Addin 320: 6 Nasihat Berharga Meraih Hidup Bahagia

(Ilustrator/Syifa Zanjabila)

Penulis: Sania Arisa Sinaga

Ketenangan hati, kebahagiaan hidup dan hilangnya rasa gundah adalah impian setiap orang. Dengan kondisi batin seperti itulah kehidupan terasa damai, perasaan senang dan tentram akan dapat dicapai. Dan demi mendapatkan itu semua, ada beberapa faktor yang harus terpenuhi. Ada faktor dinniyah (keagamaan), faktor alami, dan faktor amaliah (perbuataan). Hanya orang-orang Mukmin yang mampu memenuhi ketiga faktor tersebut. Jika dilihat dari satu sisi, sebagian faktor-faktor tersebut dapat dicapai dengan jasa dan usaha para cendekiawan, akan tetapi banyak dari sisi-sisi lain yang justru lebih bermanfaat, dan lebih baik dalam jangka pendek dan jangka panjang, yang tidak mampu mereka dapatkan.

Ada sebagian orang yang sudah memenuhi sebagian besar dari faktor-faktor tersebut sehingga dapat hidup dengan baik dan tenang, namun ada sebagian lagi yang sama sekali belum bisa memenuhi faktor-faktor tersebut, sehingga mereka hidup sengsara dan tidak bahagia. Bahkan ada lagi yang setengah-setengah, hanya Allah-lah yang mampu memberikan pertolongan-Nya untuk menanggapi semua kebaikan dan menolak setiap mudarat.

1. Iman dan Amal Saleh

Faktor paling penting dan mendasar untuk menggapai kebahagiaan adalah iman dan amal saleh. Allah berfirman,

Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl : 97)

Di dalam ayat ini, Allah memberitakan dan menjanjikan bagi orang yang dapat memadukan antara iman dan amal saleh untuk mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan balasan yang baik pula di dunia dan akhirat. Alasannya sudah jelas, karena orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yang membuahkan amal saleh dan dapat memperbaiki kondisi hati, moral, tingkah lakunya, atau urusan keduniaan dan akhiratnya, berarti dia sudah mempunyai pondasi yang kuat untuk menghadapi segala kemungkinan baik yang mendatangkan kebahagiaan dan kesenangan, maupun kemungkinan buruk yang dapat mendatangkan keguncangan, kesempitan dan kesedihan.

2. Ilmu dan Konsentrasi

Di antara faktor yang dapat mengatasi guncangan jiwa karena tegangnya urat-urat saraf dan hati gelisah ialah menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas atau dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat. Aktivitas semacam ini, dapat mengalihkan perhatian hati seseorang dari hal-hal yang dapat mengguncangkannya. Bahkan mungkin, faktor-faktor yang mendatangkan kesedihan dan musibah, jiwanya menjadi senang dan semangatnya pun bertambah. Faktor-faktor semacam ini bisa berlaku bagi orang yang beriman dan tidak beriman, hanya saja, orang yang beriman unggul dengan keimanan dan keikhlasannya, ketika dia menyibukkan diri dengan ilmu yang dia pelajari atau yang di ajarkan juga dengan perbuatan baik yang dia lakukan.

Di antara hal yang juga dapat menolak kesedihan dan kegelisahan adalah mengonsentrasikan segenap pikiran pada pekerjaan yang ada pada hari itu, tidak memikirkan hal-hal yang akan datang atau kesedihan yang pernah terjadi. Karena itu, Nabi memohon perlindungan kepada Allah dari perasaan al-Hamm dan al-Huzn. al-Huzn artinya kesedihan atas hal yang telah berlalu yang sudah tidak mungkin ditolak dan diraih kembali. al-Hamm artinya kesedihan yang terjadi karena perasaan takut terhadap hal-hal yang akan datang. Dengan demikian, seorang hamba akan menjadi “Ibnu Yaumihi” (putra harinya), dia akan giat dan bersungguh-sungguh memperbaiki hari dan waktu yang ada pada saat itu.

3. Zikir, Ingat Nikmat dan Selalu Melihat ke Bawah

Zikir kepada Allah memberikan pengaruh ajaib guna mendapatkan kelapangan dada dan ketenangan, serta menghilangkan kesedihan dan kesusahan. Termasuk faktor utama yang mendatangkan sikap lapang dada dan ketenangan adalah banyak zikir kepada Allah. Allah berfirman,

“ Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” ( Ar-Ra’d : 28)

Zikir kepada Allah juga akan memberikan pengaruh yang besar di dalam menggapai kebahagiaan, karena zikir mempunyai keistimewaan dan karena adanya harapan hamba untuk mendapatkan pahala dan balasan Allah.

