Addin 317: Melangitkan Doa

(ILustrator: Putry Ayu Dahniar)

Penulis: Dina Zhafira

Dinamika kehidupan sering kali membawa kita ke tempat yang tidak kita duga. Musibah datang di luar perkiraan kita. Semua derita seakan menimpa kita begitu saja. Kata orang bak sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tuntutan ekonomi pun kian banyak, sesuatu yang dahulunya tidak kita rasa perlu, kini terasa sangat kita butuhkan. Kemampuan untuk dapat memenuhi tuntutan sosial menjadi sesuatu yang sangat krusial. Jika tidak terpenuhi sanksi sosial pun menjadi akibatnya.

Dalam hidup ini ada dua hal yang berbeda, ada yang berada di dalam kendali kita ada pula yang tidak dapat kita kendalikan sama sekali. Ada beberapa hal yang memang bisa kita ubah dan ada pula beberapa hal yang memang begitu adanya. Kemudian akan muncul pertanyaan, jadi kita harus apa dong? Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 216 yang artinya:

“…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Bila kita memandang sesuatu yang kita sukai ataupun tidak melalui kalamullah di atas tersirat bahwa pada dasarnya sesuatu yang terlewat olehmu bukanlah takdirmu dan sesuatu yang merupakan takdirmu takkan terlewat darimu.

Memang merupakan naluri alamiah manusia bila merasakan sedih jika sesuatu luput darinya dan gembira jika mendapat sesuatu. Namun, pernahkah kamu mengira apakah nikmat itu memang berupa nikmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala atau hanya sekadar nikmat yang berbalut ujian? Sering kali manusia lupa dengan Sang Pemberi Nikmat saat nikmat tersebut datang. Kita disibukkan dengan kesenangan-kesenangan yang sebenarnya semu. Karena kita tidak mengetahui mungkin dari salah satu nikmat tersebut terselip ujian di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Al-Hadid ayat 23 yang artinya:

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,”

Tersirat dalam ayat ini bahwa Allah menghendaki kita untuk tidak terlalu bersedih ataupun terlalu bergembira ketika kehilangan atau mendapatkan sesuatu.

Bersyukur ketika diberi nikmat dan sabar saat diberi ujian merupakan kunci menghadapi kehidupan yang dianjurkan oleh Rasulullah. Selain itu, ada satu senjata seorang mukmin yang tak boleh luput darinya, ialah doa. Doa adalah memohon dan meminta pertolongan Allah. Doa merupakan refleksi diri bahwa manusia sejatinya tidak mampu melakukan apapun tanpa bantuan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Doa sering kali diartikan sebagai hal yang dilakukan kala musibah atau ujian datang. Padahal doa bukan hanya dilakukan saat musibah datang tetapi setiap saat karena doa merupakan ibadah bagi kaum muslimin. Sebagaimana dikatakan dalam Hadis Nabi dari Nu’man bin Basyir ra., Rasulullah bersabda: “Doa adalah ibadah.” (H.R. Abu Daud, Tirmizi, Nasai, dan Ibnu Majah).

Selain sebagai bentuk permohonan dan penyerahan diri kepada Allah, doa sangat dianjurkan dilakukan karena doa memiliki keutamaan yaitu menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim untuk taat dan menjauhi maksiat, meringankan penderitaan dan kegundahan yang sedang kita alami serta sebagai jalan untuk memperoleh rahmat Allah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Mukmin ayat 60 yang artinya:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”

Berkaitan juga dengan doa, awal tahun 2020 ini kita disapa oleh sebuah pandemi yang tiba-tiba mewabah di seluruh dunia. Tak dimungkiri semua sektor kehidupan kita mulai terganggu secara perlahan. Rakyat kecil berteriak dan para pemimpin di atas sana pun mulai kelimpungan. Segala hal untuk memperbaiki semuanya untuk dapat kembali normal sudah dilakukan. Tetapi, kita semua masih menderita. Ada banyak orang di luar sana yang kita tidak tahu ceritanya. Mencari sesuap nasi saja susahnya minta ampun, apalagi harus mencari pekerjaan di tengah pandemi ini.

