Addin 336: Mengendalikan Amarah dalam Islam

(Ilustrator/Ditanti Chica Novri)

Penulis: Derani

“Amarah adalah emosi yang ditandai oleh pertentangan terhadap seseorang atau perasaan setelah diperlakukannya hal yang tidak menyenangkan.

Marah adalah hal wajar yang pernah dirasakan semua orang. Namun, perlu kita ketahui bahwa marah yang begitu hebat serta terus-menerus bisa sangat mengganggu dan merugikan diri sendiri. Di sekitar kita, pasti pernah melihat orang yang marahnya tidak bisa dikontrol dan juga berlebihan. Atau kita melihat diri kita sendiri yang terkadang masih tidak bisa mengontrol amarah kita dengan baik.

“Apa, sih, tujuan kita untuk marah?Apa gunanya marah ?

Mari kita renungkan sejenak. Terkadang, orang-orang merasa, dengan marah dirinya tidak bisa terkalahkan, menganggap dirinya hebat dan sebagainya. Padahal, marah itu sangat sedikit manfaatnya. Menurut beberapa orang, marah bisa membuat bahagia, karena ia melampiaskan kekesalan tersebut kepada sesuatu. Namun, pelu kita ketahui, pada kebanyakan orang-orang yang amarahnya sedang memuncak akan ada penyesalan di akhir waktu.

Ia akan berpikir, “Mengapa aku tadi begini ya? Astagfirullah, menyesal banget udah marah. Malu banget, ya Allah, tadi marah-marah enggak jelas”.  Sebab, jika seseorang sedang marah ataupun amarahnya sedang memuncak, ia sulit untuk mengontrol dirinya dengan baik. Marah adalah hal yang lumrah dan tidak dilarang. Namun, bisa dilakukan dengan berbagai alasan.

Seperti Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam, beliau bukannya tidak pernah marah, tetapi bahkan beliau sangat marah bila melihat ataupun mendengar suatu yang dibenci Allah Subḥānahu wa ta’āla dan itu dilakukan oleh umatnya. Beliau tidak pernah marah, apabila ada yang mencela hanya menuju kepada pribadi dirinya sendiri.

Pemicu yang menimbulkan sampai terjadinya emosi, yaitu syahwat, keinginan, kemarahan, kecemasan, dan juga nafsu. Itulah sifat dasar yang pada umumnya dimiliki oleh manusia, sehingga apabila terhalang atau tidak dapat dipenuhi bisa meningkatkan gejolak emosi dan mendorong seseorang untuk mencari keseimbangan dalam memenuhi tuntutan tersebut.

Allah Subḥānahu wa ta’āla memberikan dua kekuatan. Fujur: kekuatan yang mengajak manusia untuk memuaskan keinginan nafsunya dan takwa: mengarahkan keinginan manusia ke arah yang positif, seperti bisa mengendalikan serta mengontrol sesuatu untuk mencapai tingkat ketakwaan. Kedua kekuatan itulah yang diberikan oleh Allah subḥānahu wa ta’āla kepada hamba-Nya.

Di dalam agama Islam juga sudah diajarkan tentang mengendalikan amarah dengan baik. Cara ini telah dituntukan oleh wahyu dan juga tuntunan Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Mengendalikan amarah ialah salah satu cara memanajemen kalbu, seperti halnya bisa mengendalikan amarah dan bisa mengontrol diri, karena jika dua itu tak dapat diterapkan, akan terjadi penyesalasan bagi diri kita.

Jika kita mengikuti beberapa ajaran sunah untuk mengendalikan amarah, Rasulullah  Sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari 5763 dan Muslim 2609)

Kalau kamu adalah salah satu orang yang mampu menahan diri saat marah atau bisa mengendalikan dirimu saat marah, selamat! Kamu adalah orang kuat.

Berikut beberapa tip untuk kamu yang ingin mengendalikan amarah:

  1. Mengubah posisi

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

  1. Hendaklah diam dahulu

Terkadang, orang yang sedang marah bisa mengatakan sesuatu yang ia tidak sadari. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam”. (HR Ahmad)

  1. Berlindung kepada Allah Subḥānahu wa ta’āla

Marah itu berasal dari setan, maka amarah bisa direndam dengan cara memohon perlindungan kepada Allah subḥānahu wa ta’āla. Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika seseorang yang marah mengucapkan: A’uudzu billah (aku berlindung kepada Allah) niscaya akan reda kemarahannya”. (HR. Ibu ‘Adi dalam al-Kaamil)

  1. Berwudu

Dari Athiyyah as-Sa’di radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudu”.

  1. Bersabar

Jika terdapat perkataan atau perlakuan yang membuat diri marah, cobalah lebih bersabar. “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu’. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (Q.S. Az- Zumar ayat 10).

  1. Berpikir sebelum bertindak

Kita perlu memikirkan dampak yang akan terjadi ketika marah, karena bisa jadi dampak buruk yang kita dapatkan dan jangan sampai kita menyesal. Maka dari itu, kita harus bisa mengendalikan amarah kita dengan baik, jangan sampai amarahmu yang mengendalikan dirimu.

Biodata Penulis :

  • Nama : Derani
  • Status : Mahasiswi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKM, Semester III
  • No Hp : 08956263366868
  • Instagram : @derani