Addiin 342: Perkaya Diri dengan Memberi

- Advertisement -

(Ilustrator/Leyla Amira Ritonga)

Penulis: Liza Nuarida Ulfah Barus

Memberi atau bersedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Amalan ini juga disenangi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, sebab salah satu pintu yang dibuka oleh Allah agar mendapatkan pahala sebesar-besarnya adalah dengan bersedekah. “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, 2588)

- Advertisement -

Harta tersebut akan diberkahi dan dihilangkan berbagai dampak negatif padanya. Kekurangan harta akan ditutup dengan keberkahannya. Jangan takut harta yang kita miliki semakin berkurang hanya karena bersedekah. Justru kita dapat memperkaya diri dan hati. Sesuai dengan firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah ayat 261 yang artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”.

Itulah janji Allah Subhanahu wa ta’ala, harta tersebut akan semakin bertambah dengan bersedekah. Bersedekah tidak terikat pada waktu, tidak terikat pada nominal, dan tidak pula terikat pada keadaan.

Bersedekah tidak terikat pada waktu

Kita dapat bersedekah baik di hari biasa maupun hari peringatan bagi kita. Contohnya, hari ulang tahun, bersyukur dengan cara berbagi kepada saudara sesama muslim yang membutuhkan. Kita akan mendapat berkah dan pastinya membawa kebahagiaan bagi mereka. Terlebih saat Ramadan, yang merupakan waktu paling baik untuk kita melakukan banyak amal termasuk sedekah.

Di bulan Ramadan, pahala yang dijanjikan pada kita akan dilipatgandakan. Karena itu, umat Islam dianjurkan berlomba-lomba mengeluarkan zakat dan sedekah pada bulan tersebut. Seperti zakat mal dan zakat fitrah yang dikeluarkan sebelum Idul Fitri. Memberi hidangan pada orang yang berpuasa juga amat besar pahalanya.

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi: 807, Ibnu Majah: 1746, dan Ahmad 5192—Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih)

Dari ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang Arab Baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan salat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi: 1984—Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan). 

Bersedekah tidak terikat pada nominal

Keutamaan bersedekah tidaklah berubah sekalipun nominal yang diberikan tidak banyak. Kita dianjurkan bersedekah baik dalam keadaan “berada” maupun saat sedang dalam kesulitan ekonomi. Mengapa dalam keadaan sulit tetap diutamakan untuk bersedekah? Sebab, dengan bersedekah diharapkan pintu rezeki akan segera dibukakan. Rezeki kita semakin bertambah sesuai dengan janji-Nya. Kita pun dapat meredam murka Allah dan menjadikan-Nya lebih sayang kepada hamba-Nya. 

Sedekah tidak hanya perihal uang atau barang. Sekalipun terdapat seorang hamba yang tidak memiliki harta apa pun, ia tetap dapat bersedekah dengan memberi senyuman. “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, ber-amar makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah.”

Riwayat tersebut tertuang dalam hadis Tirmizi dan Abu Dzar atas sabda Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bahwa sedekah tak sekadar mengeluarkan uang atau barang. Kisah turunnya sabda Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam ini muncul saat seorang sahabat bertanya. Sahabat tersebut hendak bersedekah kepada fakir miskin dan yatim piatu. Namun, kondisi ekonominya tidak memungkinkan untuk bersedekah, “ … kami ingin bersedekah, tetapi tidak memiliki apa pun. Lalu, apa yang bisa kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya?”

Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam menjelaskan kepada sahabat tersebut agar bersedekah melalui senyum mulai dari matahari terbit hingga terbenam. Memberi senyuman dengan ikhlas pada sekitar akan membawa kebahagiaan dan energi positif bagi orang yang menerima senyuman kita. Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku, kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasul selalu membudayakan untuk menebar senyuman kepada sekitar. Sebagai suri teladan, patutlah kita mengikuti perilaku Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam tersebut. Bahkan saat disakiti oleh kaum kafir pun, Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam tetap menjaga senyumnya dan sama sekali tidak berniat memberi balasan atas kejahatan para kafir. 

Dalam suatu riwayat dikisahkan, Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam mendatangi kota Ta’if untuk mengabarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Namun, yang terjadi justru sebelum beliau selesai menyampaikan risalahnya, langsung saja para penduduk Ta’if melempari beliau dengan batu. Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam pun berlari dengan menderita luka yang cukup parah. Giginya patah dan berdarah terkena lemparan batu.

Malaikat Jibril pun segera turun dan menawarkan bantuan kepada Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam. Malaikat Jibril berkata, “Wahai kekasih Allah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap mereka. Jika kau mau, aku akan membalikkan tanah yang menopang mereka sehingga mereka hilang tertelan bumi.”

Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam kemudian menjawab: “Jangan wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. Mungkin hari ini mereka menolak ajaranku, tetapi aku berharap anak cucu mereka di kemudian hari akan menjadi pengemban risalahku.” Betapa mulianya akhlak Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam meskipun darah menyucur dari tubuhnya akibat perilaku kaum kafir, beliau tetap memberikan senyuman hangat. Tak lupa pula untuk berharap agar orang-orang tersebut beserta turunannya dapat berada di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala

Bersedekah tidak terikat pada keadaan

“Setiap persendian manusia wajib disedekahi, setiap hari yang padanya matahari terbit. Beliau bersabda, “Mendamaikan antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, membantu seseorang dalam masalah kendaraannya lalu menaikkannya ke atas kendaraannya atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Beliau bersabda, “(Mengucapkan) kalimat yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dia berjalan menuju masjid untuk salat adalah sedekah dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadis ini, kita sangat dianjurkan untuk mengutamakan sedekah, senantiasa bersedekah, baik dengan harta, barang, senyuman, maupun akhlak-akhlak terpuji seperti yang disebutkan hadis tersebut. Baik dalam keadaan susah ataupun senang, senantiasalah bersedekah. Dalam keadaan susah sekalipun, kita dituntut untuk bersedekah, yaitu dengan senyuman atau apapun yang dimiliki dan dapat digunakan untuk berbagi. Begitu juga dalam keadaan senang (berada), seperti yang sering kita dengar bahwa di balik rezeki yang kita miliki terdapat bagian rezeki orang lain.

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bahagian”. (Q.S. Adz-Dzariyat: 19)

Dalam keadaan yang cukup, terkadang kita diuji. Saat harta berlimpah, kebutuhan, dan keinginan semakin banyak yang harus dipenuhi. Sehingga untuk mengeluarkan sebagian rezeki terasa sukar dan sayang. Sesungguhnya, dengan sedekah rezeki yang kita miliki akan bertambah berkahnya. Dengan sedekah pula akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga. Begitu indahnya amalan bersedekah, maka rugilah orang berada yang tidak mengutamakan sedekah dalam hidupnya. 

Masyallah, betapa dahsyatnya amalan sedekah. Selain memperkaya diri, dan hati, sedekah juga mendekatkan diri lkita kepada Sang Ilahi. Kehidupan diberkahi, dengan sedekah pula dosa kita dapat terampuni. Seperti yang tertuang pada sebuah hadis: “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi)

Biodata penulis:

Nama       : Liza Nuarida Ulfah Barus 

Prodi.        : Ilmu Komunikasi 

Semester  : III

Fakultas    : Ilmu Sosial 

WA             : 0853-7279-1814 

IG              : lizabrss_

Share article

Latest articles