Addin 352: Janji Nyata untuk Orang Bersyukur

- Advertisement -

(Ilustrator: Lelya Hilda Amira Ritonga)

Penulis: Adelini Siagian

 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

- Advertisement -

Kata syukur diartikan sebagai penghargaan yang dirasakan oleh tanggapan positif serupa yang ditunjukkan oleh penerima kebaikan, hadiah, bantuan, nikmat, atau jenis kemurahan hati lainnya. Bersyukur merupakan kewajiban manusia selama jiwa masih ada dalam tubuh. Tidak hanya rasa syukur kepada sesama manusia, tetapi yang lebih utama kepada Allah atas nikmatnya yang begitu besar. 

Bersyukur dengan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat dan rezeki yang didapatkan merupakan karunia dari Allah. Dengan begitu, akan muncul sikap menerima karunia yang diberikan dengan penuh rasa ikhlas tanpa kecewa atau keberatan meskipun nikmat yang diharapkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Syukur berarti rasa terima kasih atas nikmat yang telah diberikan dan menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridai Allah.

Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 125 yang artinya: “Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. Allah senantiasa bersama dengan orang yang selalu bersyukur kepadanya dan tidak kufur terhadap nikmatnya.

Tidak mudah bangkit dalam keadaan terpuruk. Tetapi akan terasa indah ketika menyadari bahwa Allah sedang menyapa dengan kasih sayang-Nya. Tidak mudah memberi, ketika diri sendiri dalam keadaan kekurangan, tetapi akan terasa indah ketika bisa membahagiakan orang lain bukan membahagiakan diri sendiri. Untuk mengawali kebahagiaan yang akan diberikan Allah sebagai penggantinya. Tidak mudah menghadapi penderitaan dan cobaan yang terus mendera. Tetapi semua itu akan terasa indah ketika adanya rasa syukur dan berharap mendapatkan rida dari Allah.

Dalam Islam, syukur terbagi menjadi tiga: pertama, bersyukur dengan lisan. Orang yang bersyukur akan senantiasa memuji Tuhannya, mengucapkan hamdalah jika mendapat nikmat, beristigfar jika melakukan kesalahan, mengucapkan subhanallah jika melihat ciptaan-Nya, menasehati saudaranya yang salah, sehingga bentuk syukur dengan lisan adalah dengan memuji sang pemberi nikmat yaitu Allah

Kedua, bersyukur dengan hati, yaitu mengingat dan menggambarkan kenikmatan itu semata karena anugrah Allah Yang Maha Kuasa. Ketiga, bersyukur dengan amal perbuatan, hal ini dapat dilakukan melalui perbuataan ketaatan, seperti memberikan banyak kebaikan kepada orang lain, bersyukur, perilaku yang baik, santun, jujur, dan beramah-tamah. Ketiga hal inilah yang paling penting dalam kehidupan sekarang.

Bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan-Nya merupakan keharusan manusia, baik dilihat dari sudut fitrahnya maupun berdasarkan hukum Islam. Manfaat yang diperoleh dari rasa syukur itu sebenarnya dirasakan oleh manusia yang bersangkutan, antara lain memelihara nikmat yang ada dan melipat gandakan nikmat tersebut dengan nikmat lain yang berlimpah ruah.

Hakikat syukur adalah mengakui nikmat Allah, karena Dialah pemilik karunia dan pemberi, sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Kemudian direalisasikan dengan anggota badan dengan merasa tunduk kepada pemberi nikmat itu. Dengan demikian, syukur merupakan pekerjaan hati dan anggota badan.

Adapun yang berhubungan dengan hati adalah bermaksud baik kepada semua makhluk dan menjadikan hal itu sebagai niat yang selalu tersimpan di dalam hatinya. 

Yang berkaitan dengan lisan yaitu, mengungkapkan rasa syukur kepada Allah dengan bertahmid dan pujian-pujian yang dapat diartikan sebagai pujian kepada-Nya. Sementara yang berhubungan dengan anggota tubuh ialah menggunakan seluruh kenikmatan yang telah dianugrahkan oleh Allah dalam misi ketaatan dan ketakwaan kepada-Nya, dan menjauhkannya dari kemaksiatan.

Cara mensyukuri kedua mata ialah merahasiakan setiap aib orang Islam yang dilihatnya. Mensyukuri kedua telinga dapat dilakukan dengan menutupi setiap aib yang didengarnya. Demikian pula halnya dengan anggota-anggota tubuh yang lain. Syukur dengan lisan dapat dilakukan dengan mengekspresikan keridaan terhadap hal-hal yang diperintahkan oleh Allah.

Mensyukuri atas segala nikmat-Nya akan membawa banyak manfaat bagi manusia. Di antara manfaat bersyukur adalah sebagai berikut: Allah akan menambah nikmat-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim ayat 7). 

Allah tidak menyiksa hamba yang bersyukur dan beriman, bahkan memberi pahala atas amalannya, menambahkan nikmat-Nya, dan memaafkan kesalahannya. “Mengapa Allah Subhanahu wa ta’ala akan menyikasamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. (QS. An-Nisa: 147).

Memiliki derajat yang sama dengan orang puasa, apabila seseorang tersebut selalu bersyukur, yaitu orang yang mematuhi perintah-Nya dan selalu mendampingi Nabi-Nya. Rasulullah bersabda: “Orang yang makan dan pandai bersyukur derajatnya sama dengan orang puasa yang sabar”. (HR. Tirmidzi). 

Allah pasti memberi balasan orang yang bersyukur. Barang siapa yang niatnya untuk mendapatkan pahala akhirat maka Allah akan membalasnya dengan pahala akhirat. Sebagaimana firman-Nya yang berarti: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imran: 145). 

Allah memperlihatkan tanda kebesaran-Nya bagi hamba yang bersyukur. “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur”. (QS. Al-A’raf:58). 

Biodata Penulis:

  • Nama: Adelini Siagian
  • Jurusan: Akuntansi Syariah
  • Fakultas: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
  • Semester: 2 (Dua)
  • Media sosial: @adelicc46

Share article

Latest articles