Di antara faktor kebahagiaan adalah mengingat-ingat dan membicarakan nikmat-nikmat Allah yang tampak maupun yang tidak tampak. Dengan mengetahui dan membicarakannya, niscaya Allah akan menolak kesedihan yang ada dan mendorong hamba untuk selalu bersyukur. Syukur adalah sikap yang sangat mulia dan terpuji walaupun seseorang berada di dalam kondisi fakir, sakit, dan tertimpa musibah serta berbagai macam ujian lainnnya. Jika seorang hamba ingin membandingkan antara nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung dengan jumlah musibah yang menimpanya, tentu musibah itu tiada artinya.

Termasuk faktor yang sangat mendukung dalam hal ini adalah mengikuti petunjuk Nabi Sallallahu alaihi waalaikumussalam dalam sebuah hadis sahih di mana beliau bersabda,

“ Lihatlah kepada orang-orang ada di bawah kalian dan janganlah kalian melihat kepada orang yang di atas kalian. Sesungguhnya hal ini lebih pantas dilakukan oleh kalian, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang dianugerahakann kepada kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Apabila seorang hamba meletakkan di depan matanya cara pandang  yang mulia ini, niscaya dia akan melihat bahwa dirinya lebih unggul di bandingkan sebagian besar orang di dalam masalah kesehatan, bagaimanapun kondisi dia yang sebenarnya. Dengan demikian, akan hilanglah kegelisahan, kesedihan, dan keluh kesahnya, kemudian bertambahlah perasaan senang dan harapannya untuk mendapatkan nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada orang-orang yang ada di atasnya.

4. Usaha dan Doa

Termasuk hal-hal yang dapat mendatangkan kesenangan dan menghilangkan kesedihan adalah berusaha menghilangkan faktor yang menyebabkan kesedihan tersebut dan berusaha mencari faktor yang dapat mendatangkan kesenangan yang di inginkan. Caranya yaitu, melupakan musibah-musibah yang sudah berlalu dan tidak mungkin bisa diatasi. Juga harus dipahami bahwa menyibukkan pikiran dengan hal-hal tersebut adalah perbuataan yang sia-sia, tidak berguna dan tidak baik.

Dengan demikian, dia berusaha agar hatinya tidak lagi memikirkan hal-hal tersebut, berusaha menghilangkan kegelisahan hatinya, kekurangan, perasaan takut, atau yang lainnya berupa kekhawatiran yang dia bayangkan akan terjadi di masa depan. Lantas dia memahami bahwa masa depan tidak bisa diketahui, termasuk di dalamnya masalah kebaikan, kejelekan, dan musibah. Semuanya hanya berada di tangan Allah. Manusia tidak berkuasa sedikitpun kecuali hanya berusaha mendapatkan kebaikan dan menolak kemudaratan.

Termasuk hal yang paling berguna untuk menyambut masa depan yang baik adalah dengan berdoa dengan doa yang pernah dipanjatkan Nabi yakni,

“Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan urusan pokokku, perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang ke sanalah tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini tambahan bagiku di dalam setiap kebaikan dan jadikanlah kematian itu terlepaskan bagiku dari setiap keburukan.” (HR.Muslim)

Apabila seorang hamba memanjatkan doa ini untuk kebaikan agama dan dunia pada masa yang akan datang dengan penuh konsentrasi dan niat yang benar, serta memang berusaha untuk itu, niscaya Allah akan mengabulkan doa, harapan, dan apa yang dia usahakan. Berubahlah kesedihannya menjadi kesenangan.

5. Tegar dan Tawakal

Salah satu cara ampuh untuk pengobatan penyakit saraf/kejiwaan bahkan penyakit-penyakit fisik adalah dengan menghadirkan hati yang kuat, tegar, dan tidak dipengaruhi oleh ilusi dan khayalan negatif. Sebab, bila seseorang sudah mau menerima khayalan-khaylan maka akan memberikan reaksi terhadap berbagai pengaruh dari luar, seperti perasaan marah dan merasa terganggu sekali dengan hal- hal yang menyakitkan karena memikirkan musibah yang menimpa, atau kenikmatan yang akan hilang. Semua itu akan menenggelamkannya di dalam kesedihan, penyakit jiwa maupun jasmani yang akan menghancurkan batinnya.

