Addin 355: 10 Wasiat Dari Surah Al-An’am

- Advertisement -

(Ilustrator: Tri Rahmat Diansa)

Penulis: Annisa Radika Pohan 

Surah Al-An’am yang artinya hewan ternak adalah surah ke-6 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada kelompok surah Makiyah, karena hampir seluruh ayat ini diturunkan di Makkah. Di dalam surah Al-An’am, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan sepuluh wasiat agar seseorang terjaga akidah atau keyakinannya dari penyimpangan agar terbimbing dalam sebuah kehidupan. 

- Advertisement -

Berikut 10 Wasiat Dalam Surah Al-An’am:

  1. Untuk tidak mempersekutukan sesuatu dengan Allah 

Menyekutukan Allah Subhanahu wa ta’ala atau berbuat syirik adalah pokok segala yang diharamkan dan induk segala dosa. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa ayat 48 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”.

2. Berbuat baiklah terhadap kedua orang tua

Keharusan berbuat baik terhadap kedua orang tua dan haramnya berbuat durhaka kepada mereka. Dalam salah satu hadis, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Keridaan Allah terletak pada keridaan kedua orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan kedua orang tua”. (H.R. At-tirmidzi dan disahihkan oleh Ibnu Hibban).

3. Tidak membunuh anak-anak karena takut kemiskinan

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-An’am ayat 151 yang artinya “Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka”.

4. Tidak mendekati perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi 

Wasiat yang mulia ini tentunya memiliki tujuan agar masyarakat Muslim itu bersih dari kebobrokan moral dan kekejian supaya menjadi masyarakat yang bersih luar dalamnya. Kekejian yang dimaksud adalah dosa-dosa besar, namun bisa dimaksudkan di sini secara lebih khusyuk adalah perbuatan zina. 

5. Tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah, melainkan dengan sesuatu yang benar

Allah telah menjaga jiwa manusia sehingga tidak boleh seseorang melenyapkan nyawa orang lain tanpa ada kebolehan dari syariat Allah. Sungguh agama Islam sangat keras tentang larangan membunuh jiwa tanpa hak. Pelaku pembunuhan menurut Islam merupakan kejahatan yang luar biasa kejinya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, ada tiga golongan yang boleh bagi penguasa untuk membunuh mereka, yaitu seorang yang melakukan perzinaan padahal dia sudah menikah, seorang yang membunuh orang lain dengan sengaja maka dia dihukum balas dengan dibunuh, dan yang ketiga adalah yang murtad dari agama Islam.  

6. Tidak mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat hingga ia dewasa

Ini merupakan wasiat Allah yang mengharuskan seseorang untuk memperhatikan dan menjaga anak yatim beserta hartanya. Seorang anak dikatakan yatim apabila bapaknya meninggal setelah ia balig.

Orang yang ditugasi merawat harta anak yatim hendaknya melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya, dengan tidak menzalimi hartanya sampai anak yatim itu balig dan bisa menjaga hartanya sendiri. 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa ayat 6 yang artinya “Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya”.

7. Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil

Allah Subhanahu wa ta’ala juga telah berfirman bahwa orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang hak seseorang, maka bagi mereka azab yang pedih. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-Mutaffifin ayat 1-3 yang artinya “Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi”.

Pesan Allah kepada manusia untuk berlaku jujur dalam menakar dan menimbangkan hak-hak orang agar para hamba tahu bahwa aktivitas mereka selalu dipantau oleh Allah. Agar mereka tahu bahwa baiknya keadaan mereka tatkala berpegang dengan petunjuk Allah, sedangkan kebinasaan akan datang tatkala mereka berpaling dari perintah Allah.  

8. Berlaku adil kepada setiap orang

Apabila kalian mengatakan suatu perkataan yang sifatnya memutuskan, menghukumi atau suatu persaksian, atau meluruskan suatu perkara maka hendaknya ucapan kalian itu bersumber dari kebenaran dan keadilan tanpa cenderung kepada hawa nafsu atau menyimpang karena suatu manfaat tertentu. Pada wasiat ini Allah meminta dari kita agar kita selalu bersama kejujuran dalam segala ucapan. 

Nabi bersabda yang artinya “Demi zat yang jiwa Muhammad di tangannya (Demi Allah), seandainya Fatimah putri itu mencuri, niscaya (Nabi) Muhammad (Bapaknya) akan memotong tangannya”.

9. Memenuhi janji kepada Allah 

Segala yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya untuk dilaksanakan atau dilarang untuk melakukannya, demikian pula apa yang Allah wasiatkan ini harus dijaga. Kita semua adalah hamba Allah yang harus tunduk kepada perintah-Nya. 

Orang yang senantiasa menepati perjanjian terhadap Allah adalah orang-orang yang benar-benar memiliki akal pikiran, di mana ia tahu tentang maslahat dirinya. 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Ar-Ra’du ayat 19-20 yang artinya “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian”.

10. Mengikuti jalan Allah ta’ala yang lurus

Jalannya Allah adalah agama Islam. Wajib atas manusia untuk mengikuti agama ini karena ia yang akan mengantarkan kepada surga. Jalan yang lurus adalah apa yang ditempuh oleh Nabi Muhammad serta para sahabat dan yang mengikuti mereka dalam beragama. Inilah satu-satunya jalan yang benar dalam beragama.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam surah Al-An’am ayat 153 yang artinya “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka itulah dia. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya”.

Demikian, Allah tutup wasiat-wasiat yang mulia dengan wasiat ini sebagai penekanan. Berpegang teguh dengan wasiat-wasiat sebelumnya merupakan jalan yang lurus untuk mengantarkan orang yang menjalankannya kepada keselamatan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat. 

Biodata Penulis :

  • Nama : Annisa Radika Pohan 
  • Jurusan : Ilmu Al-qur’an dan Tafsir
  • Fakultas : Ushuluddin dan Studi-studi Islam
  • Semester : 2
  • Instagram : annisa_pohan1702

Share article

Latest articles