Bila kita memandang dari segi negatif, tentu saja ada banyak hal yang akan kita keluhkan. Ini itu tak akan selesai dikaji. Tetapi, bila kita coba memandang dari segi positif dari wabah ini dapat kita ambil hikmahnya. Bahwa mungkin saja, Allah ingin mengingatkan kita yang sering kali sombong. Merasa tidak bisa dikalahkan atau bahkan tidak bisa dijatuhkan. Tapi coba kita lihat, Covid-19 yang tak kasat mata ternyata bisa melumpuhkan satu dunia. Bisa jadi selama ini bukan Covid-19 yang mengganggu tetapi kita yang selama ini menggangu dunia dengan segala aktivitas kita yang merusak tanpa kita sadari.

Maka dari itu, ini adalah saatnya kita mengeluarkan senjata ampuh kita yaitu melangitkan doa. Berdoa demi kembalinya dunia kita ke kondisi semula. Di mana semua orang bebas bersilaturahmi, bertegur sapa, berkumpul untuk mengaji, dan meraup rezeki. Memohon ampun kepada-Nya atas segala dosa yang mungkin luput dari perhatian kita. Aisyah r.a menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Allah akan menghapus dosa orang yang akan terkena musibah, bahkan sampai duri yang menusuknya sekalipun”. (Muttafaqun Alaih)

Doa yang paling utama adalah yang berasal dari sanubari yang terdalam. Ketika kita berdoa hendaknya kita meyakini dengan sepenuh hati agar tercapainya doa tersebut. Dari Abu Hurairah ra Nabi Muhamamad Sallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Berdoalah kepada Allah sembari kalian yakin akan dijabahi. Sesungguhnya, Allah Ta’ala tidak menerima doa dari hati yang lalai dan main-main”. (HR. Tirmizi)

Selain itu, doa yang terbaik ialah doa yang dilakukan sembari berikhtiar. Kala pandemi seperti ini, memang semua orang terdampak baik dunia ekonomi, industri hingga pendidikan. Tetapi, hal ini tidak menghambat kita untuk sama-sama bergerak membantu sesama. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad sebagai berikut:

“Barangsiapa yang ingin agar dikabulkan doanya dan dikeluarkan dari kesulitannya maka hendaklah ia membantu orang yang sedang dalam kesulitan.”

Setelah berdoa dari hati sembari berikhtiar dengan segala upaya yang bisa kita lakukan.     Langkah berikutnya ialah tawakal. Tapi ikhwah, ada hal yang perlu diperhatikan bahwa tawakal yang dimaksud bukanlah tawakal yang berdiam diri tanpa melakukan apa pun. Sejatinya yang dimaksud dengan tawakal adalah raganya bekerja, hatinya yang bertawakal. Bukan diam saja kemudian bertawakal. Oleh karena itu, alangkah baiknya melangitkan doa diiringi pula dengan ikhtiar dan tawakal karena selama malam akan berganti menjadi pagi tidak ada alasan kita untuk terhenti.

  • Nama : Dina Zhafira
  • Fakultas : FITK
  • Jurusan : Pendidikan Matematika, Semester VI
  • No Hp: 085260327134
  • Instagram: dina_purba45

Latest articles

Beramal Baiklah Layaknya Seperti Lebah

Penulis : Khoiriah Syafitri “Teruslah berbuat kebaikan dan jangan pernah bosan. Sebab tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan itu juga bahkan kebaikan yang lebih...

Masih Bertahan dalam Bosan?

Penulis: Muhammad Tri Rahmat Diansa Beberapa bulan sudah terlewat dan kita masih dipisahkan oleh jarak, sebab pandemi yang seolah tak ingin mengakhiri. Rasa bosan, jenuh,...

Tingkatkan Generasi Qur’ani, JPRMI Adakan Tablig Akbar

Medan, Dinamika Online - Dalam rangka meningkatkan generasi qur’ani organisasi Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) mengadakan kajian tabligh akbar dengan mengusung tema...

It’s Okay: Perjalanan Mencari Jati Diri

Judul : It's Okay to Not Be Okay atau Psycho But It’s Okay Genre : Romansa-Drama Sutradara : Park Shin-woo Penulis : Jo...

Tatang Koswara: Sniper Kaliber Dunia

Judul buku : Satu Peluru Satu Musuh Jatuh: Tatang Koswara Sniper Kaliber Dunia Penulis : A. Winardi Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun...