Addin 354: Bukan Sabar Jika Masih Berbatas, Bukan Ikhlas Jika Masih Merasa Sakit

- Advertisement -

(Ilustrator: Nurul Sakinah)

Penulis: Yunita

Keniscayaan ujian akan diberlakukan di diri serta harta setiap orang. Ujian di diri seorang berupa sakit fisik, kelemahan, peperangan, atau bentuk ujian lain. Ujian pada harta berupa kemelaratan, perampokan, dan lain sebagainya. Bisa jadi ujian dan cobaan itu melalui orang-orang sekitar. 

- Advertisement -

Ucapan serta sikap mereka bisa jadi membuat ketidaknyamanan, bahkan mengganggu keimanan kita. Tetapi, balasan bagi yang menghadapi semuanya dengan sikap sabar adalah kedudukan yang baik pada sisi Allah Subhanahu wa ta’ala

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman”. (QS. Al-Furqan: 75-76).

Secara etimologi, “sabar” berasal dari Bahasa Arab, صبربرا – صيبربر – صبربر yang artinya bersabar, tabah hati, dan berani. Dalam Bahasa Indonesia, tabah berarti tahan menghadapi cobaan, sabar, tenang, tidak tergesa-gesa, dan tidak terburu-buru nafsu. Sabar merupakan tindakan menahan diri dari sesuatu yg tidak berkenan di hati. Imam al-Ghazali mendefinisikan sabar menjadi ketetapan hati melaksanakan tuntutan agama menghadapi rayuan nafsu. 

Menjalankan ketaatan bukanlah perkara mudah, pada hakikatnya hanya akan melakukan hal yang disenanginya. Akankah kita berleha-leha menuruti hawa nafsu yang menghendaki kesenangan fana atau bergerak, tertatih, dan terus bangkit meski sakit serta tetap sabar untuk melaksanakan ketaatan serta menjauhkan diri dari kemaksiatan untuk terus mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sedangkan secara pokok, sabar juga dibagi menjadi dua, yaitu pertama, sabar jasmani: kesabaran dalam menerima serta melaksanakan perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti ibadah puasa atau sabar dalam peperangan membela kebenaran. Termasuk juga dalam kategori ini, sabar dalam mendapatkan cobaan-cobaan yang menimpa jasmani seperti penyakit, penganiayaan, serta semacamnya.

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya, Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al-Anbiya’: 83).

Kedua, sabar rohani: kemampuan menunda kehendak nafsu yang dapat mengantar pada kejelekan, seperti menahan amarah, atau menahan nafsu lainnya. Sesungguhnya setelah ujian itu akan ada kebaikan yang menyertainya, seperti yang telah digambarkan dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Dan jika Kami berikan rahmat Kami kepada manusia, kemudian (rahmat itu) Kami cabut kembali, pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih. Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, “Telah hilang bencana itu dariku”. Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga. Dan orang yang sabar, karena mengharap keridaan Tuhan, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan: orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)”. (QS. Hud: 9-11).

Kita harus meyakini bahwa Allah tidak akan menguji manusia melebihi batas kemampuannya, seperti dalam sabda Rasulullah: “Manusia yang paling berat cobaannya ialah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian orang-orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang selanjutnya. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami”. Sehingga bagaimana pun keadaan kita dapat melewati ujian itu, tetapi kebanyakan manusia tiada menyadari, sehingga dengan sedikit ujian dan cobaan banyak manusia yang berputus asa bahkan ingkar pada Tuhan.

Sikap sabar penting untuk kita tanamkan di dalam diri. Seseorang bisa menjadi sabar, jika memahami apa yang sedang terjadi dalam situasi tertentu dan punya tujuan besar, yaitu menjadi sebaik-baik hamba dan memperoleh keridaan-Nya. Sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)”. (QS. Sad: 44).

Keadaan apa pun menjadikan seorang Mukmin tetap istimewa dan mendatangkan kemaslahatan. Bersama ujian tumbuhlah sabar dan bersama nikmat dari Tuhan maka, semerbak pula aroma syukurnya. 

Selayaknya sebagai orang yang beriman kita harus bersabar, bertahan, dan tidak menjadi lemah semangat apabila ujian datang menghampiri. Sehingga keyakinannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala bertambah kokoh dan tetap dapat melaksanakan segala kewajiban. Kesabaran harus dipertahankan dalam segala hal. Oleh karena itu, kaum Muslim sepakat, kesabaran adalah wajib hukumnya, baik dalam melaksanakan kewajiban maupun meninggalkan yang dilarang Allah Subhanahu wa ta’ala

Kehancuran atau dampak buruk akan didapat seseorang ketika tidak memiliki perilaku sabar dan selalu tergesa-gesa terhadap apa yang diinginkan oleh dirinya dan melakukan apa yang menjadi keinginannya. Dia tidak menyadarinya bahwa kegembiraan dan kesenangan hatinya itu bersifat sementara sedang azab serta siksa sedang menanti akibat perbuatannya.  Seandainya dia sadar bahwa bencana masih dapat datang dalam berbagai bentuk, niscaya dia tidak akan melampaui batas dalam kegembiraan dan tidak juga terlena dengan berbagai kesenangan itu.

Ujian bukanlah sesuatu yang tercela. Kadang ada hal manis yang didapatkan melalui pahitnya ujian. Ketika sedang tertimpa berbagai musibah justru membuat kita semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan semakin tulus beribadah kepada-Nya. Maka, ketahuilah bahwa itu artinya karunia luar biasa yang didapatkan dari-Nya. Bersyukur serta jangan habiskan waktu dengan bersedih. Ingatlah, kita adalah seorang Mukmin dan kita sudah tahu, bagaimana sifat seorang Mukmin itu dalam menghadapi kesulitan, bukan?

Orang yang beriman tahu betul bagaimana menikmati hidup yang singkat di dunia ini, karena tiada yang akan abadi. Ujian dan nikmat akan datang silih berganti mengisi hari sampai tiba waktunya untuk pergi. Sabar akan mekar, ikhlas akan berbalas, semua akan ringan jika dilakukan dengan landasan keimanan dan cinta.

Biodata Penulis:

  • Nama : Yunita
  • Jurusan : Pendidikan Agama Islam
  • Fakultas : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
  • Semester : IV
  • Media Sosial : @Yunita_gp16 

Share article

Latest articles