Addin 337: Jangan Sakiti Saudaramu dengan Lisanmu

(Ilustrator/Syifa Zanjabila)

Penulis: Yosya Putri Ritonga

“Lidah itu seperti singa, jika kamu membiarkannya lepas, ia akan melukai seseorang.Ali bin Abi Thalib

Lisan merupakan kata-kata yang diucapkan seseorang kepada orang lain. Hati seseorang mempunyai kaitan yang erat dengan lisannya. Lisan yang baik mencerminkan hati yang baik. Kalau hatinya bersih, pasti setiap lisan yang dikeluarkan oleh seseorang juga akan baik. Sebaliknya, kalau lisannya digunakan hanya untuk mencaci, menghina dan menyakiti orang lain, kemungkinan hati seseorang tersebut jelek. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuan menjaga lisannya”. (HR. Bukhari)

Apa maksud dari hadis di atas? Maksud dari hadis tersebut adalah jika seseorang tidak menjaga lisan yang dimilikinya, ia akan mendapatkan suatu yang tidak baik, yaitu hidup yang tidak tenang dan tidak nyaman. Tak hanya itu, jika seseorang terlalu banyak mengeluarkan kata-kata yang jelek, akan menyebabkan titik hitam di hatinya sehingga dapat merusak hati. Dengan rusaknya hati, seseorang akan sulit untuk menerima kebaikan dari orang lain.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam juga bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam”. Dari hadis ini hanya terdapat dua pilihan, yaitu berkata baik atau diam. Hanya dua pilihan tersebut dan tidak ada pilihan ketiga atau keempat. Maka, apabila kita tidak mampu untuk berbicara baik, sebaiknya diam. Apabila diibaratkan dinilainya berbicara sebagai perak, jauh lebih mahal diam, karena dinilai sebagai emas.

Lisan tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi juga dapat mengantarkan kita ke neraka. Banyak dari kita yang banyak berbicara, tetapi tidak memperhatikan dan menilai dari pembicaraan yang dilontarkan. Dengan lisan yang tidak baik pula dapat menyebabkan kemurkaan Allah Subhanahu wa ta’ala, Dia juga berfirman dalam Q.S. alpHujurat ayat 11.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Makna dari ayat ini adalah janganlah di antara kita ada seseorang yang menghina, mencaci orang lain. Bisa jadi orang yang dihina itu lebih baik di sisi Allah dibandingkan kita. Dan janganlah kalian mencela saudara-saudara kalian sendiri, karena kedudukan mereka seperti kalian sendiri, serta janganlah sebagian dari kalian memanggil sebagian yang lain dengan julukan yang tidak disukainya.

Seburuk-buruk penamaan seseorang adalah panggilan fasik dan kafir, sedangkan dia beriman. Penghinaan merupakan salah satu sebab yang menimbulkan pertikaian, maka Allah melarang orang-orang beriman menghina orang lain. Sebab, bisa jadi orang yang dihina lebih baik dari orang yang menghina.

Setiap perkataan yang kita keluarkan kepada orang lain yang hanya untuk mencaci seseorang itu mencerminkan kepribadiannya sendiri. Setiap kata yang kita keluarkan bahkan jika hanya satu kata, dapat membawa kita ke neraka selama 70 tahun apabila itu mencela orang lain. Jadi, bayangkan bagaimana jika kita menggunakan lisan kita hanya untuk mencela, memaki dan bahkan menghina seseorang dengan perkataan kita? Nauzubillahmindzalik.

Kita bisa melihat sebagian orang hanya mampu berbicara panjang lebar tanpa memikirkan apa yang dikeluarkannya baik atau buruk, sehingga itulah yang dapat menyebabkan orang yang didekatnya merasa sakit hati dan dapat mendatangkan kemurkaan Allah kepadanya. Alangkah indahnya, jika kita mampu menjaga lisan yang kita miliki ini agar tidak menyakiti perasaan orang lain.

Hari ini yang mampu berbicara adalah mulut kita. Namun sewaktu-waktu nanti mulut akan ditutup oleh-Nya. Maka dari itu, jangan gunakan lisanmu untuk mencela satu sama lainnya. Kalau kita ingin tenang dalam hidup ini, gunakanlah nikmat mulut untuk berkata yang baik. Menggunakan mulut untuk berbicara yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak. Mensyukuri nikmat yang sudah diberikan oleh-Nya dengan banyak berzikir.

Biodata Diri:

  • Nama: Yosya Putri Ritonga
  • Jurusan: Komunikasi Penyiaran Islam
  • Fakultas: Dakwah dan Komunikasi
  • Semester: V
  • No. Hp: 082363811452
  • Sosmed: ig: yosyaputri_r