Addin 345: Awas! Eksistensimu Merendahkan Orang Lain

- Advertisement -

(Ilustrator/Mustika Khairunnisa)

Penulis : Isma Rahmadani

Mukmin yang satu dengan yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan antara sebagian dengan sebagian lainnya.” (HR. Bukhari)

- Advertisement -

Zaman semakin canggih, segala sesuatu menjadi lebih mudah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat. Namun, kita tidak bisa memungkiri bahwa mudaratnya pun juga tak terbendung, media sosial misalnya. Banyak orang yang berlomba untuk tampil eksis di jagat dunia maya, mengunggah berbagai aktivitas yang dilakukan hanya demi mendapatkan perhatian dan membangun citra yang baik untuk dirinya sendiri.

Tanpa disadari, justru itu merusak citra orang lain. Banyak orang berniat menolong, tetapi dengan satu kesalahan yang tidak disadari justru melukai hati orang yang ditolong. Mereka mungkin tidak menunjukkannya karena mereka butuh pertolongan, walaupun tahu harga diri yang menjadi taruhannya.

Hal itu disampaikan dengan jelas dalam Al-Qur’an: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah/5:2)

Tolong-menolong merupakan tonggak kekuatan bagi umat muslim. Inilah yang nantinya menjadi kekuatan untuk melindungi sesama muslim dari mara bahaya yang mengancam. Bukan hanya itu, saling membantu sesama akan membawa umat muslim dalam kehidupan yang lebih tentram dan harmonis. Oleh karena itu, kita berkewajiban membangun kerja sama dan saling mengulurkan tangan untuk menolong sesamanya. Tidak peduli seberapa besar ataupun kecilnya perbuatan baik yang kita lakukan selama itu diiringi dengan keikhlasan dan ketulusan hati.

Sayangnya, seringkali pertolongan yang kita berikan justru menjadi bumerang dan menyakiti hati orang yang ditolong. Bagaimana tidak? Kebanyakan kaum milenial lebih ingin menonjolkan eksistensinya di dunia maya daripada menolong sesamanya tanpa pamrih. Kegiatan bersedekah dijadikan sebagai konten pendongkrak popularitas dan formalitas di mata publik. Sungguh ironi ketika keterpurukan orang lain dijadikan santapan publik.

Terkadang, kita berniat baik, ingin membantu seseorang yang sedang dalam kesulitan. Memberi mereka sedikit dari rezeki yang kita miliki dan membuat mereka merasa bahagia, sayangnya itu tidak akan membahagiakan untuk mereka. Ketika mengarahkan lensa kamera pada mereka kita berdalih ingin mengabadikan momen ini agar orang lain tahu di luar sana banyak orang yang membutuhkan, bermaksud untuk mengajak orang lain berbuat kebaikan. Namun, kita lupa ada seseorang yang harus tercabik harga dirinya hanya karena niat baik kita.

Mari kita tukar posisinya, bayangkan saat kita sedang sangat membutuhkan pertolongan orang lain. Lalu, seseorang datang dan memberikan apa yang kita butuhkan. Tentu ada rasa terharu dan juga bahagia ketika seseorang yang tidak kita kenal datang dan menolong kita. Namun, seseorang itu kemudian mengeluarkan kameranya dan memotret kita bermaksud untuk mengunggahnya di media sosial. Apa yang kita rasakan? Kecewa, pasti. kita akan berpikir, wajah kita akan terpampang di salah satu platform media sosial sebagai seseorang yang “membutuhkan”. Pasti malu, sedih, tetapi tidak bisa berbuat apa pun karena kita memang sedang sangat membutuhkan pertolongannya sekalipun harga diri taruhannya. 

 Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.” (HR. Ath-Thabrani, Al-Muj’am Al-Ausath)

Pertanyaannya, apakah dengan pertolongan kita, orang lain benar-benar tertolong? Apakah pertolongan kita sungguh bermanfaat? Dan yang paling penting, apakah pertolongan kita tidak melukai harga diri orang lain? Pernah suatu ketika, seorang wanita ingin memberikan sedikit rezekinya pada seorang kakek pemulung. Ketika ia berniat pergi, kakek tersebut bertanya, “Mbak, tidak di foto dahulu?” tanyanya. Mendengar pertanyaan sang kakek, wanita tersebut balas bertanya, “Untuk apa, Kek?” tanyanya. “Biasanya, Mbak, yang kasih sedekah sering minta foto untuk diposting-posting itu,” jawabnya. “Memangnya Kakek tidak keberatan?” tanya wanita itu. Lantas sang kakek menjawab, “Saya ini orang kecil, kalau kebanyakan gengsi dan keberatan, ya, saya tidak bakal makan.”

Lewat ucapan kakek tersebut, kita menyadari bahwa mereka yang terpaksa mengakui sebagai orang kecil tidak bisa melakukan apa pun untuk menunjukkan protesnya. Mereka merelakan harga dirinya tercabik hanya demi sesuap nasi dan bantuan dari kita. Lalu, yang pada awalnya berniat baik, justru menyinggung harga diri mereka. 

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah/2:271)

Dari ayat tersebut, dapat dipahami bahwasannya bersedekah secara terbuka maupun tertutup adalah hal yang baik, akan tetapi jauh lebih baik jika melakukannya secara tertutup. Dengan bersedekah tanpa mengunggahnya di media sosial ataupun publik, lebih mendekatkan diri kita pada keikhlasan dan jauh dari ria sekaligus menjaga perasaan orang yang kita tolong. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang menjaga perasaan saudaranya. 

Di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, banyak saudara kita yang terpaksa harus kehilangan mata pencahariannya. Hal ini berdampak pada keadaan ekonominya. Di sinilah seharusnya kita tergerak untuk memberikan sebagian dari rezeki kita kepada yang membutuhkan. Tidak perlu menunjukkannya kepada publik dengan mengunggahnya di media sosial, Allah maha mengetahui apa yang hambanya kerjakan. Jadikan keadaan seperti ini sebagai jalan beramal saleh dan penghapus dosa, bukan pendongkrak popularitas semata. Jadilah milenial yang mengedepankan tolong-menolong tanpa pamrih dari pada eksistensi yang merendahkan orang lain.

Nama : Isma Rahmadani

Jurusan : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial

Semester : III

No. HP : 083164176910

Facebook : Isma Rahmadani

Instagram : @ismarahmadani_

Share article

Latest articles