Addin 357: Jazirah Arab Sebelum Masuknya Islam

- Advertisement -

(Ilustrator: Lelya Hilda Amira Ritonga)

Penulis: Fikri Suhada

Bagaimana keadaan jazirah Arab sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah? Banyak ulama yang hanya menjelaskan kehidupan di jazirah Arab saat itu merupakan zaman jahiliah (kebodohan). Bangsa Arab terbagi atas dua bagian, yaitu penduduk gurun pasir dan penduduk negeri.

- Advertisement -

Sejarah penduduk gurun berawal sekitar 150 tahun sebelum kedatangan Islam. Terdiri dari berbagai macam suku yang suka berperang. Perang ini terjadi untuk bertahan hidup karena hukum di padang pasir adalah siapa yang kuat maka ialah yang berhak memiliki tempat-tempat berair dan padang rumput untuk menggembala binatang ternak. Sementara yang lemah akan kalah, mati, atau menjadi budak.

Sering terjadinya perang membuat para penduduk gurun pada masa itu tidak terlalu memikirkan tentang kebudayaan. Bahkan, jika ada yang berhasil menciptakan kebudayaan, maka perang selalu berhasil menghancurkannya. Di samping itu, hampir semua penduduk padang pasir buta huruf. Hal ini membuat mereka tidak memiliki peninggalan sejarah yang pasti, baik berupa bangunan atau tulisan yang menunjukkan bagaimana kehidupan mereka serta keberadaan mereka pada masa itu.

  Menurut Prof. Dr. Ahmad Syalabi, sejarah yang sampai kepada kita pada zaman itu bersumber dari kitab suci. Sejarah mereka bersumber dari syair dan cerita yang disampaikan oleh para perawi. Kehidupan Bangsa Arab di negeri bagian selatan sudah lebih tertata sebelum datangnya Islam, karena adanya Kerajaan Hirah dan Ghassan serta beberapa kota di Tanah Hijaz.

Masyarakat Arab disusun atas dasar klan atau kaum yang menjadi basis mereka. Kemah merupakan tempat yang dihuni oleh satu keluarga dan satu komponen dari kemah tersebut membentuk sebuah havy. Anggota sebuah havy kemudian menyusun sebuah klan, lalu klan yang mempunyai hubungan darah akan membentuk sebuah suku.

Syarat pokok menjadi anggota klan adalah adanya hubungan darah. Namun, seseorang dapat menjadi anggota klan tertentu dengan meneguk beberapa tetes darah dari anggota asli suku tersebut. Seorang budak yang dimerdekakan tetapi masih menggantungkan diri pada keluarga bekas tuannya akan berstatus sebagai klien (maula). Orang asing juga dapat meminta perlindungan dari sebuah suku. Mereka yang mendapat perlindungan disebut dakhil.

Perlindungan juga dapat diberikan kepada suku yang lemah secara keseluruhan, biasanya suku lemah yang meminta perlindungan kepada suku yang kuat, maka suku yang lemah tersebut akan menjadi bagian dari suku yang kuat. Beberapa suku bahkan membentuk konfederasi seperti Bani Thaiyyi, Ghathafan, Taghlib, dan lain-lain dari Arab Utara.

Pada masa itu, tidak ada pemerintahan atau badan yang secara resmi melindungi rakyat atau warga dari penganiayaan oleh siapa saja. Setiap suku dipimpin oleh seorang syekh yang dipilih langsung oleh anggota suku tersebut. Seorang syekh wajib memelihara adat, kebiasaan, ketertiban masyarakat, menjaga kehormatan klan, dan harus menjadi pemimpin perang. Syekh harus berkonsultasi dengan para pemimpin klan ketika hendak memutuskan persoalan hukum (adat), militer (perang), dan masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama.

Seorang syekh dapat jatuh dari jabatannya apabila dia sudah tidak dapat dipercaya lagi untuk menjadi seorang syekh. Anggota klan yang kehilangan kepercayaan kepada seorang syekh dapat menjatuhkan ia dari jabatannya. Ketaatan anggota klan untuk melaksanakan keputusan yang diberikan oleh syekh terhadap perkara pembunuhan mutlak diperlukan. Jika tidak, maka akan timbul goncangan dalam masyarakat yang akan berakibat runtuhnya suatu suku dikarenakan saling membunuh antara klan dengan alasan menuntut balas serta melakukan vendeta.

Kebiasaan melakukan balas dendam ini, sudah menjadi watak Bangsa Arab sebelum datangnya Islam. Suku menjadi tempat kesatuan yang mengikat warganya dengan ikatan darah, keturunan, serta ikatan kesukuan. Sukulah yang memiliki kewajiban untuk melindungi warganya dan melindungi orang yang meminta perlindungan atau bergabung dengan suku tersebut.

Itulah sebabnya sering kali terjadi perang antara suku. Peperangan ini bahkan bisa berlanjut ke beberapa generasi berikutnya. Setelah Islam datang, Ka’bah menjadi salah satu tiang agar tidak terjadi lagi peperangan antar suku. Ada larangan berperang atau melancarkan serangan pada Bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharam, dan Rajab.

Allah menurunkan Nabi Muhammad Salallallahu alaihi wassalam di tengah-tengah Bangsa Arab pada masa itu guna memperbaiki akhlak serta perilaku gemar berperang. Dengan turunnya Islam, terjadi banyak perubahan pada tatanan kehidupan Bangsa Arab dan membuat masyarakat menjadi lebih beradab, berakhlak, serta berperilaku baik sesuai dengan ajaran Islam.  

Sumber: Sejarah Islam klasik, Dr. Wilaela, M.Ag. 

Biodata Penulis

  • Nama : Fikri Suhada
  • Fakultas : Ilmu Sosial
  • Jurusan : Sejarah Peradaban Islam
  • Semester : 2 (Dua)
  • Instagram : @Fikri.caspian

 

Share article

Latest articles