setiap kita melangkahkan kaki dan berjalan kesana-kemari pun semata-mata atas kuasa Allah ta’ala. Dan begitu banyak karunia yang Allah berikan pada kita yang bahkan kita sendiripun tak mampu untuk menghitungnya.

Nah pertanyaanya; “sudahkah kita gunakan seluruh karunia Allah tersebut untuk semakin mendekatkan diri kita pada Allah? Atau justru dengan segala karunia itu malah membuat kita menjadi seseorang yang tak tau diri ?”

Hanya diri kitalah yang tau jawabannya, hanya hati kita yang mampu menjawabnya. Yang perlu kita sadari adalah kita tak pernah tau berapa lama waktu kita untuk berpijak pada bumi Allah ta’ala. Sepanjang masa peradaban, belum ada satupun manusia yang mampu menciptakan alat untuk menerka masa depan dan sampai kapanpun tidak akan pernah ada. Karna pemegang skenario kehidupan hanya Allah ta’ala, tidak ada satupun makhluk yang bisa mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan selain Allah.

Maka sahabatku… bukankah dengan dijadikannya rahasia tentang masa depan seharusnya membuat kita menjadi pribadi yang semakin mendekatkan diri kepada Allah? Membuat kita menjadi seseorang yang memanfaatkan setiap nafas kita untuk menciptakan tempat terbaik nantinya di sisi Allah. Sebuah tempat yang pastinya akan menjadi tempat kita yang abadi, tempat kita yang kekal, sehingga kita tidak akan lagi mencari tempat untuk berpindah, karna itu adalah tempat terakhir untuk kita.

Lantas seperti apakah tempat yang kita inginkan?

Tentunya setiap dari kita ingin ditempatkan di tempat terbaik. Di tempat yang membuat kita lupa akan pahitnya kehidupan. Maka sahabatku, untuk mecapai tempat seperti itu kita membutuhkan sarana agar kita bisa sampai ke tempat yang kita dambakan. Lalu sarana seperti apakah yang kita perlukan untuk mencapai tempat terbaik di sisi Allah ta’ala?

Tidak banyak yang Allah pinta, cukuplah kita menjadi seorang hamba yang senantiasa beribadah untuk mencapai keridhaan Allah ta’ala dengan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Mari kita memantaskan diri untuk mendapat gelar terbaik disisi Allah, sehingga Allah menempatkan kita pada tempat terbaik pula. Jangan beputus asa, manfaatkanlah segala karunia yang Allah berikan sebagaimana semestinya. tidak harus bergelimang harta untuk membuat seorang hamba menjadi taat, sebab bukan kaya yang membuat kita menjad taat, namun dengan kita taat, kita akan menjadi kaya. Karena dalam hati kita, kita sudah yakin dan berpegang teguh bahwa Allah ta’ala yang akan mencukupi segala kebutuhan kita bahkan sampai maut menjemput kita.

Suatu ketika ada yang bertanya kepada Nabi :“kapan kiamat itu datang?”

Nabi menjawab :“apa yang sudah kamu persiapkan?” 

Sahabatku, lagi-lagi kita di singgung tentang sesuatu yang siapapun tak mampu menjawabnya. Maka satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sembari menunggu waktu kita berakhir adalah, mempersiapkan diri kita untuk menghadap Allah ta’ala. Ingatlah bahwa kita nantinya akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang sudah kita lakukan di bumi Allah ta’ala.

MAKA, SUDAH SIAPKAH KITA UNTUK MEMPERTANGGUNG-JAWABKANNYA?

Latest articles

Addin 311: Hikmah, Hadiah Terindah Dari Yang Maha Indah

“Hikmah adalah aset orang mukmin yang tercecer. Di mana pun ia menemukannya maka ialah yang paling berhak memilikinya.” (Hikmah) Dalam hidup sering kali kita bertemu...

Jalur UM-Mandiri 2020, UIN SU: Kuota 1300 Camaba

Medan, Dinamika Online – UIN SU membuka kuota 1300 untuk calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2020/2021. Hal tersebut berdasarkan pernyataan Yunni Salma, S.Ag.,...

Gelar Seminar, Sema FSH: Kita Gali Ilmu Pengetahuan Terhadap Hukum

Medan, Dinamika Online - Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) mengadakan seminar daring bertajuk "Menggagas Penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Era...

FEBI Lahirkan Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-73

Medan, Dinamika Online - UIN Sumatera Utara mewisudakan sebanyak 649 wisudawan/ti pada sidang senat terbuka. Wisuda ke-73 yang berlangsung di Aula Utama Kampus II...

5 Tips Berani Bicara, Himatika Adakan Diskusi Online

Medan, Dinamika Online – Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN SU adakan diskusi online dengan mengangkat tema “Berani Bicara, Tunjukkan Kualitas...