Jika kita bersandar kepada Allah bertawakal kepada-Nya, tidak menyerah pada prasangka-prasangka buruk, tidak dikuasai khayalan-khayalan negatif, yakin dan mengharapkan sekali karunia Allah maka akan terusirlah perasaan sedih dan hilanglah berbagai macam penyakit fisik dan jiwa. Hati bisa mendapatkan kekuatan, kelapangan dan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan. Orang yang sehat dan selamat adalah orang yang diselamatkan Allah dan diberi kekuatan untuk berusaha mendapatkan fakto-faktor yang menguatkan hati dan mengusir kegelisahannya. Allah berfirman,

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.”     (At-Thalaq: 13)

Artinya Allah akan mencukupkan untuknya segala apa yang dia butuhkan dari urusan agama dan dunianya. Maka orang bertawakal kepada Allah hatinya kuat, tidak dapat dipengaruhi oleh prasangka-prasangka buruk, tidak dapat diguncang oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi, sebab dia tahu bahwa hal itu termasuk tanda lemahnya jiwa dan perasaan takut yang tidak beralasan.

6. Tidak Membenci

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Tidak boleh seorang Mukmin (suami) membenci Mukminah (Istrinya), jika dia tidak menyenangi satu dari perilakunya, dia tentu menyukai perilaku yang lain.” ( HR.Muslim)

Pertama, hadis ini memberikan pengarahan bagaimana seharusnya memperlakukan istri, kerabat, teman, pekerja dan semua orang yang mempunyai hubungan dengan kita. Kita harus mempersiapkan mental kita, karena pasti akan ada aib, kekurangan, dan hal lain yang tidak kita senang.

Apabila kita mendapatkannya maka hendaklah kita membandingkan antara tingkah lakunya dengan apa yang seharusnya kita lakukan terhadap dia. Seperti menjaga hubungan dan kasih sayang yang terjalin sebelumnya. Juga mengingat segala kebaikannya. Dengan menutup mata dari kekurangan-kekurangannya dan memperhatikan kebaikan-kebaikannya, maka persahabatan dan hubungan akan tetap terjalin serta perasaan pun merasa tenang. Dengan diiringi waktu demi waktu menasehati dia akan perilakunya yang buruk agar jadi perilaku lebih baik dengan cara yang benar dalam Islam.

Barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk yang disebutkan Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam ini, bahkan menentangnya, melihat orang hanya kepada kejelekan-kejelekannya, menutup mata dari kebaika-kebaikannya niscaya dia pasti akan gundah, kasih sayang yang terjalin antara keduanya pun menjadi keruh, dan banyak hak yang seharusnya dijaga menjadi terputus seperti silaturahmi.

 

BIODATA

  • Nama  : Sania Arisa Sinaga
  • Fakultas : FUSI
  • Jurusan : Ilmu Al- Qur’an dan Tafsir
  • Semester : III
  • No hp : 0823-0448-4318
  • Instagram : @sania_arisasinaga24

Latest articles

Beramal Baiklah Layaknya Seperti Lebah

Penulis : Khoiriah Syafitri “Teruslah berbuat kebaikan dan jangan pernah bosan. Sebab tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan itu juga bahkan kebaikan yang lebih...

Masih Bertahan dalam Bosan?

Penulis: Muhammad Tri Rahmat Diansa Beberapa bulan sudah terlewat dan kita masih dipisahkan oleh jarak, sebab pandemi yang seolah tak ingin mengakhiri. Rasa bosan, jenuh,...

Tingkatkan Generasi Qur’ani, JPRMI Adakan Tablig Akbar

Medan, Dinamika Online - Dalam rangka meningkatkan generasi qur’ani organisasi Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) mengadakan kajian tabligh akbar dengan mengusung tema...

It’s Okay: Perjalanan Mencari Jati Diri

Judul : It's Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay Genre : Romansa-Drama Sutradara : Park Shin-woo Penulis : Jo...

Tatang Koswara: Sniper Kaliber Dunia

Judul buku : Satu Peluru Satu Musuh Jatuh: Tatang Koswara Sniper Kaliber Dunia Penulis : A. Winardi Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun...